Honor, Alasan Menulis dan Mood

Saya ingin sedikit menceritakan tentang pengalaman saya yang berkaitan dengan judul di atas, karena nampaknya, terkadang honor menulis menjadi patokan utama dari kita menulis. Tidak bisa dipungkiri, memang itu salah satu tujuan kita.

TENTANG HONOR
Tapi ingatkah kita, ketika pertama kali dulu mulai menulis? Saya pribadi, mulai menulis dulu karena saya merasa, mengapa saya tidak bisa menulis sementara yang lain bisa menulis? Lalu saya pun mencoba-coba. Alhamdulillah, tidak banyak hambatan meski banyak pula yang ditolak. Cerpen lewat, cerbung lewat, artikel lewat, essay lewat, resensi buku dan film lewat, puisi lewat, bahkan ojek pun lewat… hehehe… Bahkan novel pertama saya (tahun 1986) langsung diterima dan diterbitkan oleh Gramedia. Beberapa tahun kemudian, saya mulai gencar menulis drama remaja untuk TVRI. Saya juga merambah menulis sandiwara radio. Juga menulis naskah panggung yang pernah dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta dan Graha Bakti Budaya, TIM. Semuanya otodidak, tidak ada pembelajaran. Karena pada saat itu, sosok penulis adalah sosok yang “angker” yang jarang sekali mau berbagi ilmunya (ini pengalaman saya).

Ketika melihat tulisan saya yang dimuat di media, nggak perrnah terpikirkan pula soal honor. Yang terpenting, dimuat. Menulis lagi dan menulis lagi. Dari berbagai media yang saya masuki, saya baru tahu berapa honor yang bisa saya dapatkan dari masing-masing media.

Lalu mulailah timbul tidak puas. Saya mulai berpikir, nggak mau ngirim ke media anu karena honornya kecil, mending ke media yang anu karena honornya gede. Setelah itu pun timbul rasa tidak puas, kalau dulu tidak memikirkan honor, kalau dulu tidak mau nulis lagi di media yang honornya kecil, sekarang ketika honor itu terlambat saya jadi kesal, sebal dan bin gondok.

Padahal dulu, ketika menulis saya tidak memikirkan honornya sama sekali. Dimuat saja sudah girang banget, tapi sekarang mengarah pada honor. Di sini saya mulai mengkaji. Kenapa saya tidak mau menulis lagi di media yang pertama kali memuat karya saya? Kenapa saya lebih memilih media yang memberikan honor besar?

Setelah mengkaji beberapa lama, saya kembali pada pola semula. Mengirimkan naskah ke semua media. Dimuat atau tidak, saya tidak perduli. Honornya besar atau kecil saya tidak perduli. Segera dibayarkan atau tidak saya tidak perduli. Karena saya beranggapan, bisa saja media tersebut tidak akan memuat tulisan saya. Jadi kalau dimuat, mungkin pula ada faktor keberuntungan, sudah dikenal dan bisa memakai beberapa nama samaran yang berbeda. Atau bisa jadi karena memang karya itu bagus.

Lalu, ingatkah kita, ketika kita berusaha untuk terus menulis dan menulis hingga akhirnya tulisan itu dimuat? Berapa banyak uang yang sudah kita keluarkan, baik untuk biaya pos maupun biaya transportasi. Dan pengeluaran yang berhubungan dengan biaya. Kita nampaknya sama sekali tidak memperdulikan hal itu, kecuali terus berusaha agar tulisan kita semakin bagus dan layak dimuat.

Setelah jadi, kita mulai mempermasalahkan tentang honor. Seperti yang sama saya alami pada zaman dahulu kala. Ini manusiawi, ini sah. Tapi bagaimana kalau kemudian kita berpikir nyantai, “Nanti honor itu juga dibayarkan.” Mungkin sekali waktu kita sedang terdesak soal keuangan, hingga ketika tulisan kita dimuat, kita sangat mengharapkan honor itu akan segera dibayarkan. Tapi bagaimana kalau tulisan itu tidak dimuat-muat? Bagaimana kita mengatasi soal keuangan kita yang terdesak? Tentunya kita akan berusaha terus untuk menulis atau mencari pekerjaan lain yang menghasilkan uang.

TENTANG ALASAN MENULIS

Dulu alasan saya menulis, karena saya ingin membuktikan pada diri saya sendiri, kalau saya bisa seperti yang lainnya (para pengarang) yang bisa menulis dan menghasilkan sebuah karya. Setelah itu ya berubah, untuk mendapatkan honor. Setelah itu berubah lagi untuk mendapatkan honor yang jauh lebih besar. Tingkatan alasan ini bisa berlainan pada siapa saja dalam suasana apa pun. Tapi itulah sebabnya saya menulis pada ketika itu.

Pada masa sekarang, alasan saya menulis, karena saya “diledek” pak Mabruri. Karena saya “disinggung” Boim Lebon. Karena saya “melihat” Gola Gong. Ketiga orang inilah yang membuat saya kembali menulis lagi, padahal lima tahun sudah saya tinggalkan dunia itu. Setelah tahu bentuk-bentuk tulisan (khususnya FLP) saya mengubah pola saya lagi. Setelah ada “ajakan” dari ketiganya, saya menulis untuk berdakwah. Meskipun mungkin, sama sekali tidak tepat dikatakan seperti itu, meskipun mungkin, hanya kecil saja yang saya sampaikan. Hingga kemudian berubah menjadi berdakwah dan mencoba menghibur.

Alasan yang sangat subyektif mengapa saya menulis, karena saya tidak sedang mencuci, karena saya tidak bisa bernyanyi, karena saya tidak sedang menyapu, karena saya tidak sedang berolahraga, karena saya… banyak sekali, bahkan terlalu banyak karenanya…

Jadi porsi yang tepat mengapa saya menulis, karena saya ingin menulis. Bila saya tidak ingin menulis, maka saya tidak akan menulis. Dan sangat asyik menyimak alasan teman-teman mengapa menulis.

TENTANG MOOD
Mood adalah kata yang tidak boleh dipercaya dalam hal mengarang, selain kata sulit. Jangan pernah percaya dengan kedua kata-kata itu. Menurut saya, kerja keras pun tidak boleh dipercaya pula kalau tidak suka membaca atau membaca karya-karya yang pernah diterbitkan. Kemauan, menurut saya, kemauanlah pangkal dari semuanya, bukan hanya dalam hal menulis, tapi dalam melakukan apa pun. Tanpa kemauan, kerja keras pun tak ada gunanya. Jadi, tumbuhkanlah kemauan, kemauan dan kemauan untuk bekerja keras menghasilkan sebuah karya. Biarkan semuanya mengalir, mengalir dan mengalir.

KESIMPULAN
Honor buat saya itu nomor dua, nomor satunya… nggak ada… hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: