Cerpen Gunung Surgawi

Dimuat di Bangka Pos, Minggu, 28 Maret 2010

BILA kau bertanya di mana letak gunung Surgawi, sudah tentu tak akan pernah kuberikan jawabnya. Tetapi bila kau ingin mendengar kisah yang terjadi di gunung Surgawi, ah, dengan senang hati akan kuceritakan.

Aku yakin, kau pasti menganggapku berdusta, mana ada gunung Surgawi? Membuka di kitab mana pun, tak akan ada cerita tentang gunung Surgawi. Hei, jangan dulu menganggapku berdusta. Apa yang ingin kuceritakan ini benar adanya. Terserah kau hendak mempercayainya atau tidak.

Aku pernah datang ke gunung Surgawi. Sebuah tempat berpanorama surga—mungkin sesuai namanya. Bila kau pernah mendaki gunung-gunung di mana pun jua, pasti kau akan merasakan berkurangnya oksigen pada ketinggian tertentu, bahkan kau akan lebih merasakan tamparan angin yang dapat menghempaskanmu ke bumi—meski mungkin kau akan menghujamkan kuku-kukumu pada dinding-dinding kokohnya. Nah, itu salah satu bedanya dengan gunung Surgawi. Bila kau tiba pada puncaknya, napasmu akan bertambah segar. Jiwamu akan menari berdendang. Ragamu tak akan pernah terpuasi. Bila kau bercermin pada gumpalan kabut bening, kau akan memandangi wajahmu lebih muda dari usiamu yang sebenarnya.

Jangan berdusta padaku, pasti kau akan melemparkan bom seperti itu padaku. Mana ada kabut bening? Tidak, aku tidak pernah berdusta. Kabut di sana begitu bening hingga kau dapat bercermin. Tirisan airnya pun lebih segar dari jenis air mana pun. Coba tengok diriku, sosokku lebih bergairah dari yang lama. Aku telah berganti buku, telah berganti tulisan. Kisahku sendiri akan menjadi sebuah bibit unggul di kemudian hari.

Biarlah kuteruskan kisah gunung Surgawi yang elok dan memanjakan.

Bila kau memasukinya, kau akan merasakan putaran waktu yang berbeda. Bila ada yang mengatakan waktu tak akan pernah bersahabat, di gunung Surgawi waktu bisa dikendalikan. Dari pucuknya kau akan melihat lintangan kehidupan yang berbeda dari yang pernah kaurasakan. Semua mencucuk nurani hingga kau tak akan menyadari saat matamu berair karena takjub dengan segala keindahan. Benar-benar akan membuatmu ingin bertandang ke sana bukan?

Baiklah, kuteruskan lagi ceritaku ini. Penduduk yang bersemayam di sekitar gunung Surgawi memiliki keramahan khas dan senyum hangat. Tak ada wajah masam yang akan tersenyum bila ada kiriman, tak ada pula suara lantang yang akan melunak bila ada pemberian. Keramahannya kupikir telah tertangkap oleh telinga-telinga di gunung seberang. Barangkali sekali waktu gunung-gunung itu akan memerciki air-air berbau busuk karena ingin mencemarinya. Tetapi seperti dijaga oleh ribuan malaikat, gunung Surgawi selalu saja menguarkan wangi melati calon pengantin wanita.

“Ini duplikat surga,” pikirku sembari menatapi para gadis molek berwajah bidadari yang menghidangkan makanan dan minuman. Kehadiranku di sini disambut sangat ramah, melebihi protokoler kedatangan seorang presiden. Suara-suara yang terdengar pun mengalahkan merdunya penyanyi di belahan bumi mana pun, dan terkesan dapat meninabobokan.

“Anak dari mana?” tanya seorang yang kuyakini orang terhormat di sini. Tetapi ah, rasanya semua yang tinggal di sini adalah orang-orang terhormat. Bukankah hanya orang-orang terhormat yang bisa menyuguhkan keramahan tanpa maksud?

“Saya dari kampung kecil yang terletak di sudut bumi,” jawabku dengan gelisah yang mengigil, cemas takut suaraku akan merusak pendengaran mereka.

Lelaki itu tersenyum. “Selamat datang di gunung Surgawi.”

Berlama menikmati kenyamanan, membuatku tak ingin pulang. Aku yakin inilah tanah berpijak yang lama kucari. Lelah sudah telingaku mendengar keributan sesama di kampungku. Penat jiwaku menyaksikan perebutan lahan jagung di kampungku. Sejengkal tanah di kampungku berarti darah.

Kala malam dan terasa rembulan hanya sejarak dua meter dari ubun-ubun, para gadis di gunung Surgawi menari-nari indah. Tak ada aroma busuk di sini, semua menari sopan dengan pakaian lengkap yang menawan. Gerakannya membakar kesunyian. Aku benar-benar disuguhi berkat yang tak pernah kudapati sebelumnya.

“Bisakah saya tinggal di sini?” satu malam kuberikan ajukan pertanyaan yang sejak hari pertama kedatanganku, kupendam saja.

“Gunung Surgawi terbuka bagi siapa pun,” sahut seorang gadis yang menunduk malu-malu. Barangkali, selain memang keindahan gunung Surgawi yang telah menjeratkan, sosok mungil di sampingku ini yang membuat nuasana hatiku bergema.

“Itu berarti, aku pun bisa menjadi penduduk di sini?” tak tertahan kegembiraanku kala melihat dia mengangguk. Kuberanikan menggenggam tangannya. Dia terjengkit sejenak, lalu membiarkan tangannya kugenggam. “Kau mau menungguku bukan?”

Kali ini tak ada jawaban, gerakan pun tak terlihat. Tetapi kuyakini kalau dia setuju. Pagi hari (matahari di sini tidak bersinar menyengat, malah terasa sejuk hangat), aku berpamitan. Aku ingin menengok kampungku dulu. Aku akan mengiyakan orang-orang berdasi yang ngotot ingin membeli tanahku. Katanya, akan dibangun perumahan untuk kesejahteraan masyarakat di kampungku.

                                                                           ***

“Nah, apa pendapat kau sekarang?” tanyaku pada sahabatku yang tetap sinis.

“Aku tak percaya dengan ceritamu,” kau berkata dengan nada yang dingin sekali.

“Hei, sudah kuceritakan semua padamu. Tak ada yang kututupi, tak ada yang kutinggali.”

“Apalah yang hendak kaukatakan, aku tetap tak percaya.”

Kau meninggalkanku begitu saja, seolah aku hanya seonggok daging yang tak bermakna. Biarlah kalau kau tak percaya meski kuingat kata-katamu sebelum aku pergi meninggalkan kampung waktu lalu, “Di dunia ini, di belahan bumi mana pun, di negeri liliput sekali pun, yang ada hanya kemunafikan.”

Aku tertawa mengingat itu. Sayang, kau tak menyaksikan gunung Surgawi. Aku ingin sekali mengajak kau ke sana, tetapi, sudah tentu aku tak ingin berbagi keindahan dengan siapa pun. Kau mungkin tak paham maksudku, tetapi bila kukatakan, kau pasti akan menghantamku dengan bogemmu yang besar. Baiklah, biar kuutarakan saja dalam hati, “Karena aku tak ingin siapa pun mencemari gunung Surgawi.”

Orang-orang berdasi yang lima kali datang ke rumahku dengan wajah gusar dan amarah yang nampak, kali ini tersenyum ramah. Tiga orang sahabat kecilku yang selalu merayu, membujuk sekaligus menekan pun tersenyum melihat tanganku membubuhkan tanda persetujuan di surat-surat yang disodorkan. Ah, kurasakan sisi lain gunung Surgawi yang singgah di sini. Bila saja orang-orang di kampungku selalu tersenyum manis, mungkin aku tak pergi lagi ke gunung Surgawi.

“Penduduk kampung kita akan bahagia karena akan punya rumah yang lebih layak,” kata salah seorang sahabat kecilku sambil menepuk bahuku. “Kau akan berterimakasih pada mereka, yang akan membuat kampung kita menjadi kota paling indah.”

Aku hanya tersenyum dan kuberikan sedikit uang pada mereka yang semula menolak tetapi akhirnya mengambil juga dengan ucapan, “Kami tak pernah meminta ya.”

Aku tahu, mereka memang mengharapkan itu.

Tak ada bebanku lagi sekarang, aku bisa melenggang damai.

Pagi hari kutelusuri jalan dengan harapan membuncah ruah, bertinggal di gunung Surgawi dan bermanja dalam dekapan gadis yang kucinta. Matahari sepenggalah yang sengatannya biasa kadang menyakitkan, sekarang seperti sapuan hangat menerobos sanubari. Gemeresek daun jati yang kuyakini tak lama lagi akan berganti jalan-jalan lebar bagai iringan musik dari Lembah Sunyi. Derap bahagia terus berlagu, mengalun dan membawanya jauh hingga ke gunung Surgawi.

Seperti yang kukatakan dari awal, aku tak akan pernah memberitahu kau di mana letak gunung Surgawi. Jalannya pun kubedakan dengan langkah awal sebelumnya, agar tak ada yang bisa mengikutiku atau tak ada jejakku tertinggal. Jadi tak perlu kuceritakan jalan mana yang kutempuh agar tiba di sana.

Aroma melati sudah tercium sejarak beberapa kilometer. Sapuan angin lembut membelai-belai wajahku hingga kupercepat langkah. Tiba-tiba kudengar teriakan-teriakan mengerikan, memecah kabut dan membuat burung-burung berterbangan ketakutan. Hewan-hewan manis yang hidup di sekitar gunung Surgawi berlarian membawa beban. Pandangan mereka sarat derita dalam.

Aku tercekat. Apakah aku salah tempat?

Semakin kupercepat langkah, semakin kudekati puncak gunung Surgawi, kulihat kepulan asap membubung, menggeser gumpalan awan dan menembusi matahari. Batinku menyentak, sesuatu yang mengerikan telah terjadi.

Tiba di puncak, kulihat orang-orang kampungku telah berpindah ke sana. Mengangkat semua milik mereka. Mengusir punah orang-orang gunung Surgawi yang lari lintang pukang.

Kedua kakiku bergetar hebat. Tiba-tiba pundakku serasa ditindih puluhan gunung. Sayup kutangkap gema mengerikan, “Usir semuanya! Usir! Ini tanah milik kita! Yang kuat akan berkuasa! Yang sakit hati akan mencari sela! Yang lemah akan tak berdaya! Usir semuanya! Usiiiiiirrr!!!”

Aku hanya termangu dan menatap hampa…***

Mutiara Duta, 22 Maret 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: