Cerpen Segenggam Aroma Kamboja

Dimuat di Bangka Pos, Minggu, 9 Mei 2010

AROMA kamboja menusuk lembut ke hidung bangir di atas bibir yang nampak lelah. Sedap namun sempat membikin degup jantung berkalilipat gencarnya. Entah kenapa, setiap kali melewati jalan di antara pohon beringin ini Fin selalu menggigil. Bulu meremang di bagian kuduk kadang membuatnya tersengal.

Seharusnya Fin tetap tenang seperti biasanya—karena sudah hampir setahun menuju rumah, dia harus melintasi jalan itu. Tetapi malam ini, mengapa terasa berbeda. Gemeresek dedaunan yang dibelai angin seperti bisikan-bisikan lirih dari neraka. Gemerutup aliran sungai yang menabrak beberapa batu kali di kejauhan, yang biasanya tak santer terdengar, membuat langkahnya kian dipercepat. Dia memang ingin segera tiba di rumah, sekarang sudah pukul sepuluh malam. Tarang bisa akan lebih mengamuk lagi bila semakin terlambat pulang.

Seperti yang dibayangkannya, Tarang sudah menunggu di balai-balai kusam depan rumah. Kedua tangannya terus mengepal. Kakinya kaku menjejak tanah. Begitu sosok Fin muncul dari kegelapan, Tarang langsung menembakkan pistolnya, “Kenapa baru pulang?”

“A-angkotnya lama, Bang….”

“Jangan dusta! Pasti karena bossmu menahanmu lagi, kan?”

Fin menelan ludahnya. “B-bukan menahan, Bang. Tapi, tadi memang ada sedikit masalah di kantor.”

Tarang meludah. Rasa kesal menunggu membungkah amarah kian tajam. “Kenapa kau tak bilang jam kerja sudah berakhir?!”

“Karena itu bagian dari pekerjaanku, Bang.”

“Perempuan memang selalu pandai mencari alasan!!”

Darah Fin mulai menderu-deru. Tarang memang selalu pencemburu. Padahal ketika dia melamarnya dulu, Fin yakin Tarang bisa menjadi suami yang mau mengerti dirinya. Tetapi malam ini Fin tak sedang dipenuhi keinginan untuk bertengkar, sudah terlalu letih untuk beradu mulut.

“Kau sudah makan, Bang? Aku bawa nasi goreng.”

Hanya geraman yang diperdengarkan Tarang sebagai sahutan, selebihnya dia mendahului masuk. Fin mengeluh, tetapi menabahkan hati.

Kecemburuan Tarang bermulai ketika satu malam dia pulang dengan wajah murung. Fin langsung bisa menduga kalau lelaki bertubuh tegap yang duduk bersikelu di depannya ini punya masalah besar. Tanpa ditanya pun dia tahu apa masalahnya.

“Gagal mendapat pekerjaan lagi, Bang?”

Tarang menatap Fin sesaat, lalu mengangguk. Gelisah menunggangi wajahnya. Fin memegang lembut tangannya, memberi semangat.

“Bersabarlah, pasti akan kautemui juga pekerjaan yang cocok buatmu.”

Kali itu Tarang mengerti, mengucapkan beribu maaf karena belum bisa membahagiakan Fin. Bagi Fin sendiri, keberadaan Tarang di sisinya merupakan anugerah tak ternilai. Tetapi minggu-minggu berikutnya, Tarang mulai menunjukkan emosi berbeda. Dia kerap marah karena tak ada yang mau memakai tenaganya. Bermacamlah ucapan yang dihamburkan, yang intinya, dia justru mengata-ngatai orang-orang yang tak mau mengambil dirinya sebagai pekerja.

Rumah warisan mendiang ibunya Tarang pun terpaksa dijual, karena hidup harus dibayar dengan sandang, pangan dan papan. Mereka mulai menyingkir ke tempat ini, mungkin menemani nenek tua berambut putih memanjang yang menurut cerita warga di sekitar, kala malam selalu bersenandung di pohon beringin yang dilewati Fin tadi.

Uang hasil penjualan rumah pun terkikis, hingga satu malam Fin memberanikan diri berbicara kalau dia ingin bekerja. Tarang terperangah. Kelelakiannya murka. Suami harus menghidupi istri, bukan berdiam di rumah lalu marah-marah tanpa sebab, bukan pula menunjukkan status sebagai suami yang harus dihormati tanpa berbuat apa-apa.

Fin sedikit menggigil melihat wajah mengeras itu. Lalu dengan kelembutannya diutarakan segala alasan dan berusaha tak membuat lelaki ini tersinggung. Tarang terdiam, seolah melupakan kosa kata yang telah lekat pada bibirnya. Tubuhnya bergetar tanda dia tak rela bila Fin yang bekerja.

“Kau ini perempuan, harus di rumah!”

Fin lega, sahutan itu dianggapnya pertanda baik. “Aku memang perempuan, Bang, tapi aku juga punya hak untuk bekerja seperti kaum laki-laki, bukan?”

“Lantas kau mau bekerja sebagai apa?”

“Apa pun bentuk pekerjaanku, yang penting halal, Bang. Sebagai pencuci piring di restoran pun aku siap.”

Tarang menangis. Terpecah-rentak dirinya karena sebagai lelaki tak mampu berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Fin merangkulnya, menyakinkan lelaki yang telah melayu itu dengan segenap cinta dan perasaan.

Ketika Fin diterima bekerja sebagai pelayan di counter handphone, Tarang sudah mengeluh. Alasannya, gaji kecil, masih mending kalau dikasih handphone gratis. Kekecewaan Fin mulai membangkit. Seharusnya itu disyukuri, karena masih ada jaminan hidup bulan-bulan berikutnya. Fin lalu mencari pekerjaan lain. Ketika menjadi pelayan toko di sebuah butik, Tarang bukan hanya mengeluh, tetapi mulai membodohinya, “Cari pekerjaan itu yang bergaji besar! Bukan berdiri seperti patung, tersenyum ketika pelanggan datang yang lebih banyak hanya melihat-lihat agar dibilang banyak uang, tetapi selebihnya langsung meninggalkan butik dengan berbagai alasan.”

Fin masih mencoba bersabar meski kekecewaan mulai berbuah kejengkelan. Fin tahu, sikap Tarang disebabkan karena dia malu sebagai lelaki hanya berkalang kasur saja. Ketika Fin memberitahu dia diterima bekerja sebagai sekretaris dengan gaji besar, Tarang malah mengikir gigi.

“Hah?! Sekretaris? Kau ini hanya tamatan SMEA! Itu pasti akal-akalan calon bossmu yang ingin memanfaatkanmu! Jangan terima!”

Fin mencoba menjelaskan, pekerjaan sekretaris itu tidak seperti yang ada dalam dunia benak Tarang. Tetapi semakin dijelaskan, Tarang semakin garang. Fin lagi-lagi mencoba bertahan. Suami adalah imam, begitu ajaran ibunya dulu. Ikuti dia, maka kau akan masuk Surga.

Ketika satu hari Fin pulang dengan gembira dan memberitahu dia bekerja sebagai seorang bendahara kantor, Tarang tertawa lepas. “Itu baru pekerjaan yang layak! Kau akan selalu pegang uang! Gajimu pun cukup besar! Nah, setelah seminggu bekerja, coba kautanya, bisakah pinjam uang dulu?”

                                                                 ***

Nasi goreng itu masih terbungkus rapi di atas piring. Air yang dihidangkan pun jelas belum disentuh. Fin menghela napas. Hilang gairahnya untuk segera mandi. Entah di mana Tarang sekarang. Semalam dia tak mau tidur di kamar. Gema makiannya masih menempel di dinding, “Aku tak mau satu kamar dengan perempuan yang selalu bersama lelaki lain!!”

Sepanjang malam Fin menangis. Tidakkah Tarang menyadari kalau bossnya bukan orang penting dalam hidupnya? Tidak tahukah Tarang kalau tak ada di dunia ini lelaki yang bisa menggeser mahkota yang telah disematkan Tarang di hatinya? Tidak adakah rasa terimakasihnya kalau aku yang bekerja?

Fin terduduk lemas di kursi. Angin pagi melela dari jendela, mengusap pipinya dan membisiki tembang indah masa kecil. “Ingat, dia imammu….” Suara lirih almarhumah ibunya mengiang-ngiang.

Fin tergugu, tanpa sadar air matanya menitik. Benarkah seorang imam seperti itu? Adakah contoh terbaik yang diberikannya selain bersuara keras dan cemburu yang tak bermakna? Fin menarik napas panjang. Lalu bangkit ke kamar mandi. Tak ada polesan bedak atau pemulas bibir setelahnya, bisa semakin bertumpuk amarah Tarang. Pernah pula dia menyindir, “Perempuan memang pintar bila memancing hasrat laki-laki.” Ingin saat itu dilemparnya tempat bedak ke muka Tarang, tapi ditahannya. Tangis pun tak dibiarkan lolos dari kedua matanya. Justru dipejamkan kuat-kuat.

Dilihatnya jarum jam yang terus bergerak. Dikuatkan diri menunggu Tarang kembali. Tetapi hingga pukul setengah delapan lewat, Tarang belum muncul juga. Fin keluar, mengembus sedih jauh-jauh. Dia tahu Tarang ada di mana.

Melewati pohon beringin, angin mengembus-embus pelan, seolah memberinya kekuatan. Tetapi aroma kamboja itu kembali menusuk hidung. Berbeda dengan semalam yang membuat bulu kuduk berdiri, kali ini Fin terdiam, memandangi pohon kamboja sejarak tiga meter dari pohon beringin. Sekuntum bunganya jatuh, meliuk dipermainkan angin, lalu terhempas ke bumi. Entah mengapa, Fin merasa dirinya telah menjelma menjadi kuntum kamboja. Lalu dipandanginya pohon beringin di depannya. Dicarinya nenek tua berambut putih yang menurut warga selalu berayun-ayun di salah satu dahannya. Nenek tua itu tak pernah ada, hanya sebuah cerita agar anak-anak cepat tidur bila maghrib datang. Tetapi Fin berharap nenek itu memang ada, dia ingin diajak serta berayun-ayun di sana.

Kembali diayunkan langkah, melintasi jalan setapak yang di sisi kanan kiri beriap rerumputan. Tak kuasa lagi Fin merasa hawa neraka telah merayapi rumah dan dinding hatinya. Entahlah, di mana dia memetik buah khuldi yang membuatnya terlempar dari ruang kebahagiaan.

Seperti yang diduganya, Tarang sedang tertawa-tawa dengan beberapa temannya. Di depannya tergeletak beberapa botol bir yang sudah kosong dan kulit kacang yang berserak. Didekatinya lelaki itu, disodorkan tangannya.

“Aku berangkat dulu, Bang….”

Tarang menghentikan tawa, lalu menepis uluran tangannya. “Pergilah sana! Ingat, pulang bawa uang yang banyak!” Lalu tawanya berderai, disambut oleh yang lain, seolah Fin tak pernah ada di sana.

Fin menunduk, uluran tangannya masih menggantung. Lalu pelan-pelan dikulainya, dan mulailah dia mengayun langkah. Sempat didengarnya sinis suara Tarang, “Dia yang ingin bekerja! Dia ingin disamakan dengan laki-laki! Tak salah bukan bila kukatakan seperti itu?!”

Fin merasa dadanya remuk.  Tetapi berusaha tegar melangkah, karena tak guna menangis lagi. Terus menyusuri jalan setapak hingga tiba di jalan beraspal. Dari sana dia akan menumpang ojek untuk tiba di pangkalan, setelah itu menumpang angkot satu kali dan tiba di tempatnya bekerja. Tetapi kali ini, pada pengemudi ojek dia hanya berkata pendek, “Ke terminal.”

Walau bergurat tanya, si pengojek tak melontarkan kata. Senyumnya bahagia. Ke terminal, berarti tiga puluh ribu rupiah akan masuk sakunya. Ketika ojek bergerak, Fin merasakan desiran angin menyapu wajahnya, semula dingin tapi lama kelamaan begitu sahdu dan aroma kamboja tiba-tiba seperti membuntuti di belakangnya, lalu menempel lekat layaknya parfum pada tubuhnya dan Fin pun menggenggamnya erat-erat…***

 (Selamat hari Kartini)   

Mutiara Duta, 21 April 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: