Ingin Jadi Pengarang, Mulailah Sekarang

Bila kita membaca karangan seseorang, terkadang timbul pertanyaan.  Bagaimana orang itu bisa mengarang? Dari mana idenya? Perlukah diadakan riset, atau memang semata-mata khayalan belaka? Mengapa karangannya enak dibaca? Apakah dia terus mengerjakannya, atau ada masa-masa buntu? Bagaimana menyiasatinya?

Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya sangat mendasar, pun selalu ada bila kita hendak mulai mengarang.

DALANG

Satu yang tak bisa dilupakan, mengarang adalah ibadah (i.e tergantung jenis tulisannya), lantas, bagaimana cara mengarang yang meninggalkan setitik kesan bagi pembacanya?

Kita mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Bagaimana seseorang bisa mengarang, karena dia telah memulainya, dia telah bertekad untuk mengarang, hingga boleh dikatakan ini adalah modal dasar yang pertama.

Kemauan. Ada yang mengatakan, mengarang hanya memerlukan bakat sebanyak 5 %, selebihnya adalah kerja keras. Tapi bagi saya, tanpa kemauan, kerja keras pun tak ada gunanya.

Ide itu bisa muncul dari mana saja, asalkan kita kreatif, mengolahnya dalam pikiran, mengendapkannya atau bahkan kalau mungkin langsung menuliskannya. Ada  pengarang yang sebenarnya tak punya ide apa-apa, tapi begitu menghadapi mesin tik atau komputer, ide itu terus runtun dan mengalir. Mengapa? Rahasianya mudah saja, karena dia telah menguasai bagian-bagian teknik mengarang–terlebih lagi tanda-tanda baca yang tak boleh dilupakan–dan telah mampu menyikapi jalan pikirannya dengan baik untuk menciptakan, mempermainkan, atau memanipulasi tokoh-tokoh ciptaannya.

Dan saya seringkali membiarkan tokoh-tokoh saya bergerak sendiri, saya seperti membiarkan saja apa yang mereka mau pikirkan, lakukan atau pun mungkin bikin gebrakan yang mengejutkan. Saya biarkan tokoh-tokoh itu mengalir begitu saja dan saya jadikan mereka sebagai ‘para punakawan’ sementara saya ‘dalang’nya yang menguasai mereka tapi tidak mengatur mereka.

ADAPTASI

Riset diperlukan? Boleh, bila memang yang hendak kita karang itu sesuatu yang memang memerlukan riset. Misalnya kita hendak mengarang tentang seorang yang pekerjaannya mencari mutiara. Kita harus tahu berapa lama seseorang bisa menahan napas di dalam air. Mutiara yang ditemukannya, apakah sudah dalam bentuk jadi, atau masih perlu diolah. Bila kita tidak mengetahui hal itu, kita perlu membaca buku (dalam arti riset kecil). Atau bila ingin lebih detil sesuai dengan kebutuhan yang hendak kita tulis, tak ada salahnya kita mengamati langsung bagaimana para penyelam mengambil mutiara.

Tapi banyak pula pengarang, termasuk saya, yang seringkali mengadaptasi apa yang telah saya alami, meskipun itu semua dimanipulasi dengan kebisaan kita sendiri. Banyak pula yang mengarang, setelah hasil karangannya jadi, tapi ketika dibaca, terasa hampa, kosong atau garing. Mengapa? Banyak hal yang harus dipahami di sini.

Pertama, kita harus menguasai karakter tokoh-tokoh cerita kita. Tanpa memahami karakter tokoh-tokoh yang kita ciptakan, kita akan terjebak dengan suasana yang kacau. Kelincahan bahasa mempengaruhi? Ya, sangat mempengaruhi, tapi bukan berarti kita mengambil gaya bercerita pengarang lain. Biarkan masing-masing berjalan sendiri dan kita harus menciptakan gaya bercerita kita sendiri.

Kedua, kita harus memahami soal waktu, setting, dialog/dialek.

Ketiga, rangkaian sebab akibat harus selalu ditonjolkan dalam mengarang, hingga cerita menjadi bersih, terangkai dan utuh. Humor perlu tidak? Bila memang diperlukan, mengapa tidak? Jadikan humor hanya sebagai sisipan belaka, agar inti ceritanya tetap utuh dan elemen-elemen ceritanya tidak longgar, kecuali bila memang hendak mengarang cerita humor. Perlu diingat, membuat cerita humor atau komedi itu sebenarnya jauh lebih sulit dari membuat cerita yang cengeng-cengeng.

MOOD

Gimana kalau buntu? Endapkan saja, kaji lagi, baca lagi, tulis lagi. Bila masih buntu? Lakukan hal yang sama, dan gunakan waktu yang luang untuk membuat cerita yang lain. Dengan cara seperti itu, kita mulai bisa mengolah setiap ide yang datang. Mood berperan? Abaikan soal itu. Karena, mood (dalam hal mengarang) adalah kata yang tak boleh dipercaya, selain kata sulit. Bila kita harus menunggu mood datang, kapan kita akan memulai. Bila kita mengatakan sulit, kapan kita akan mempermudahnya?

Satu hal kebiasaan saya yang perlu saya ceritakan di sini, saya tidak pernah memulai sebuah karangan baru bila karangan yang sebelumnya belum jadi. Meskipun dalam keadaan buntu, saya tetap tidak akan memulai karangan yang baru. Saya biarkan saja dan saya tetap tidak memulai karangan yang baru meskipun itu memakan waktu berhari-hari. Mengapa? Mungkin jawabannya, saya tidak mampu menguasai tokoh-tokoh saya yang saya beri kebebasan untuk bergerak sendiri.

 Untuk cerita anak-anak :

  1. Berpikirlah seperti anak-anak, ringan, ceria dan selalu ingin tahu
  2. Jangan membuat cerita yang simsalabim, begitu gampang menyelesaikan masalah
  3. Beri akhir cerita yang menyenangkan, meskipun sad ending tapi tetap dibuat bahagia

 Untuk cerita remaja :

  1. Gunakan bahasa remaja, boleh bahasa gaul atau bahasa sehari-hari
  2. Kalau mungkin ciptakan bahasa sendiri
  3. Jangan mempergunakan bahasa yang mendayu-dayu, karena setiap membaca cerita, biasanya remaja bukan mementingkan bahasa, tapi lebih banyak apa sih yang ingin disampaikan dalam isi cerita, juga, bagaimana sih akhir dari cerita.

Untuk cerita sastra :

  1. Jangan berpatokan pada seorang sastrawan
  2. Gunakan bahasa yang lebih mengutamakan isi ketimbang kata-kata
  3. Jalan cerita boleh diputarbalikkan secara bebas
  4. Beri kebebasan berpikir pada tokoh dan diri kita sendiri.
  5. Biasakan melatih diri mempergunakan kalimat puitis (jangan terjebak menjadi prosa liris, karena sastra juga tidak terletak pada kalimat-kalimat puitis)
  6. Usahakan, agar ending cerita dikembalikan ke pembaca (tergantung pada kemauan si pengarang)

MULAILAH

Tentang tokoh dalam kategori semua cerita itu : BEBAS, SEBEBAS-BEBASNYA SEPERTI BURUNG TERBANG DI LANGIT

 Jadi, mulailah.

  1. Tentukan tema atau gagasan cerita (meski biasanya tema atau gagasan itu tak pernah saya pikirkan sebelumnya)
  2. Mulailah menulis —> bisa dimulai dengan:
    1. suspense (kejutan)
    2. konflik
    3. awal cerita (linier)
    4. deskripsi latar
    5. deskripsi tokoh
    6. dialog
    7. dan akhir cerita

 Merangkaikan Peristiwa.

  1. Membangun konflik dan mengakhiri cerita. Teknik ini pun menurut saya, sama, baik itu menulis cerita pendek atau novel. Hanya yang membedakan, cerita pendek biasanya hanya sekali baca dan tidak banyak konflik. Untuk novel, penggarapannya lebih detil dengan konflik ganda dan biasanya tidak habis sekali  baca.
  2. Menulis
  3. Menulis
  4. Menulis dan biarkan mereka mengalir, mengalir dan mengalir
  5. Jangan khawatir kalau tulisan kita jadi banyak banget yang beredar. Jangan takut menjadi bajaj yang selalu seliweran di jalan. Karena mungkin, Allah memberikan kita kemampuan seperti itu, yang tentu saja kita harus melihat celah apa yang belum tergarap banyak dan bagaimana cara kita menggarapnya.

Mudah-mudahan ini cukup berguna dan maaf  bila ada gagasan yang salah, karena ini hanya pandangan saya–Fahri Asiza–semata.

Allahu’alam

2 Responses to “Ingin Jadi Pengarang, Mulailah Sekarang”

  1. adhe_nitha Says:

    membuat ku semakin terpacu untuk menjadi penulis, makasih ya bang fahri untuk gagasan menjadi penulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: