Cerpen Pada Hari Keseratus Satu Kunting Menepis Angin

Dimuat di Sumut Pos, Minggu, 21 Maret 2010

TIBA di rumah yang terletak tak jauh dari sungai yang bila malam bisa bergemuruh, terutama bila datangnya hujan, Kunting menghaturkan lega. Dihitung penghasilannya malam ini. Lumayan, nyaris tiga ratus ribu. Bila semacam ini terus hasilnya, tak perlu repot lagi memikirkan uang buat selamatan Parmin, tinggal kerja satu malam lagi, semua lebih dari cukup.

Baju ketat yang dibalut jaket dibukanya. Lalu dia mandi. Digosok seluruh tubuhnya, prosesi yang harus dilakukan tiga kali—setiap malam—agar napas-napas penuh nafsu dan tangan-tangan kasar yang merayapi tubuhnya bisa lenyap. Lalu dia shalat Isya, masih ada waktu sebelum Shubuh datang. Memohon ampun pada Tuhan, tapi pula mengadu mengapa dibiarkan memilih jalan hitam.

Pukul tujuh pagi, dia sudah bergabung dengan puluhan perempuan yang bekerja di pabrik rokok. Seragam warna biru seolah menjadi kebesaran tempat yang ditempuh dengan sepeda sepanjang sepuluh kilometer. Di kampungnya, bekerja sebagai buruh pabrik merupakan anugerah yang besar, seolah pekerjaan itu menjadi batu loncatan masa depan.

“Sampai pukul berapa kau semalam?’” bisik Naqiyah, tangannya lincah menggulung tumpukan kecil tembakau.

“Hus! Jangan keras-keras, nanti orang dengar. Setengah empat pagi.”

Naqiyah terkikik. “Banyak bawa uang?”

“Lumayan. Berlebih.”

“Bagus nasibmu. Aku cuma dapat satu. Itu pun banyak minta laku. Terpaksa kuladeni dari pada pulang tak beruang.” Naqiyah terkikik lagi, membayangkan tubuh tua menggelutinya semalam. “Eh, lusa hari keseratus Parmin meninggal. Kau ada rencana apa?”

“Semula tak ada niatan, tapi bekas mertuaku meminta untuk mengadakan selamatan. Katanya, mengikuti adat.”

Naqiyah menyeringai. Kawan sepermainannya ini memang dikenal sebagai wanita yang patuh pada orangtua—meski yang disebut tadi itu hanya sebatas bekas mertua. “Banyak akan kauundang?”

“Sekitar saja.”

“Itu cukup banyak, pantas kau bisa melakoni sampai pukul setengah empat pagi.”

“Hus! Jangan kencang-kencanglah kaubicara! Kalau ada telinga meruncing bisa kacau kita.”

“He, benar juga kau! Lihatlah, si Kepala Kuncung itu menebar senyum padamu.”

Kunting mengikuti arah kerlingan mata Naqiyah. Gunawan, supervisi yang selalu menampakkan wajah galak, tapi bila padanya menjadi seperti anak bayi yang minta disusui ibunya, tersenyum lebar. Hiii! Parah tak terkira. Ada gigi emas di bagian tengah.

“Aku berharap dia tersandung atau terpentok mesin, biar gigi emasnya tanggal. Lumayanlah kujual di Pasar Buntal,” kata Naqiyah waktu itu.

Tanpa sadar Kunting tersenyum. Bahaya pun tiba. Si Kepala Kuncung (entah kenapa sebutan itu bisa bertengger paga Gunawan) menyangka senyum ditabik untuknya. Dia mendekat. Naqiyah tertawa.

“Magnetmu begitu besar. Jangan-jangan, dia juga jadi langgananmu.”

“Hus! Bicara sekali lagi, kulinting bibirmu itu!”

Naqiyah tertawa, berlagak sibuk bekerja ketika Gunawan mendekati mereka. Ramahnya luar biasa. Senyum masih bertengger pula.

“Apa kesibukanmu nanti malam, Ting?” tanyanya hangat, terselip hasrat. Hampir setiap kali mendekati Kunting, pertanyaan sejenis yang dilontarkan. Di balik tubuhnya, Naqiyah mencang-mencongkan mulut meledek.

“Pulang, Pak…” Kunting sekilas melotot gemas, “tidur, lalu siap kembali bekerja keesokannya.”

“Tak inginkah kau pelesiran dulu? Lumayanlah penghilang penat.”

Kunting tersenyum manis, penuh arti. Itu yang membuat Gunawan gemas tak kepalang. Tak pernah Kunting memberi jawaban lugas, apakah dia mau atau tidak memenuhi ajakannya—membuah  penasaran. Tapi bukan berarti dia akan menyerah. Janda Parmin ini cantik tak terkira. Tubuhnya sintal dengan senyum lezat yang menguarkan aroma. Sebelum menikah dengan Parmin, Gunawan lama menyimpan hasrat. Tapi tak berani menceraikan istrinya. Sekarang istrinya sudah pergi dengan kawan sejawat, Kunting pun telah ditinggal mati. Bukankah kekosongan itu bisa saling diisi?

Pukul lima petang, Kunting kembali mengayuh sepeda. Masih tertawa saat mendorong sepeda keluar pabrik, Naqiyah bergurau, “Hati-hati, dia akan mengikutimu, menikmatimu lalu membayar dengan uang palsu.” Meski itu hanya gurauan, Kunting sesekali menoleh pula.

Tiba di rumah, Kunting mandi, shalat Maghrib, beristirahat lalu bersiap bekerja kembali. Lusa malam keseratus Parmin. Mertuanya berjanji besok akan datang. Berarti uang harus lebih banyak terkumpul.

“Mak tak mau tahu! Kau harus mengadakan selamatan seratus hari kematian Parmin!” tutur mertuanya sengit. Sengau di telinga.

“Iya, Mak,” hanya itu ucapan yang dikeluarkan. Seharusnya dia lebih berani tegarkan diri. Kalau memang mau diadakan selamatan, bantulah sedikit mengenai keuangan. Paling tidak, dipikul bersama. Tapi itu tak pernah terlontar.

Melewati rindang tinggi pohon beringin yang tumbuh di belakang rumah, Kunting merasa bulu kuduknya meremang. Dia berulangkali ingin melewati jalan yang lebih terang, tapi pasti akan terlihat oleh tetangga. Bisa mendapat banyak pertanyaan. Mencapai jalan yang lebih terang, Kunting terus menuju pangkalan angkot. Hanya angkot Legiman yang mau ditumpanginya. Legiman mungkin tahu apa kerjanya, tapi tak pernah banyak omong.

Namun malam ini, lelaki berkulit hitam itu mengeluarkan pertanyaan, “Kenapa kau melakukannya, Ting? Kau masih muda. Masih banyak lelaki yang mau menghinggapimu. Kau bisa menikah lagi. Halal.”

Ada sayatan kecil namun mengena. “Aku harus mengumpulkan uang untuk selamatan almarhum suamiku.”

“Tak perlu mengikuti adat. Lepas yang sudah pergi. Raih yang baru mau datang.”

“Selesai selamatan, akan kutinggalkan pekerjaan ini.” Begitu selalu janjinya. Dulu seminggu Parmin menghadap Tuhan, Kunting masih panjang menangis. Menangisi pernikahan yang baru seumur jagung, mengeluhi ketakberdayaannya. Naqiyah datang memberi kabar, mengajaknya bekerja. Kunting gembira. Saat diberitahu jantungnya terasa menggelinding. Naqiyah tidak membujuk tapi bercerita, setelah Jalu, suaminya pergi bersama janda yang berniaga kopi, dia terpaksa melakoni kisah baru. Membiarkan tubuhnya dijamah dengan imbalan rupiah. Semula memang pedih, tapi kebutuhan tak bisa dihindari lagi. Bekerja sebagai buruh di pabrik rokok tak bisa memenuhi kebutuhan. Kunting masih beruntung, belum punya anak. Naqiyah sudah dua, masih kecil-kecil pula.

Hari ketiga puluh delapan, mertuanya datang. Memaksa agar diadakan selamatan. Kunting mengiyakan. Pedihnya tak terkira, tangis tertahan menyiksa dadanya setelah lelaki itu bangkit dari tubuhnya, menyulut rokok, berpakaian, lalu melempar uang lima puluh ribu. Malam itu dia berendam di sungai belakang rumah, menggosok tubuhnya dengan batu apung, menolak lagi untuk ikut pergi. Tapi tiga malam kemudian, dia sudah berdiri lagi di jalan.

Malam ini keuntungan sedang meminggirkannya. Ah, malam penat ini, kemana para langganan pergi? Apa mereka tak beruang lagi? Atau ketahuan para istri? Kesal Kunting ketika Naqiyah turun dari mobil mewah dan bilang dia mengalap rezeki, lalu mengajaknya pulang. Kunting menolak. Naqiyah rela membagi penghasilannya malam ini. Kunting menolak dan mengucapkan terimakasih, itu rezeki Naqiyah, tak perlu membagi. Naqiyah lalu pulang.

Kunting digigit sepi. Sesekali pengendara mobil atau motor lewat. Ada yang sekilas menoleh, tapi menghentikan kendaraannya di tempat lain. Kunting mendesah. Dia harus bertahan. Selamatan Parmin harus dilakukan. Hingga pukul dua malam, tak bersua pula lanang yang mau datang.

Pukul tiga pagi, sebuah motor mendekat. Pengendaranya bicara tanpa membuka helm yang menutupi wajah. Mungkin tak mau terlihat orang yang dikenalnya. Kunting setuju dengan harga yang ditawarkan. Paling tidak, akan ada tambahan untuk acara selamatan. Dia juga ingin membuat acara yang lebih baik dari yang sebelumnya.

Si pengendara bukan membawanya  ke hotel atau ke penginapan jam-jaman, tapi mengarahkan motornya ke jalan lain. Kunting tercekat ketika mengetahui itu jalan menuju rumahnya. Ketika dia bertanya mau diajak ke mana, si pengendara tak menjawab tapi menghentikan motor di depan rumahnya. Kunting turun dengan gelisah yang meraja. Berarti orang ini mengenaliku. Tak sempat bertanya, si pengendara sudah berlalu.

Acara selamatan berlangsung khidmat. Sempat sakit hati ketika mertuanya bilang kalau semua ini adalah biaya yang disokongnya untuk Kunting. Naqiyah geram, tapi ditahan Kunting.

Semua berjalan lagi seperti biasanya. Tapi yang tak pernah lenyap dari pikiran Kunting, setelah malam keseratus selamatan Parmin, si Kepala Kuncung tak pernah lagi menyapanya. Mendekatinya pun tidak. Padahal dia rindu dengan sapaan itu. Sudah siap pula bila si Kepala Kuncung mengajaknya keluar pelesiran, karena dia sudah meninggalkan pekerjaan itu. Tugasnya sudah selesai. Tinggal menjalankan hidup, seperti janjinya pada Legiman yang tersenyum senang kala pagi tadi dia menumpang angkotnya.

Lantas si Kepala Kuncung… ah… kenapa dia?***

Mutiara Duta, 16 Maret 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: