Kumcer Irwan Kelana, Kelopak Mawar Terakhir

Kumpulan Cerpen “Kelopak Mawar Terakhir” karya Irwan Kelana :

CINTA dan MATA BATIN

Oleh Fahri Asiza *)

dibacakan di bedah kumcer Irwan Kelana, di masjid toko buku Wali Songo, Oktober, 2004

Dua belas cerita pendek terangkum dalam kumcer Kelopak Mawar Terakhir (KMT)

Berbeda dengan tiga cerpen terakhir, Ke Surga pun Kukejar Cintamu, Sebelum Cinta Beranjak Pergi dan Kelopak Mawar Terakhir, yang merupakan trilogi atau satu kesatuan utuh, cerpen-cerpen lainnya berdiri sendiri.

Memiliki nuasana dan jiwa sendiri pula, meski tidak melulu bertemakan cinta.

Apa sebenarnya yang menarik dari cerpen-cerpen Irwan Kelana ini (IK)?

Pernyataan

Ketika memulai membaca KMT, pandangan mata saya tertuju pada beberapa penulis kenamaan yang memberikan komentarnya terhadap karya IK ini. Salah satunya adalah Ahmadun Yosi Herfanda yang nampaknya secara khusus membicarakan trilogi yang ada dalam cerpen ini, seperti yang saya sebutkan di atas (semacam kata pengantar)

Kita mulai menilik dari ungkapan Kurnia Effendi dan kesetujuan Ahmadun, bahwa IK adalah termasuk pengarang yang menulis dengan cara mencintai tokoh-tokohnya dan menyampaikan petuah secara tersembunyi.

Seorang pengarang, memang akan memiliki kekuatan lebih bila dia bisa mencintai tokoh-tokohnya. Dengan cara seperti ini, pengarang akan memberikan porsi yang sama pada setiap tokoh. Tak ada pembelaan terhadap tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Semuanya berjalan runtun, kesiapan yang sama dan realitas yang sama. IK memang membuktikannya dalam hal ini.

Cinta Sebagai Sumber Kekuatan

Tema yang diusung IK dalam KMT ini nampaknya warna-warni tentang cinta. Bukan hanya sebatas cinta antara seorang lelaki dan wanita saja, tetapi cinta dalam ketulusan secara transedental pada Tuhan, yang pandainya diselipkan IK hingga tidak kentara, tapi sangat mengena. Juga tentang cinta atau bakti seorang anak pada orang tua.

Kita lihat pada cerpen Mobil Impian, yang bercerita tentang seorang anak (tokoh aku-Ihsan), yang pada peristiwa 30 tahun gagal mendapatkan pinjaman kendaraan ketika ayahnya sedang sakit, yang akhirnya meninggal. Lalu ibunya berpesan, agar suatu saat dia bisa memiliki mobil. Keinginan memiliki mobil itulah yang digarap IK secara apik. Bagaimana IK mempermainkan psikologis sang tokoh dengan berbagai masalah, yang tetap bertujuan ingin mewujudkan keinginan ibunya mempunyai sebuah mobil. Mobil berhasil dimiliki, dan sang Ibu menaikinya pada saat-saat terakhirnya. Ironis? Bisa jadi. Tapi pesan tunggal yang saya tangkap di sini bukanlah tentang mobil impian, melainkan pesan-pesan yang mencerahkan dari sang ibu kepada anaknya.

Di samping kekuatan cinta, yang terusung pula adalah pengasahan dari mata batin IK. Sebagai seorang wartawan, IK, sudah tentu memiliki “penglihatan” dan “penciuman” dari orang orang “biasa”. Nama-nama daerah yang dijadikan sebagai setting cerita, membuktikan kalau IK memang seorang pengamat yang baik. Juga tentang tempat-tempat yang nampaknya pernah dikunjungi IK.

Ini tergambar pada cerpen Cinta Tiga Malam. Meski memang agak “ajaib”, tapi cerpen ini mengusung napas pencerahan yang mencengangkan.  Tentang percintaan Gagas, seorang wartawan dengan Pauline, pengusaha Travel di Manado. Kenapa saya mengatakan agak “ajaib”? Bahwa cinta itu tidak mengenal warna dan bisa datang kapan saja, itulah jawabannya. Mungkin nanti IK sendiri bisa menjelaskan makna yang ingin dicapainya sebenarnya dalam cerpen ini.

Kalau Cinta Tiga Malam agak “ajaib”, saya menangkap kesan lain pada cerpen Pulang. Tentang kegamangan seorang wanita yang tidak berani menikah karena khawatir tidak bisa lagi membantu orangtuanya. Lalu penyelesaian dengan mudah terjadi. Terlalu gampang. Berbeda dengan cerpen lainnya yang memainkan psikologis manusia, dalam cerpen Pulang, IK nampak agak tergesa-gesa menyelesaikan cerpennya, karena (saya menganggap) cerpen itu sebenarnya belum tuntas. Mungkin IK juga bisa memberikan jawabannya nanti.

Bisa dibandingkan perbedaannya dengan Biarkan Aku Pergi. Keputusan yang diambil sang Tokoh, Sheila, untuk berpisah (bercerai) dengan suaminya, memberikan gambaran, bahwa wanita pun memiliki hak untuk melakukan hal itu bila tak ada jalan lain untuk menghindari kekerasan yang dilakukan suaminya. Sayangnya, IK menyelipkan tokoh Galih, yang pernah mencintai Sheila, hingga terkesan adanya pemaksaan lain dari sikap Sheila mengambil keputusan. Juga tidak tergambarnya kekerasan yang dilakukan suami Sheila terhadap Sheila.

Mata Batin

Sebagai seorang wartawan, IK memang sudah teruji naluri kewartawanannya. Pada cerpen Rumah Orang Kaya, ketika membacanya saya tidak menyangka akan dibawa ke sebuah persoalan tembok pembatas antara kompleks orangkaya dengan rumah-rumah orang kampung, hingga para siswa yang hendak bersekolah harus berputar arah dan menyeberang sungai. Cerpen ini berhasil menipu saya. Terlebih lagi ketika IK mengangkat kesenjangan sosial yang terjadi. Hal yang membumi sebenarnya, yang sudah banyak bentuk nyata saat ini.

Hal senada sebenarnya juga tergambar pada cerpen Penembak Gelap, meski napasnya berbeda. IK begitu kental memainkan psikologis dari seorang hakim yang ketakutan dan yakin nyawanya terancam. Dengan mata batinnya sebagai seorang wartawan, IK berhasil menelanjangi siapa hakim itu sebenarnya. Cerpen ini saya anggap, jauh lebih berhasil dari cerpen-cerpen yang lain.

Pengamatan IK sebagai wartawan tergambar pula dalam cerpennya Fatamorgana yang mengisahkan Isabella, seorang bintang sinetron dan bintang iklan yang ternyata pernah menikah tetapi tak mau mengakui anak dan suaminya. Di sini kembali IK memperlihatkan kehandalannya ketika mempermainkan sisi psikologis manusia hingga terlihat realistis tanpa ada bumbu apa-apa.

Dan ide yang tidak biasa, diperlihatkan IK pada cerpen Penodong. Tetap dengan pengamatan sebagai seorang wartawan, IK menunjukkan kesenjangan sosial yang ibarat langit dan bumi. Tentang seorang penodong yang menodong dua remaja yang ternyata anak-anak penggede. Realitas pahit ditunjukkan IK, ketika sang penodong yang menjadi pangkal bencana bagi para penggede, ditemukan tewas.

Pada cerpen Permata, yang mengungkapkan kesedihan seorang ayah melepas putrinya menikah, saya agak tercengang. Karena, ada wasiat yang disampaikan oleh sang ayah terhadap Permata, yang mengutip pernyataan Khadijah Al-Faazari pada putrinya yang bernama Asma. Saya juga pernah mengutip hal yang sama untuk cerpen yang dimuat antologi bersama Pintu itu Masih Terbuka. Hal ini menunjukkan, paling tidak, saya nyaris setingkatlah dengan IK.

Tentang Trilogi

Dani yang seorang wartawan, jatuh cinta pada  Tita, seorang dokter yang merawatnya. Meski saat itu Tita bersuami, Dani tetap teguh pada cintanya. Suatu ketika istri Tita meninggal akibat kecelakaan pesawat terbang. Jalan pun terbuka buat Dani. Tapi IK rupanya tidak mau memberi kesempatan Dani demikian mudah. Tita saat itu ternyata sedang mengandung Guntur. Jalan pun tertutup kembali. Dani mencoba menunggu. Tapi maut telah menjemputnya saat dia bertugas di Aceh.

Cinta manusiawi, cinta yang masuk akal dan cinta yang masih memegang teguh pada norma-norma keislaman. Trilogi terakhir yang pernah dimuat di Republika ini, merupakan untaian cerpen yang paling memberi warna dalam KMT.

Lagi-lagi IK begitu santun saat berbahasa.

Sebaiknya IK mulai memikirkan pengemasan lain dari triloginya ini. Dikemas lebih dalam, lebih padat untuk dapat dinikmati secara utuh dalam setiap perjalanan para tokohnya, untuk menjadi sebuah novel.

Letak Kekuatan Cerpen IK

Bahasa yang santun merupakan salah satu kekuatan yang dimiliki IK. Bahasanya mengalir lancar, kalem, lembut dan tidak menggebu-gebu. Pemilihan setiap kata, sepertinya sangat dipegang teguh oleh IK. Karena tak nampak kata-kata “aneh yang bias”, hingga pembaca bisa menikmatinya secara utuh. Bermakna lugas, sederhana dan padat. Mungkin kebiasaan IK sebagai seorang jurnalis yang selalu mengedepankan bahasa Jurnalistik. Mengutip pernyataan Ahmadun, tentang dialog, terkesan arif dan dan bijaksana.

Pemilihan ide yang ditampilkan IK pun membuat KMT semakin berwarna. Kekuatan cinta pun menjadikan warna tersendiri buat IK. Cinta yang tidak kacangan, cinta yang tidak basi, diangkat menjadi cerpen yang digarap apik dan enak dibaca. Sorot mata batin IK saat menangkap fenemona yang ada saat ini, memberi kesan tersendiri. IK tidak tanggung-tanggung ketika mencoba “menguliti” tokoh-tokohnya karena kebejatan yang dilakukan sang tokoh. Mestinya ada nada sinis pada cerpen-cerpen IK yang bernapaskan sosial, seperti Rumah Orang Kaya, Penodong dan Penembak Gelap. Tapi bahasa yang santun menyebabkan hilangnya kesinisan itu.

Satu hal lain yang patut digarisbawahi, berbeda dengan cerpen-cerpen kebanyakan yang mengusung masalah seks, gender, atau pun gejala sosial, IK lebih memberikan bayangan tersendiri pada cerpen-cerpennya. Napas islami yang benar-benar mencerahkan, memberikan makna yang dahsyat ketika membacanya.

Seperti ungkapan sederhana, “Kamu sudah shalat, San?” (Mobil Impian, hal. 5, 6, 15). Sebuah pernyataan yang benar-benar sederhana tapi sangat mengingatkan. Faktor inilah yang membuat cerpen-cerpen IK dalam KMT ini boleh dianggap sebagai dakwah indah yang menyejukkan jiwa. Dan saya jadi teringat, ketika ada mengatakan, hal-hal semacam itu cerpen-cerpen bernapaskan islami menjadi kacangan. Andaikata mereka meresapi makna yang disampaikan IK, mereka akan menyesal pernah mengucapkan seperti itu.

Catatan Terakhir

Pembicaraan ini saya tutup dengan ucapan selamat pada Irwan Kelana dan Penerbit Bening Publishing atas kumcer Kelopak Mawar Terakhir.

Catatan : Irwan Kelana adalah salah seorang Redaktur di Republika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: