Cerpen : Pengadilan

Posted in Cerpen on 21/02/2011 by ruangfahriasiza

(Dimuat di Tribun Jabar, Minggu 20 Februari 2011)

HARTOTO dituduh korupsi. Satpam menangkapnya. Lalu pimpinan menginterogasinya. Kemudian dibawa ke polisi. Disidik dan berkasnya dikirim ke Pengadilan. Di pengadilan, dia dihadapkan pada tiga orang hakim yang sudah punya nama. Jaksa penuntut umumnya pun bukan sembarangan. Hartoto enggan memakai pengacara. Bukan karena tidak yakin pengacara akan membelanya mati-matian, tapi Hartoto sanggup mengatasinya sendiri. Dia yakin, dirinya sebersih kertas putih.

Continue reading

Cerpen : Nyanyian Jiwa

Posted in Cerpen Remaja on 16/12/2010 by ruangfahriasiza

Rabu, 13 Agustus, pukul 22.00

Assalamu ‘alaikum, Buk.

Apa kabarmu di malam yang bening ini? Rasanya sudah hampir seminggu kita tidak berjumpa ya? Malam ini, kita berjumpa lagi. Di luar, begitu sunyi. Kamarku pun sepi, hanya berhiasan dinding-dinding yang hampa menatapku.

Buk, aku ingin bercerita padamu tentang sebuah dunia asing tak berpenghuni. Dunia itu masuk dalam mimpi-mimpiku beberapa malam ini. Dunia yang begitu aneh, dunia yang tak berujung dan tak berpangkal. Begitu putih, bening dan dingin. Di dunia itu, hanya aku seorang yang hidup. Hanya aku yang masih bertahan. Entah mengapa dalam mimpiku itu aku merasakan seperti itu. Padahal aku tidak tahu sebelumnya, dari mana dan bagaimana dunia itu tercipta. Continue reading

KESIAPAN MENJADI SEORANG PENULIS DAN MOTIVASI MENULIS

Posted in Pojok Mengarang on 16/12/2010 by ruangfahriasiza

Disampaikan pada acara Writing Novel di Universitas Airlangga, Surabaya, tanggal 27 November 2010

BILAkita membaca karangan seseorang, terkadang timbul pertanyaan.  Bagaimana orang itu bisa mengarang? Dari mana idenya? Perlukah diadakan riset, atau memang semata-mata khayalan belaka? Mengapa karangannya enak dibaca? Apakah dia terus mengerjakannya, atau ada masa-masa buntu? Bagaimana menyiasatinya?

Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya sangat mendasar, pun selalu ada bila kita hendak mulai mengarang. Satu yang tak bisa dilupakan, mengarang adalah ibadah (i.e tergantung jenis tulisannya), lantas, bagaimana cara mengarang yang meninggalkan setitik kesan bagi pembacanya?

Kita mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Continue reading

Cerpen : Marto Memetik Bulan

Posted in Cerpen on 16/12/2010 by ruangfahriasiza

Cerpen ini dimuat di antologi SURAT BUAT ABANG, 2005

YANG selalu dipikirkan Marto, hanya bulan. Terutama pada saat malam purnama. Marto bersikeras untuk bisa memetiknya. Dia berpikir, kalau memetik bulan tidak berbeda dengan memetik kelapa.

“Soalnya, kalau saja ada pohon bulan, seperti pohon kelapa, aku pasti dapat memetik bulan,” Marto tiba pada kesimpulannya. Setiap malam, yang ditunggu Marto hanya bulan. Saat senja tiba, Marto sudah duduk di beranda depan rumahnya yang di samping kanan kiri dipenuhi rimbunnya pohon cabe yang ditanamnya. Matanya lurus menatap langit. Bercahaya, penuh harapan yang melambung-lambungkan sukmanya. Yang diperhatikannya hanya bulan. “Satu saat, aku pasti akan memetiknya,” katanya pada angin dengan keyakinan setinggi puncak langit.

Continue reading

Cerpen : OPS!

Posted in Cerpen on 13/12/2010 by ruangfahriasiza

Dimuat di Harian Global, Sabtu, 11 Desember 2010

SUPERMAN diundang ke sebuah seminar yang diadakan di hotel berbintang lima di Jakarta. Manusia baja dari planet Krypton itu datang tepat pada waktunya. Orang-orang terpana melihat kegagahannya. Lampu blizt para fotografer dari berbagai media massa berkilat-kilat. Para reporter televisi dan radio sibuk melakukan liputan langsung. Suasana ramai, menggema.

Superman ternyata lebih gagah daripada yang ada di komik, novel, serial teve maupun dalam film layar lebar. Baju biru ketat yang terbuat dari bahan anti api, peluru, rudal maupun nuklir pas sekali pada tubuhnya yang berotot.

Continue reading

Catatan Tentang Cerpen Kupecahkan Matahari

Posted in Bedah Buku on 07/12/2010 by ruangfahriasiza

Dibacakan pada diskusi peluncuran antologi PERGI BERSAMA ANGIN, Penerbit Lazuardi, 2004 di Gramedia Depok, Sabtu 27 Maret 2004

SETIAP kali hendak membuat sebuah cerita baik itu novel atau pun cerpen, saya tidak pernah punya kiat khusus, atau rahasia khusus. Bila saya ingin menulis, ya, saya menulis. Tetap dengan tak punya kiat dan rahasia apa-apa.

Bagi saya, menulis sebuah cerita, sama halnya dengan melakukan sebuah hobi belaka, sebuah hobi yang pada akhirnya mungkin, juga menambah kocek kantong saya, meski kemudian habis juga untuk keperluan rumah tangga.

Proses Penulisan Cerita Pendek

Biasanya, saya hanya memerlukan waktu sekitar satu atau dua jam saja untuk menyelesaikan sebuah cerpen. Biasanya pula, seperti hakekatnya—cerpen adalah sebuah cerita yang habisa sekali baca—saya hanya memerlukan satu plot saja, tidak mencoba bermain dalam multi plot seperti halnya ketika menulis novel. Dan saya tidak berusaha mengejar sebuah bobot dalam penulisan cerpen saya. Karena, bagi saya, yang terbaik bagaimana mengolah kata-kata dan mempermainkan tokoh saya hingga bisa saja dia berada dalam kegamangan, atau kehisterisan. Itu sah-sah saja bagi saya, karena saya adalah pencipta mereka.

Tentang bobot itu sendiri, meskipun hanya satu plot saja, atau satu gagasan saja, saya berusaha untuk tiba pada bobot yang mengasyikan, hingga cerpen-cerpen saya terasa hidup dalam suasana magis. Magis di sini, saya mencoba menjerat para pembaca, agar dia terus menyelesaikan membaca cerpen yang saya buat.

Dan saya tidak berusaha untuk merangkum terlalu banyak ide-ide, gagasan-gagasan, peristiwa-peristiwa dan kehidupan dalam sebuah cerpen. Karena pada akhirnya, akan membuat cerpen-cerpen saya terasa berdesakan, saling sikut dan pada akhirnya hanya menjadi sebuah outline dari sebuah novel.

Saya tidak menggeneralisasikan bahwa cerpen-cerpen yang ada sekarang ini selalu berusaha mengejar bobot dengan memasukkan segala yang saya katakan tadi. Tapi, nampaknya penyakit seperti itu selalu mengendap dan terus memasuki sosok-sosok para penulis pemula. Ini memang bagus, tapi pada akhirnya, dia akan terjebak dengan kebingungannya sendiri.

Sementara style (proses penyampaian) saya, saya tetap mengandalkan dengan membuka sebuah konflik (baik tersirat maupun gamblang) dengan cara mempermainkan tokoh-tokoh saya. Dan biasanya, cerpen-cerpen saya itu hanya berlangsung dalam tempo satu atau dua hari, tapi dengan memadatkan seluruh cerita (ingat, bukan memaksa memasukkan seluruh ide, gagasan maupun peristiwa).

Tentang Tokoh

Ketika hendak menuliskan sebuah cerita, baik itu cerpen atau novel, saya lebih dulu memikirkan bagaimana dan siapa tokoh saya, tanpa perlu memikirkan cerita apa yang saya buat. Misalnya, seperti dalam Kupecahkan Matahari (cerpen ini pernah dimuat di majalah Hai, sekitar tahun 1995). Saya hanya perlu memikirkan tokoh, dia cowok, remaja. Itu saja yang saya pikirkan. Dan entah bagaimana datangnya, tiba-tiba saja sosok itu hidup dalam bayangan saya. Dia bisa bertindak semau dia, dia bisa berpikir semau dia, karena saya “tidak pernah” mendiktenya untuk ke mana dan mau apa.

Mengenai cerita, cerita pun mengalir begitu saja. Setelah mendapatkan sosok tokoh dan saya mulai menuliskan, semuanya keluar begitu saja tanpa mengalami proses yang sulit. Misalnya, pengendapan cerita, harus melihat kesana-kesini dulu, harus menunggu mood dll. Itu tak pernah saya lakukan. Karena saya tetap tidak percaya dengan yang dinamakan mood. Dalam hal mengarang, adalah dua kata yang tidak boleh dipercaya, yang pertama adalah : mood dan yang kedua : sulit.

Kupecahkan Matahari

Cerita ini mengetengahkan seorang anak muda yang bernama Sam, yang berada dalam kegamangan hidupnya karena dia tak bisa menerima kejadian demi kejadian yang terjadi di rumahnya. Dan memutuskan untuk pergi jauh dengan membawa amarah dan kekecewaannya.

Tanpa disadarinya dia sudah berada di dalam sebuah bus kota. Ingatan-ingatan tentang rumah menghantuinya, semakin membuat kemarahan dan kekecewaannya kian meninggi. Ketika itulah tiba-tiba satu peristiwa terjadi. Bus itu menabrak seorang pengendara motor. Dan orang-orang berubah menjadi beringas. Berubah sedemikian panasnya, mengalahkan panas matahari.

Itulah yang dirasakan Sam melihat kejadian itu. Hingga tanpa disadarinya sesuatu menyentuh titik temunya, hingga dia merasa, dalam menghadapi setiap persoalan, dia harus memadamkan dulu amarah dalam dadanya. Secara konotatif, matahari dalam dirinya.

Cerita ini saya garap dengan format yang sederhana. Tetap dengan cara penyampaian yang komunikatif dengan mempermainkan perasaan tokoh-tokoh saya (ini memang kerap saya lakukan). Saya tidak memasukkan banyak gagasan dan peristiwa, hanya sebuah jalinan yang cukup sederhana.

Tapi di sinilah letak “rahasia” dari cerpen-cerpen saya.

Catatan Terakhir

Saya selalu menyarankan, bila kita ingin menulis, menulislah tanpa harus takut apakah cerita itu berkenan atau tidak, bisa diterima orang banyak atau tidak. Tapi dari satu segi, kita sudah menuangkan gagasan-gagasan yang ada di benak kita (baik yang lama diendapkan atau muncul begitu saja).

Salam,

*Fahri Asiza


Cerpen : Kupecahkan Matahari

Posted in Cerpen Remaja on 07/12/2010 by ruangfahriasiza

TIBA-TIBA saja kepalanya pening. Tanpa sadar dipegangnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya tetap berpegang erat pada tiang yang menggantung horizontal di atas kepalanya.

Rasa pening yang tak tertahankan membuatnya harus memijat-mijat kepalanya. Tak ada perubahan. Justru semakin menyengat. Lebih menyakitkan, karena mendadak saja perutnya mual. Lebih mual lagi ketika penciumannya menangkap aroma memuakkan dari seorang ibu yang berdiri di sebelahnya. Entah minyak wangi model apa yang digunakan si Ibu.

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.