Buku dan Sifat Kemanusiaan

Ketika menuliskan hal ini, saya tidak berpikir tentang segala teori yang mendukung, tidak pula memikirkan teori-teori yang hebat. Jadi bila tulisan ini dibaca, siapa pun yang membaca akan kecewa karena tak menemukan teori-teori yang kadang njlimet, kadang bisa dibantah dengan teori lain, dan kadang tidak pada tempatnya. Jadi yang saya tulis ini hanyalah pikiran saya semata dan dari beberapa pengalaman.

Buku buat saya adalah dunia tersendiri yang mengasyikan, hingga saking asyiknya berkencan dengan buku, kadang saya sampai lupa makan atau mandi. Bahkan satu ketika, saya pernah jatuh sakit karena siang malam memaksakan menghabisi sebuah buku yang menarik perhatian saya.

Buku bukanlah sesuatu yang istimewa, tapi dia adalah sesuatu yang unik. Barang mati yang “hidup” yang mencerminkan isi dari rasa dan hasil pemikiran manusia (penulisnya). Dalam rasa, manusia menumpahkan seluruh rasa yang dimilikinya. Bisa jadi rasa humor, rasa amarah, rasa bahagia, rasa sedih, bahkan rasa dendam. Dalam pemikiran, manusia menumpahkan sisi dramatik dalam sebuah kehidupan untuk dapat dibagi pada orang lain. Orang lain bisa menerima rasa atau pemikiran itu, kadang berkaitan pula dengan sifat kemanusiaan yang dimiliki manusia-manusia itu. Dalam batasan hitam-putihnya, ada yang menerima dan ada yang tidak.

Berarti di sini ada dua sisi sifat kemanusiaan. Pertama, dari sisi si penulis. Kedua, dari sisi si pembaca. Apakah keduanya secara tidak langsung dapat berkolaborasi? Tergantung di sisi mana sifat kemanusiaan itu berada.

Buku kadang juga dianggap sebagai jendela pengetahuan yang siapa pun bisa mengetuk dan masuk ke dalamnya. Buku juga dianggap sebagai “pesawat terbang” yang bisa membawa kita ke mana saja. Ke alam nyata maupun ke alam imajinasi. Hanya dari sebuah buku, kadang seseorang bisa mengetahui tentang negeri yang tidak pernah dikunjunginya secara detil.

Lantas di sisi mana sifat kemanusiaan yang hendak saya bicarakan?

 Sisi Penulis

Bukan gagasan baru bila dikatakan, tanpa seorang penulis, tak akan pernah ada sebuah buku. Penulis adalah sosok yang berusaha menjiwai buku-buku yang ditulisnya agar dapat ditampilkan secara mewah. Terkadang, banyak penulis yang hanya mencomot teori sana-teori sini, lalu mengkombinasikannya dan menjadi sebuah teori baru tanpa penelitian apa-apa dan menganggapnya itu adalah hasil teorinya. Kadang banyak penulis yang mengulang-ulang gagasan yang sama tetapi melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Saya pernah membaca sebuah buku ilmu pengetahuan, dari judul, perwajahan buku, saya langsung tertarik untuk membelinya. Tetapi setelah saya baca, si penulis hanya mengambil teori ini dan itu, menggabungkannya dan menelurkannya menjadi sebuah gagasan yang dianggapnya baru. Padahal, gagasan itu sangat basi dan hanya pengulangan-pengulangan dari buku-buku yang sudah ada. (saya utarakan ini, sebagai pembaca yang kecewa)

Di sini, saya menganggap sisi kemanusiaan dari si penulis, hanya untuk menerbitkan sebuah buku belaka. Padahal, yang ditulisnya adalah ilmu pengetahuan.

Ada pula saya membaca sebuah buku, yang isinya lebih banyak mencoba memutarbalikkan fakta. Menghancurkan fakta sebenarnya, lalu memberikan fakta baru yang jelas-jelas hasil rekayasanya. Saya juga pernah membaca buku, yang setelah saya kaji lebih dalam, hanyalah sebuah “ajang balas dendam”. Entah pikiran si penulis yang mendendam, atau mendendam pada sebuah keadaan. Banyak yang menyukai gagasan-gagasan seperti itu. Tapi buat saya, itu hanyalah sebuah pepesan kosong yang tak berbunyi.

Sisi kemanusiaan yang paling humanis, ketika si penulis mencoba mengungkapkan sebuah kebenaran tanpa pretensi membalas dendam, tanpa keinginan untuk menghakimi dan sebagainya. Sisi lainnya, ketika si penulis benar-benar mencurahkan segala rasa dan pikirannya dengan memberikan yang terbaik dalam gagasan-gagasannya. Bolehlah mencomot teori sana-sini sebagai penunjang kebenaran fakta yang hendak diungkapkan, karena ini akan memberikan sebuah pendapat bahwa penulisan itu tidak bersifat subyektifitas.

Kematangan rasa dan kematangan berpikir, akan membuat si penulis dapat menerobos dinding tebal menuju keberhasilan, daripada berhasil tetapi memberikan sesuatu yang justru tidak ada manfaatnya.

Sisi Pembaca

Kalau pembeli adalah raja, maka pembaca adalah raja. Pembaca bisa memilih atau membuang buku yang dipilihnya. Disukai atau tidak menyukai, itu adalah hak sepenuhnya bagi pembaca. Pembaca pun dapat mengkiritik atau memberikan komentar seputar buku yang dibacanya. Buku itu bagus atau tidak, bisa berbeda dari pandangan pembaca satu dengan pembaca lain.

Biasanya, keinginan mengungkapkan sebuah ketertarikan pada sesuatu hal. Kebutuhan, sebuah realisasi dari sebuah keinginan. Membaca buku berawal dari sebuah keinginan (ketertarikan), tetapi bisa pula karena sebuah kebutuhan. Pelajar atau mahasiswa hampir rata-rata (pengalaman saya), membaca buku karena kebutuhan, untuk menunjang sistem belajarnya. Di mana pun buku yang dibutuhkan berada, pasti akan diburu. Tapi ada kalanya, juga karena faktor keinginan. Keinginan di sini bermacam-macam bentuknya. Dari hanya sekadar ingin punya, hingga akan berubah menjadi kebutuhan.

Tak bisa dipungkiri, pada satu masa (baik yang lalu, sekarang maupun yang akan datang), keinginan terhadap buku akan berubah menjadi sebuah kebutuhan yang paling mendasar dan mendesak. Ada yang butuh untuk menghibur diri, ada yang butuh untuk menambah pengetahuan, ada yang butuh karena sekadar gaya, ada yang butuh karena ingin mempertebal iman, ada yang butuh dan ada yang butuh lainnya.

Di sinilah sisi kemanusian dari pihak pembaca yang saya maksudkan, bahwa pembaca tetaplah seorang raja, dari sisi keinginan dan kebutuhan.

Perpustakaan Pribadi

Tidak etis bila saya hanya membicarakan orang lain tetapi tidak membicarakan diri saya sendiri. Kebetulan, saya mempunyai sebuah perpustakaan pribadi yang jumlah bukunya sudah lewat dari 10.000 judul baik yang produk dalam negeri maupun produk luar. Bahkan mungkin ada beberapa buku yang sama, karena saya tidak lagi mencatatnya seperti dulu. Saya pribadi tidak yakin, apakah semua buku itu sudah saya baca, meski saya menganggap, bahwa saya sudah membaca semuanya. Bahkan ada yang berulang-ulang saya baca.

Buku-buku itu sudah saya koleksi sejak saya duduk di bangku kelas empat SD, karena kegilaan saya membaca sudah muncul pada saya SD. Jadi ada sejumlah buku yang usianya sudah menginjak 25 tahunan, yang saya tempatkan pada rak bagian atas.

Semasa saya kuliah dulu, ada prinsip di kalangan mahasiswa (khususnya teman-teman saya), “Buku yang dipinjam itu tidak akan hilang, tetapi tidak pernah pulang.” Karena itulah, karena begitu cintanya saya pada buku-buku saya, kadang saya tidak mengizinkan buku itu dipinjam untuk dibawa.

Saya pernah tenggelam dalam perpustakaan saya itu. Baik sebelum saya menikah maupun setelah saya menikah. Buat saya, itulah dunia yang paling mengasyikan. Saya bisa membaca sambil duduk, tiduran, maupun sambil menelepon. Dunia itu sempat mengubah saya menjadi asing dengan dunia luar, tetapi tahu apa yang terjadi di dunia luar—yang saya dapatkan dari buku-buku yang saya baca. Setelah penat melakukan aktivitas sehari-hari, saya lebih suka beristirahat sejenak di perpustakaan saya daripada di kamar.

Aroma yang keluar dari buku-buku itu seolah menjadi obat bius buat saya terlelap. Memandangi jajaran buku-buku yang kadang saya suka bertanya, kenapa bisa sebanyak ini, memberikan sebuah pandangan paling indah yang pernah saya lihat.

Lalu sisi kemanusiaan apa yang hendak saya utarakan di sini? Ketika mengumpulkannya dulu, saya hanya menganggap itu bagian dari hidup saya saja tanpa pernah memikirkan apa yang terjadi kemudian. Sedangkan saat ini, saya berpikir, kalau inilah salah satu bagian yang akan saya wariskan pada anak saya. Warisan ini saya anggap tak ternilai harganya, karena di dalamnya banyak pikiran-pikiran orang besar tentang segala dramatik kehidupan baik yang bersifat fiksi maupun ilmu pengetahuan juga ada pengajaran-pengajaran yang begitu indah. Di dalamnya pun banyak buku-buku yang berisi pertentangan satu hal dengan hal lain, teori yang satu dengan teori yang lain. Ini pula yang menjadi point penting dari apa yang saya wariskan pada anak saya. Bahwa, ketika membaca sebuah buku, pergunakan satu hari untuk berpikir tentang isinya. Dan bahwa, dunia ini tak pernah lagi seindah masa kecil ketika seseorang sudah beranjak remaja dan dewasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: