Beberapa Catatan Untuk Menjadi Produktif

Dibacakan dan didiskusikan pada

Workshop Penulisan FLP Bekasi I di Islamic Centre, 26 September 2004

 Assalamu ‘alaikum wr.wb

Teman-teman yang baik,

Masalah mendasar bagi calon atau seorang penulis adalah bagaimana menangkap sebuah ide, lalu mengelolanya hingga menjadi sebuah rangkaian cerita yang enak dibaca, juga masalah waktu yang terkadang “sangat menyiksa”.

Untuk pertama, kita bicarakan bagaimana menangkap sebuah ide.

Ide, bukanlah sesuatu yang sulit ditemukan, karena sebenarnya ide sudah menunggu calon atau seorang penulis (baca : kita), hanya bagaimana kita berusaha menemukan dan menangkapnya dengan baik, menyimpannya atau segera menuliskannya.

Cara termudah, coba tengok sekeliling kita. Perhatikan, walau hanya sekilas, betapa banyaknya ide yang bisa ditemukan dan ditangkap. Saat ini kita berkumpul di sini, tentunya dengan satu tujuan, untuk dapat bersilaturrahmi atau pun mendapatkan sedikit pengajaran dalam saat berbagi saat ini. Tapi ketika masing-masing menuju ke sini, tentunya tidak sama pengalaman satu sama lain. Mungkin, ada yang naik bis, angkot, kendaraan bermotor baik itu sepeda motor maupun mobil. Lalu di jalan, mungkin tidak menghadapi kendala apa-apa karena lancar-lancar saja, tapi mungkin ada yang terjebak macet, yang kesiangan bangun, yang harus mengerjakan ini-itu di rumah.

Nah, dari sana kita sebenarnya sudah menemukan banyak sekali ide. Contoh termudah, seorang peserta terjebak macet di lampu merah, padahal dia ingin sekali tiba tepat waktu di sini. Secara gamblang, itu adalah sebuah ide yang bisa dituliskannya, pengalamannya ketika menuju ke sini dengan faktor psikologisnya, misalnya, ketegangan takut telat, bingung nanti masuknya karena cara sudah dimulai dsb.

Jadi, ide bukan masalah yang sulit, bukan?

Semangat

Sekarang kita tengok masalah semangat. Ketika ide sudah ditemukan, tinggal bagaimana mengelolanya. Tentunya, rasa semangat itu harus ada. Misalnya, apakah ide tersebut akan langsung dikerjakan atau disimpan untuk beberapa lama, sambil mengelolanya melalui catatan kecil misalnya, atau dicernakan dan dijalankan di otak saja. Semangat memang harus ditumbuhkan. Dalam hal ini, hanya ada dua semangat yang diperlukan, kemauan berbuat dan kemauan berkarya.

Lalu muncul pertanyaan, sebenarnya saya ingin sekali segera mengerjakannya, tapi tidak punya waktu? Itu mudah saja menyiasatinya, karena kita harus dapat memanfaatkan waktu. Lakukan saja pada hari-hari yang cukup senggang, yang tidak ada kegiatan. Misalnya habis Shubuh, atau malam hari, atau pada hari Minggu. Yang terpenting cari waktu yang longgar.

Tapi gimana setelah punya waktu, itu tiba-tiba menghilang? Yang termudah, tentunya mencatatnya hingga dengan mudah kita bisa menuliskannya. Dan yang harus dilatih, biarkan saja dia hilang begitu saja, lalu tengok lagi sekeliling kita, di mana ide-ide itu banyak sekali. Dan Insya Allah, ide yang hilang itu, suatu ketika, tanpa disadari akan muncul.

Semua ini tentunya berkaitan dengan bagaimana kita memaneje diri. Itu bukan hal yang mudah, tapi dapat dilakukan dalam proses perlatihan. Memaneje diri artinya, kita mencoba mendisplinkan segala sesuatunya yang berkaitan dengan aktifitas, tapi bukan berarti itu akan merapat. Buatlah yang bersifat longgar dengan hal-hal yang menyenangkan, hingga pada akhirnya kita tidak terjebak pada sistem yang kita terapkan sendiri.

 Misalnya, ada seseorang yang menerapkan sistem waktu. Dari jam sekian hingga sekian, dia akan melakukan ini. Lalu berikutnya akan melakukan itu. Begitu seterusnya hingga dia akan terpatok pada waktu yang telah ditetapkannya. Ini bukan cara yang salah, tetapi tidak akan stabil. Kenapa tidak stabil, pada akhirnya dia bukan mendisplinkan diri, tapi terikat pada jadwal-jadwal yang ditetapkannya hingga suatu saat akan merasa tidak bebas dan memberontak dari jadwal yang telah dilakukannya.

Cara yang termudah, dengan berpikir efektif atau efisien. Misalnya, setiap Shubuh saya mengetik. Dalam proses waktu, saya tidak menargetkan berapa halaman yang akan saya tulis, tapi berapa lama waktu saya menulis. Saya selalu memakai satu atau satu setengah jam. Tapi itu bukan patokan, karena bila anak saya sudah bangun, saya akan berhenti menulis, karena selalu ada saja yang ingin dilakukannya bersama saya, walau hanya sekadar main mobil-mobilan. Karena saya tidak terikat, ya saya asyik-asyik saja. Tidak kesal karena waktu saya untuk menulis jadi tersita oleh anak saya.

 Yang saya maksudkan, bila saya sudah mematok itu sebagai sebuah keharusan, saya bisa menjadi kesal dan tidak akan berkonsentrasi bila sesuatu terjadi. Karena saya berpikir itu akan bisa dilampaui, sekali lagi saya nyantai saja dan sama sekali tidak merasa terganggu atau ide yang akan saya tulis hilang. Tapi disiplin untuk menulis tetap saya jalankan dalam keseharian, dan tetap akan berhenti bila anak saya sudah bangun. Dan biasanya, saya akan mengganti waktu yang tersita itu dengan meneruskannya pada malam hari.

 Lalu bagaimana memanage diri yang berkaitan dengan ide yang kita punya? Yang selalu saya lakukan, saya membiarkan saja ide itu berkeliaran di otak saya, saya jalankan begitu saja ketika menulis. Kalau pun saya tidak sedang menuliskannya, saya tetap tak memperdulikan ide-ide itu. Jadi kalau ide itu mau lepas, silakan saja.  

Ceruk pasar

Setiap kali saya ingin menulis sebuah cerita, saya selalu memikirkan pangsa pasar saya. Dalam arti, untuk siapa cerita itu saya arahkan. Saya juga mencoba menemukan ceruk, relung atau celah yang belum tergarap dengan baik.

Kita lihat beberapa contoh dari yang pernah saya tulis.

Syakila, saya melihat belum adanya yang menggarap cerita petualangan, di mana sang tokoh yang keras kepala, jago taekwondo dan jago ngebut, punya masalah besar dengan satu tokoh yang menjadi momok. Tokoh besar yang menjadi lawan Syakila, yang juga ingin membalaskan dendamnya pada Syakila adalah si Tuan Besar. Tuan Besar konstan yang mainkan dengan segala kelicikan dan kepintarannya untuk membalas Syakila yang dianggapnya telah menggagalkan rencananya untuk membom Plaza Harapan.

Ceruk ini saya anggap belum banyak dimasuki. Terutama tentang tokoh Syakila dan lawannya si Tuan Besar. Saya juga mengeksplor semua tokoh-tokoh dalam Syakila.

Ray, dia sosok pembalap jalanan, yang insyaf tapi tetap saja mempergunakan keahliannya untuk aksi-aksi tertentu. Berbeda dengan Syakila, Ray tidak punya lawan tetap. Tapi tentang pembalap jalanan inilah yang saya angkat.

 Rangga, tentang remaja putus sekolah tetapi berusaha keras untuk membahagiakan ibunya yang hanya penjual gado-gado. Dan lebih memilih adiknya untuk meneruskan sekolah daripada dirinya.

Hud, tentang remaja, generasi yang hilang, yang besar di jalanan dan merasa hidup di jalan, yang menjadi seorang pembunuh bayaran. Hud melakukan aksinya bukan karena bayaran yang besar, tetapi karena melihat sebuah tantangan. Bila itu tidak dianggap menantang, sebesar apa pun upah yang didapatkan, dia tidak akan melakukannya. Pergolakan batin Hud terjadi karena dia membenci pada bapaknya yang dianggap telah menelantarkan ibu dan dirinya. Hingga dalam pencariannya, Hud bertekad hendak membunuh bapaknya bila ditemukan.

Contoh-contoh itu, saya anggap sebagai pencarian dan pandangan saya terhadap relung yang belum digarap atau belum banyak digarap—khususnya oleh para pengarang FLP—meski bisa jadi saya salah.

Produktif

Menjadi produktif bukanlah sebuah beban bila kita sudah siap dengan fisik dan mental. Fisik artinya, kita akan berkutat dengan waktu yang cukup panjang berhadapan dengan mesin tik atau komputer. Mental harus mempersiapkan diri menghadapi penolakan, karya yang tidak bagus, suasana yang tidak mendukung dan tiba pada titik jenuh.

Kendala ini pasti akan tiba. Sama seperti yang dulu saya rasakan. Dulu saya cukup produktif menulis, lalu lima tahun saya tinggalkan begitu saja. Alasan pertama, saya tiba pada titik jenuh. Alasan kedua, karena pada saat itu, menjadi pengarang bukan hal yang menjanjikan, sementara hidup harus terus berlanjut. Saya lalu banting setir untuk mencoba beberapa usaha atau kegiatan lain. Ketika meninggalkan dunia mengarang, saya tidak merasakan beban apa-apa, karena saya berpatokan, harus memulai yang baru.

Setelah lima tahun tidak berproses menjadi pengarang, saya mulai memasuki lagi dunia yang saya tinggalkan, setelah bertemu dengan sahabat-sahabat saya, Gola Gong, Boim Lebon dan Ahmad Mabruri. Merekalah yang secara tidak langsung kembali “mengajak” saya ke dunia ini. Meski saat itu saya sempat berpikir, masih punya waktukah saya?

Hal itulah yang pertama saya sikapi dulu. Ketika saya memutuskan kembali menjadi pengarang, saya tekan persoalan demi persoalan dengan menganggapnya bukan sebuah beban. Karena dengan kembali menjadi pengarang, berarti saya harus punya lebih banyak waktu. Akhirnya, saya sisihkan waktu kala Subuh dan malam untuk mengarang dan terpaksa mengurangi jatah tidur saya—yang biasanya saya balas dendam pada hari Sabtu dan Minggu bila tidak ada kegiatan.

Seperti yang sudah saya duga, kesibukan saya bertambah dalam kegiatan yang satu ini. Tapi karena saya sudah memutuskan untuk kembali, itu lagi-lagi saya anggap bukan sebuah beban. Saya biasa berpikir cepat dan saya termasuk orang yang berani mengambil keputusan. Saya juga tidak pernah mengeluhkan hal-hal yang berkaitan dengan kegagalan. Mungkin, itu modal awal saya untuk menjadi produktif.

 Untuk menjadi produktif :

  1. Persiapkan dulu fisik dan mental kita, serta kesiapan kita untuk menjadi seorang penulis.
  2. Biarkan ide-ide bermain dan berkeliaran di benak kita. Jangan pernah kesal bila ide itu lenyap atau hilang begitu saja.
  3. Anggap penolakan atau gagalnya karya yang kita kirimkan, adalah sebuah pembelajaran berharga yang diberikan editor. Saya tidak menganggap itu sebuah pengalaman, karena biasanya akan tiba pada pertanyaan, “ah lebih baik jangan mengirim ke sana, dulu saja naskah saya ditolak”. Tapi lebih pada pembelajaran yang diberikan editor, karena itu akan menumbuhkan semangat kita untuk berkreasi lebih dalam.
  4. Jangan pernah mudah puas dengan apa yang telah kita dapatkan.
  5. Terus saja menulis dan menulis. Menulis apa saja, meski itu hanya sebuah catatan harian

Catatan terakhir :

Setiap kali mengarang, saya tidak pernah membuat karangan baru bila karangan yang saya buat belum selesai. Saya akan menyelesaikannya dulu meski mungkin, memakan waktu yang lama. Dan saya tidak pernah geregetan bila ide baru sudah tertangkap atau muncul di otak saya.

Allahu a’lam. Semoga Allah SWT merahmati kita semua. amin

Wassalamu ‘alaikum wr.wb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: