Cerpen Pidato Setelah Makan Malam

Dimuat di Bangka Pos, Minggu, 11 April 2010

PULANG dari memberikan pidato, Kusno justru tidak tenang. Pikirannya melayang ke ruangan ber-AC yang dipenuhi undangan tetapi minim tepukan. Dia tergagap-gapap ketika membungkuk pada lelaki bertubuh tegap yang duduk di tengah-tengah urutan paling depan. Lelaki itu memang tersenyum, tetapi entahlah apa yang bersemayam di dadanya. Saat melangkah kembali ke kursinya, Kusno yakin, puluhan pasang mata, tajam mengantarnya hingga dihenyakkan pinggulnya di kursi empuk itu. Kala duduk pun dia masih bertanya, apa gerangan yang berkecamuk di hati lelaki tegap yang tersenyum tadi. Sungguh, kursi ini tak senyaman didudukinya tadi, ada yang mengakar sekarang, menelesup hingga ke jantungnya yang menurut ukuran lelaki seumurnya detaknya melebihi batas normal.

“Memang apa yang bapak sampaikan?” tanya istrinya ketika dikatakan kegelisahaannya itu.

“Hanya pidato biasa, setelah makan malam.” Suaranya tercekat, mirip pengembara yang kehausan namun tak menemukan sumber air. “Tetapi biasanya, hadirin akan bertepuk tangan. Tadi, hanya segelintir saja, itu pun jelas kulihat tepukannya sungguh malas dan tak bersahabat. Aku khawatir, ada kata-kataku yang salah. Kau tentu tahulah, Bu, apa akibatnya kalau aku salah berucap.”

Istrinya tersenyum, mencoba menenangkan lelaki yang gelisah ini. Hampir 25 tahun menikah dengannya, tak sekali pun lelaki ini menyinggung perasaannya, apa lagi orang lain. Dia terlalu baik, hingga tak mustahil banyak yang mencemburuinya. Tapi pertanyaan itu dilontarkan juga sekadar meyakinkan, “Apa ada yang menghadang bapak ketika pulang?”

“Tidak, tidak, aku selamat sampai ke mobil dan selamat hingga tiba di sini.”

“Ada yang menelepon Bapak selama perjalanan pulang?”

“Tidak, tidak, walau kurasakan telepon genggamku bergetar hebat di saku jasku. Tapi ternyata tidak berbunyi. Aku yakin, getaran itu dari degup jantungku.”

“Kalau begitu, tak ada yang perlu dirisaukan.”

Kusno mencoba mengikuti saran istrinya. Tak ada yang perlu dirisaukan, tetapi, mengapa tak ada tepukan tangan seperti biasa, pertanda pidatoku mengena atau tepat sesuai acara? Kembali dadanya diketuk-ketuk palu berulang-ulang, semula konstan, dan bertambah meninggi. Kusno mulai mendulang panik. Adakah yang salah yang kusampaikan tadi? Tanya itu kian menggempur batinnya.

Untunglah besok libur, karena dia butuh persiapan diri lebih kental guna bertemu rekan sejawatnya esok hari. Tetapi apakah waktu bisa ditunda, toh lusa pasti dia akan bertemu juga. Apakah lelaki tegap itu akan segera memanggilnya dan memintanya mengundurkan diri saat itu juga? Kusno mengiang-ngiang resah. Bila memungkinkan, dia ingin membatalkan permintaan panitia untuk memberikan pidato. Tetapi yang terbakar sudah menjadi debu tak mungkin bisa disatukan lagi.

Malam telah merata, guncangan batin Kusno kian meninggi. Ini adalah kesalahan pertama yang dilakukannya sebagai tangan kanan si lelaki tegap. Biasanya dia akan mendapatkan sambutan hangat, usai acara akan digandeng bahu lalu diberikan kata-kata pujian. Tetapi tadi, semua mengubah ruah hingga nyaris dia tak mampu menahan getar kedua kakinya kala duduk.

                                                                  ***

“Pak! Ada telepon!” anaknya pertama memberitahunya. Kusno sigap berdiri dengan roman wajah tegang kepalang. Koran minggu pagi bergerak-gerak karena tangannya seakan tak mampu didiamkan. Sesaat dia seperti menjejakkan sebelah kakinya ke neraka jahanam.

“S-siapa?” geteran suaranya tak mampu ditelungkupinya. Anaknya, yang sudah menginjak semester tiga di sebuah universitas ternama, memandang bingung. Menangkap jelas kepanikan yang meraja di wajah sang ayah. Kusno buru-buru tersenyum. Siapa pun—kecuali istrinya—tak boleh tahu kerisauan yang menggelutinya. “Siapa yang menelepon?”

“Pak RT! Nanti malam ada rapat RT.”

Kusno merasa napasnya selonggar Jakarta kala Lebaran. Dia mengangguk, mengucapkan terimakasih, lalu berbasa-basi dengan Pak RT di telepon. Intinya, dia akan datang. Begitulah, setiap undangan pasti akan dipenuhinya.

Lantas besok, bagaimana? Waktu terus mengimpit pelan-pelan, dari detik menuju menit, menit menuju bilangan jam, dan detak jantung Kusno kian menggebu. Sepulang dari rapat di kantor RT, Kusno terperanjat melihat dua orang berdiri di teras rumahnya. Ya Tuhan, akhirnya masaku pun tiba jua. Bisa dibayangkannya, surat panggilan yang disodorkan salah seorang, lalu dia akan minta izin bersalin, berpamitan pada istrinya dan akan mengatakan pada anak-anaknya kalau dia ada tugas luar dalam waktu yang cukup lama. Setelah itu dia akan naik ke mobil yang menjemputnya.

“Selamat malam, Pak….” sapa salah seorang.

“Oh, ya, malam, malam.” Protokoler seperti itu sudah sangat diketahuinya. Kusno tanpa sadar mengusap keringat dengan punggung tangannya. “Apa saudara-saudara sekalian utusan dari…”

“Ya, Pak.  Kami utusan Haji Markum. Beliau menanyakan soal tanah di tegalan sana, Pak. Apakah Bapak jadi menjualnya?”

Kusno menghela napas panjang. Lega tak terkira. Dia mengangguk. Tanah itu memang sudah lama ingin dijualnya. Menurutnya tidak produktif. Pembicaraan di teras itu hanya berlangsung lima menit, selebihnya kedua orang itu pulang.

                                                                  ***

Putri bungsunya yang duduk di bangku kelas empat terheran-heran melihat Kusno menggeleng meski bibirnya tersenyum. “Ai kan ingin bareng bapak ke sekolah.”

“Hari ini, Ai bareng Kak Mira ya. Bapak agak siang berangkatnya?”

Wajah putri bungsunya cemberut. Kusno sangat hafal, tak lama dia pasti akan merajuk. Tetapi pagi ini dia terheran kagum karena putri bungsunya mengangguk, mencium tangannya dan istrinya, lalu menggandeng kakaknya meninggalkan rumah.

Istrinya tahu betul kalau Kusno sengaja memperlambat keberangkatannya ke kantor. Diam-diam semalam dia merasakan kegalauan Kusno. Dia yakin setelah shalat Tahajud, suaminya tidak bisa tidur lagi.

“Masih memikirkan pidato dua hari lalu, Pak?” tanyanya pelan.  Kusno mengangguk. Berharap ada napas kehidupan lagi yang akan diberikan istrinya. “Pak, bukankah Bapak yang selalu mengajarkan, hadapi semua masalah dengan tenang. Lihat titik masalahnya. Jangan membabibuta yang bisa berakibat anarki. Jangan pula menyamaratakan setiap masalah padahal porsinya berbeda.”

Kusno mengangguk-angguk.

“Lantas kenapa Bapak seperti menghindari masalah?”

Kusno membelalak. “Aku? Tidak….”

“Pak, bertahun-tahun Bapak bekerja, tak sekali pun Bapak sengaja datang terlambat ke kantor. Bukankah itu Bapak sedang menghindari masalah?”

Kusno terdiam. Entahlah, setiap kali istrinya berbicara, selalu mengandung kebenaran di dalamnya. Bola mata Kusno berputar-putar. “Ya, ya… setelah ini aku berangkat.”

Dalam perjalanan menuju kantornya, di salah satu departemen yang bagus dan mewah, Kusno kembali dihantam kegelisahan. Ingin rasanya mobil ini tiba-tiba mogok. Tetapi jelas mustahil, mobil ini baru seminggu diberikan, mengganti mobil yang lama yang rasanya juga masih bagus dan mewah. Kursinya jauh lebih empuk. Nyamannya pun lebih terasa ketika masuk atau turun dari mobil mewah ini. Tetapi, ah, mengapa salah satu bannya tidak mendadak meletus?

Ketika sopir pribadinya mengarahkan mobil menuju tempat dia biasa parkir, Kusno kian merasa dirinya semakin mengerdil. Ciut dan seperti berubah menjadi kuman. Ya, setelah berpidato itu dia telah menjadi kuman, yang mungkin bisa menyakiti rekan sejawatnya—terutama lelaki bertubuh tegap itu.

Semua stafnya mengangguk hormat dan mengucapkan selamat pagi ketika dia lewat menuju ke ruangannya. Setiba di ruangannya, Kusno seperti telah melewati perangkap maut yang sengaja ditebarkan. Kelegaan melolong di rongga dadanya.

Lalu sekretarisnya masuk dan memberitahu kegiatan hari ini. Kusno hati-hati bertanya, “Adakah hari ini telepon penting untukku?” Sengaja ditekannya kata penting.

“Oh, ada, Pak… Bapak diminta bertemu dengan Bapak Pimpinan.”

“S-soal apa?”

“Besok ada jamuan makan malam, Bapak diminta berpidato.”

Kusno melonjak. Dia histeris. “Tidak, tidak, saya tidak mau berpidato lagi.” Kusno mengangkat telepon, tangannya bergetar ketika menekan tombol telepon. Suara halus didengarnya dari seberang, lalu suara penuh wibawa bergaung di telinganya. “Selamat pagi, Pak…” sapa Kusno bergetar. “Saya mendapat kabar, besok ada jamuan makan malam dan saya diminta berpidato lagi?”

“Benar, Pak Kusno.”

“Oh! B-bisakah kalau jangan saya? Bisakah saya digantikan?”

“Maaf, Pak Kusno… pidato bapak selalu menyenangkan saya. Dan hanya pidato Pak Kusno yang bisa membuat saya lega.”

Kusno membelalak. Napasnya agak tersekat. “Menyenangkan Bapak? Bukankah malam itu Bapak tidak bertepuk tangan seperti biasa? Dan para hadirin pun hanya minim yang bertepuk tangan?”

Terdengar suara tawa seolah ada lelucon yang paling lucu sedunia. “Pak Kusno… setelah makan malam itu, saya menikmati puding segar, tetapi rasanya terlalu manis dan gigi saya sakit. Ya, mana mungkin saya bisa bertepuk tangan sambil menahan nyeri pada gigi saya.”

“Tapi… yang lain…”

“Aduh, Pak Kusno… mengapa itu dipermasalahkan? Bukankah sudah biasa, bila pimpinannya tertawa, semua akan tertawa. Bila pimpinannya gembira semua akan gembira. Dan bila pimpinannya tidak terlalu riuh bertepuk tangan, mana berani yang lain beriuh-riuh seperti itu? Oke ya, Pak Kusno… ditunggu besok.”

Kusno mengangguk-angguk seolah lawan bicaranya ada di hadapannya. Lalu diletakkan gagang telepon dengan kesahduan yang menggembira. Pelajaran berharga telah didapatnya hari ini, bahwa semua harus membuat pimpinan senang…***

Mutiara Duta, 4 April 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: