Cerpen Penjara

Dimuat di Seputar Indonesia,  Minggu, 14 Februari 2010

LANJAR terperanjat. Gelas kopi yang bagian bawahnya sudah nyaris dipenuhi kerak kopi, terlepas dari pegangannya. Cairan kopi panas yang masih mengeluarkan asap, bercerai berai di lantai. Sesaat dia merasa perlu mengorek telinganya, biasanya dangkal saja, kali ini lebih dalam, khawatir ada benda asing yang membatasi pendengarannya.

“Kamu tidak salah bicara?” Lelaki berusia 63 tahun itu harus mengatur napasnya biar tidak gugup saat bertanya pada Solihin yang berdiri gagah, mantap, di depannya.

“Tidak, Pak.” Cara menyahutnya pun mantap. Intonasinya tinggi, seperti saat kata “bangsat” disemburkan. Menunjukkan kesombongan yang bulat.

“Tapi jadi sipir penjara, Sol… ah… kamu tidak salah?”

“Tidak, Pak. Mulai besok aku sudah mulai bekerja.”

Layaknya orangtua, Lanjar akhirnya mengiyakan. Karena menurut pendapatnya, yang termasuk bagian rakyat jelata, semua pekerjaan itu sama. Mau menjadi pengacara, anggota DPR, anggota Pansus, anggota-anggota yang lainnya, tukang sol sepatu, kernet mikrolet atau pun sipir penjara… sama, sama-sama suka teriak!

“Baiklah, bapak izinkan. Di mana?”

“Nusakambangan.”

Kalau sebelumnya Lanjar terperanjat sampai gelas kopi yang dipegangnya terlepas, kali ini dia melonjak seperti menginjak bungkahan ranjau yang siap meluluhlantakkan seluruh tubuhnya.

Dia menelan ludah. “Nusakambangan?”

“Siap, Pak!”

“Bagaimana bisa?”

“Bisa, Pak!”

“Tapi bagaimana?”

“Tidak bagaimana, tapi bisa!”

Lanjar mengelus dadanya. Dia sangat tahu dengan sifat putra semata wayangnya ini, keras, kukuh dan selalu berapi-api. Gunung pun bila menghadang keinginannya, akan dipindahkan dalam semalam. Mengingatkan dirinya ketika masih muda dulu.

“Bapak keberatan?”

“Bapak hanya ingin kamu memikirkannya lagi, Sol.”

“Pak, dalam darahku mengalir darah bapak. Dalam jiwaku berpatri jiwa bapak. Apakah Bapak berpikir aku akan mundur?”

“Sama sekali tidak!” Lanjar cepat menjawab. Gemuruh persada hatinya kian siap menghancurkan urat-urat nadi.

“Berarti bapak paham apa keinginanku bukan?”

“Iya, iya… sangat paham… Kapan kamu berangkat?”

Tubuh lebih menegak, dadanya lebih membusung, suaranya lebih mantap, “Hari ini!”

                                                                  ***

Setahun pun merayapi dinding-dinding hari dan berlalu. Lanjar tetap meneruskan kegiatannya, meneruskan hidup hari-harinya yang kian menghimpit dan terasa sulit. Hidup seorang diri sejak istrinya meninggal lima belas tahun yang lalu selalu menggigit nadi dan sumsumnya direjam sepi. Surat-surat Solihin yang datang kerap menghiburnya, yang menceritakan betapa bangganya dia menjadi sipir di Nusakambangan. Setahun berlalu lagi. Surat-surat Solihin tetap datang, isinya masih menceritakan pula kebanggaannya menjadi sipir di Nusakambangan. Dalam setiap surat balasannya, Lanjar selalu mengingatkan agar Solihin tidak pernah melupakan Tuhan.

Setahun kemudian, Solihin pulang.

Lanjar gembira, meski sesaat terhenyak karena tak ada pemberitahuan sebelumnya. Merangkul Solihin hanya dilakukannya dua kali selama dia hidup. Pertama ketika istrinya meninggal dan kedua, apa yang dilakukannya tadi, saat terkejut-kejut melihat Solihin telah berdiri di depan rumahnya. Lanjar merangkulnya sama seperti saat Solihin naik kelas waktu SD dulu.

Tak ada yang berbeda dari segi fisik. Solihin tetap gagah dan menunjukkan kwalitas anak muda yang siap mengabdi pada negera dan kulitnya tetap hitam. Hanya cara bicaranya yang berubah, lebih banyak gugupnya daripada tenangnya.

Kemana ketenangannya pergi?

Itu diungkapkan Lanjar setelah menikmati nasi goreng yang dibelinya dari penjaja yang lewat.

“Kata siapa saya tidak tenang, Pak?” tanya Solihin sambil tersenyum lebar. Lanjar mengakui hal lain, senyumnya itu pun berbeda. Tidak menunjukkan rasa percaya diri lagi, berbalur kegugupan.

“Bapak yang bilang kamu tidak tenang, Sol.”

“Karena bapak kaget saya pulang tanpa memberi kabar.”

“Mungkin.”

“Seharusnya bapak senang.”

“Bapak senang. Ceritakanlah soal Nusakambangan.”

Meluncurlah cerita dari mulut Solihin. Hei, dia sekarang merokok. Cerutu pula! Lanjar ditawari, tapi menolak. Lima hari Solihin di sana, dia mengaku kaget luar biasa, setelah melihat kehidupan yang rukun, damai dan tentram.

Lanjar memotong, “Penjara yang boleh disamakan dengan Alcatraz itu rukun, damai dan tentram?”

“Begitulah keadaannya, Pak.”

Solihin melanjutkan cerita. Antara sipir dengan napi terdapat sosialisasi yang tinggi, penuh kekeluargaan. Mereka bisa makan dalam satu meja.

Lanjar memotong lagi, “Seperti itukah?”

“Itulah yang terjadi, Pak. Maaf, Pak… kali ini jangan dipotong.”

Kata yang tersusun menjadi kalimat, kalimat yang terangkai menjadi paragraf terus meluncur dari mulut Solihin, yang intinya betapa damainya Nusakambangan. Tidak seperti kebanyakan cerita yang merayap, betapa Nusakambangan adalah sebuah pulau napi yang mengerikan.

“Itulah yang membuatku bangga menjadi sipir penjara, Pak. Aku telah membuktikan sendiri keadaan yang sebenarnya.”

Lanjar mengangguk-angguk takjub. “Kapan kamu kembali ke sana?”

“Tugasku sudah selesai. Aku akan mengabdikan diriku untuk masyarakat di kampung ini.”

Pulangnya Solihin ternyata lebih meriak dari keberangkatannya ke Nusakambangan tiga tahun lalu. Warga berdatangan, ada yang menyalaminya, ada yang kangen padanya, ada yang bertanya-tanya, ada pula yang membawakan makanan, walau ujung-ujungnya, Lanjar yang harus mengeluarkan uang untuk membeli kopi dan kretek. Siang malam warga terus berdatangan, berjejal, hingga rumah yang sudah miring ke kiri semakin condong. Mereka benar-benar ingin mendengar langsung dari Solihin, kalau Nusakambangan sudah menjadi pulau impian.

Dari mulut Solihin pula terlontar cerita betapa di antara sel-sel yang ada di sana, terdapat sel-sel layaknya kamar hotel bintang lima atau apartement mewah.

“Selengkap itu?” tanya salah seorang warga.

“Ya, selengkap itu.”

“Bagaimana bisa?”

“Itulah yang saya maksud, antara sipir dan para napi sudah terjadi kerja sama yang baik, azaz kekeluargaan yang menjadi gaung kebanggaan negeri ini, pun tiba di sana. Saya pikir, semua penjara di Indonesia ini pun seperti itu.”

“Apa iya?” salah seorang warga ternganga.

“Mungkin… setiap warga punya hak yang sama bukan? Berarti, di penjara pun, setiap warga juga punya hak yang sama. Kalau dia ingin penjaranya mewah, lengkap dengan segala isinya, bukankah itu haknya juga?”

Banyak yang teriak setuju. Ada pula yang bertanya bagaimana caranya bisa seperti itu?

“Faktor kedekatanlah… kita bersikap baik, sopan, penuh perhatian, pasti semuanya akan berjalan mulus. Dalam penjara itu bukan berarti pengkayaan hati untuk menerima atau memikirkan apa yang telah dilakukannya selama ini, penjara bukan pula akibatnya.”

Ramailah para warga membicarakan betapa enaknya masuk penjara. Bisa hidup mewah, tanpa perlu memikirkan bagaimana harus bersosialisasi yang memusingkan. Solihin si pembawa berita pun dianggap sebagai pahlawan karena telah mengubah pandangan hitam tentang penjara.

Kemana Solihin pergi pasti akan ada yang menguntitnya, dan menuntutnya untuk mengabarkan lagi panorama penjara. Solihin selalu bersemangat melakukannya. Ada pula yang memberinya uang sebagai imbalan jasa atas ceritanya.

Lanjar bangga karena Solihin punya kelebihan uang, tapi tetap menolak diberi.

“Bapak ingin hidup dari hasil keringat bapak, meski letih telah menulang dan payah telah mengabur, bapak tetap setia menjadi tukang sol sepatu. Sol, ceritakan lagi pada bapak tentang keindahan penjara yang teduh itu…”

Bertaburanlah kata-kata dari mulut Solihin lagi, hingga azan Shubuh berkumandang, kata-kata itu terus keluar dan semakin menyerap di hati Lanjar, menimbulkan kerinduan yang dalam tentang kedamaian.

Lalu satu malam, ketika warga—yang entah keberapa—lagi-lagi berkumpul di rumah, dan bersiap pulang, satu pertanyaan terlontar, bergetar karena penasaran. “Bagaimana caranya biar masuk Nusakambangan?”

Semua menoleh dan terkejut mengetahui dari mana asal pertanyaan itu. Lanjar tersenyum, melangkah tenang mendekati orang-orang itu.

“Apa maksud Bapak?” tanya Solihin, kalau sebelumnya saat menceritakan pengalamannya di Nusakambangan, lancar, teratur dan tertib, sekarang dia gugup lagi.

“Apa yang kamu ceritakan itu membuat rasa keingintahuan Bapak bergolak, Sol. Membangunkan nadi tersembunyi dalam diri bapak.”

“Bapak mau jadi sipir juga?”

“Itu mungkin?”

“Jelas tidak, Pak. Usia bapak bukan lagi usia bekerja, walau bapak masih keliling menjadi penjual jasa sol sepatu.”

“Adakah cara lain agar tiba dan menetap di Nusakambangan?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi membuat Solihin terkejut. Lebih terkejut lagi ketika gema demi gema menghantam dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Semua yang hadir lebih bersemangat sekarang, sebagian yang sudah berdiri duduk kembali, menatap penuh antusias.

Solihin sesaat gugup. “Ada… tapi…”

“Tapi kenapa?”

“Bapak harus jadi penjahat dulu….”

Hadirin mengeluh. Lanjar tidak menjawab, tapi bibirnya tersenyum.

                                                                  ***

Kalau sebelumnya Solihin yang giat dan bersikukuh untuk menjadi sipir penjara dan tiba di Nusakambangan, kali ini dunia berputar. Lanjar yang giat berlatih! Setiap pagi dia selalu menimba air lebih banyak dari biasanya. Lari pagi mengelilingi bukit bisa dilakukan seminggu sekali. Jasa sol sepatu yang ditekuninya sejak muda, ditinggalkan, dia menjadi kuli panggul di pasar. Alasannya sederhana, biar tubuhnya kembali menjadi kuat seperti dulu.

Solihin mulai gelisah, tapi kegugupannya tetap tidak berkurang. Dia mencoba tukar pikiran tentang keinginan bapaknya itu. Tapi Lanjar telah menetapkan niat sekokoh batu karang dan setangguh pegunungan.

“Apa yang kurang dari Bapak, Sol? Lihat! Fisik bapak sekarang berubah jauh! Bapak sudah tidak batuk-batuk lagi sejak giat berlatih dan olah napas! Cengkeraman jari jemari bapak lebih lentur dan kokoh!”

“Itu memang terlihat, Pak. Tapi adakah Bapak melihat ke diri bapak sendiri?”

“Apa maksud kamu, Sol?”

“Usia bapak tidak mungkin bisa menjadi sipir penjara.”

“Sol, siapa bilang Bapak mau jadi sipir penjara?”

“Lantas, bapak mau jadi apa?”

“Penjahat! Biar bapak bisa menikmati kehidupan mewah penjara-penjara di tanah nusa damai ini….”

Solihin mengeluh, lalu berujar dalam hati, “Tahukah bapak apa yang menyebabkan aku pulang?”***

Mutiara Duta, 14 Januari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: