Fahri Asiza : Bertualang Lewat Novelnya

Dimuat di Republika, Minggu, 25 April 2004

Sekali membuka novel petualangan karya Fahri Asiza, sulit berhenti membacanya sebelum selesai.

Jembatan hitam itu seperti ditakdirkan menjadi tempat yang menyeramkan. Nun di bawah sana, sepasang mata berkilat-kilat siap menerkam mangsa. Suasana makin mencekam ketika turun hujan. Namun Marsha harus melewati jembatan yang menakutkan itu. Jembatan yang saat pembangunannya memakan korban empat orang tewas secara mengenaskan, 20 tahun yang lalu.

”Dari cerita yang pernah didengarnya, empat orang pekerja tewas meluncur dari kerangka jembatan itu. Dan sejak kejadian itu, tak ada lagi niatan untuk meneruskan jembatan sepanjang dua puluh meter yang melewati sungai di bawahnya. Entah kenapa. Yang terdengar kemudian bermacam cerita aneh dan mengerikan.”

Pada siang hari, pemandangan di sekitar jembatan itu memang sangat indah. Pemandangan di belakang jembatan dipenuhi pepohonan dan pebukitan yang menghijau. Namun bila malam tiba, tempat itu berubah 180 derajat menjadi tempat yang membuat bulu kuduk orang yang lewat pasti berdiri.

Bermula dari jembatan hitam itulah, Marsha mengalami teror demi teror yang membuat hidupnya jadi penuh ketakutan. Sampai-sampai orangtuanya berpikir Marsha mengalami gangguan psikis dan harus dibawa ke psikiater. Di tengah hujan teror itu, Marsha harus bersaing dengan temannya bernama Herda, untuk ”memperebutkan” perhatian cowok ganteng bernama Gerry. Ia tidak mau berada di bawah bayang-bayang Herda yang cantik itu. Ia harus melenyapkan Herda. Namun ternyata dalang di balik semua itu adalah orang yang tak pernah terduga oleh Marsha.

Cerita seru dan mencekam itu bisa dinikmati dalam buku Teror di Bawah Hujan karya Fahri Asiza. Buku itu diterbitkan oleh Senayan Abadi Publishing (Maret 2004).

Zamila bersama ketiga sahabatnya –Irawan, Muslim, dan Komariah– berusaha memberantas peredaran obat terlarang di sekitar kompleks tempat mereka tinggal. Berbagai usaha mereka lakukan. Namun ternyata hal itu tidak mudah. Zamila berkali-kali diancam lewat teror telepon maupun ancaman langsung. Butik milik ibunya dirusak orang. Pelaku menumpahkan cat ke pakaian maupun dinding dan lantai butik. Muslim ditusuk orang. Pelakunya tiga orang yang memakai tutup wajah. Untunglah nyawanya bisa diselamatkan.

Pada saat bersamaan, datang seorang pemuda bernama Jimmy yang mengajak Zamila untuk membantu perkumpulan guna membantu para korban narkoba. Zamila beberapa kali menghadiri pertemuan perkumpulan itu. Dia berusaha untuk memberikan pengarahan rohani kepada para korban narkoba itu agar kembali ke jalan yang benar. Namun teror terhadap Zamila tak kunjung berhenti. Bukan sekadar ancaman biasa, tapi sudah menyangkut keselamatan nyawanya.

Hingga suatu hari, Zamila dibawa ke suatu tempat sepi di tengah desa, dan nyawanya akan dihabisi oleh sindikat narkoba itu. Siapakah orang di balik semua rencana jahat itu? Mampukah Zamila menyelamatkan dirinya? Dan mungkinkah sindikat narkoba itu ditangkap polisi?

Untuk mengetahui akhir kisah ini, pembaca harus membaca sampai tuntas buku karya Fahri Asiza berjudul Kekasih Rembulan. Buku ini diterbitkan oleh Gema Insani (Maret 2004).

Kalau saja boleh, Diva lebih memilih naik gunung, kemping bareng teman-teman dan latihan karate sampai keringatan, dibandingkan menuruti kehendak Mama. Sang Mama, orangtua satu-satunya yang dia miliki saat ini, sangat ingin agar Diva menjadi model top. Bukan sekadar alasan materi, tapi juga karena Mama ingin membalas Tante Elis dan Nora yang selalu menyombongkan diri dengan kekayaan mereka, dan kerap menghina Mama.

Diva sebetulnya sama sekali tidak pernah mimpi menjadi bintang. Dia pun awalnya enggan untuk memasuki dunia model. Namun demi membahagiakan mamanya, akhirnya dia bersedia untuk ikut audisi, dan terpilih. Namun hal itu merupakan awal segala petaka yang dihadapinya. Nama baik Diva dirusak. Nama baik Mama juga terus-menerus dicemarkan oleh orang-orang misterius. Demikian pula teror dan tekanan dari Nora tak pernah berhenti. Ya, Nora yang sangat berambisi dan siap melakukan apa saja untuk menjadi bintang. Semakin Diva berusaha bangkit, semakin keras tamparan yang menderanya.

Apakah Diva akan tetap bertahan di dunia hiburan itu? Dan siapakah orang jahat yang berada di belakang kekisruhan itu? Bagaimana nasib Nora, berhasilkah ia menjadi bintang? Akhir cerita ini sungguh tak terduga. Fahri Asiza meramunya dalam novel berjudul Diva!. Novel ini diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing House (Desember 2003).

Ketiga novel di atas ditulis oleh Fahri Asiza, cerpenis dan novelis muda yang sangat produktif. Dia bukan orang baru dalam dunia kepenulisan. Bukunya telah banyak diterbitkan. Serial LUV di RCTI yang banyak digemari anak-anak muda tak lepas dari goresan tangannya. Fahri, yang juga dosen, dikenal sebagai penulis yang banyak menyelami dan mengupas dunia anak-anak muda.

”Mas Fahri Asiza mempunyai banyak penggemar di kalangan remaja. Buku-bukunya sangat disukai oleh remaja,” ungkap Direktur Operasional Senayan Abadi Publishing, Ghalib Al Katiri. Hal senada dikatakan Chief Executive Officer (CEO) Lingkar Pena Publishing House, Asma Nadia. ”Mas Fahri adalah penulis spesialis novel untuk remaja. Lewat novel terbarunya, Diva! mengukuhkan kiprahnya dalam dunia gaul anak muda,” tegasnya.

Banyak penulis muda yang meracik kisah cinta. Namun Fahri –lelaki yang mulai menulis di media massa sejak kelas I SMP dan menerbitkan novel pertamanya saat kelas III SMU– tidak hanya terpaku pada romantika percintaan. Pengarang yang telah menerbitkan puluhan novel itu meramu kisah-kisah petualangan. Plot ceritanya sangat menarik dan sering tidak terduga, alur ceritanya sangat lancar, bahasanya akrab dan mudah dipahami oleh pembaca remaja.

Sekali membuka novel petualangan karya Fahri Asiza, sulit berhenti membacanya sebelum selesai. Kepiawaian Fahri mengolah cerita membuat pembaca terpaku dan penasaran untuk membaca novel-novel karyanya sampai habis. ”Saya sengaja menulis kisah-kisah petualangan, karena saya melihat ada ceruk yang belum diisi. Kebanyakan penulis kita, khususnya yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP) menulis tema cinta. Tema suspense masih sangat sedikit yang menggarapnya,” begitu pengakuan Fahri saat berbincang dengan Republika pekan ini.

Namun bukan sekadar cerita petualangan biasa yang diangkat oleh Fahri. ”Melalui kisah-kisah petualangan itu saya menyelipkan pesan-pesan moral dan agama kepada para pembaca remaja. Mudah-mudahan dengan cara ini mereka dapat memetik hikmah dan manfaat tanpa merasa digurui,” tandas Fahri Asiza. (irwan kelana)

                                                                 ***

CERPEN 1 JAM, NOVEL 3 HARI

”Saya heran, Mas Fahri itu kok bisa produktif sekali. Bukunya terbit secara serentak di berbagai penerbit. Mas Fahri itu ‘menjajah’ para penerbit dengan karya-karyanya,” kata novelis dan cerpenis Islami terbaik, Asma Nadia. ”Saya juga heran sama Fahri. Dia itu luar biasa produktif. Gila banget,” kata Gola Gong, cerpenis, novelis, dan penulis skenario sinetron Islami yang sangat terkenal. Pipiet Senja pun tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap penulis kelahiran Jakarta, 6 September 1968 itu. ”Mas Fahri itu sangat rajin dan produktif. Kalau diminta naskah buku oleh penerbit, hanya dalam beberapa hari atau satu minggu dia sudah mengirimkan naskahnya,” kata Pipiet Senja, penulis senior yang sering menjadi inspirasi bagi para penulis muda.

Fahri Asiza mengaku telah menghasilkan lebih dari 250 cerpen dan puluhan buku novel maupun antologi cerpen. Khusus tahun 2003, ia telah menerbitkan lebih 20 judul buku! Apa rahasia produktivitas Fahri? ”Sederhana saja, yakni disiplin menulis. Saya tiap pagi menulis, antara pukul 04.30 dan 05.30. Lalu malam hari, pulang kerja saya juga menulis sekitar satu jam,” kata Fahri. Namun banyak penulis yang mungkin iri kepada Fahri. Ia seperti menyimpan bakat yang luar biasa. Fahri mampu menulis cerpen dan novel dalam waktu sangat singkat. ”Saya menulis satu cerpen selama satu jam, dan novel antara tiga sampai tujuh hari,” ungkap Fahri. (ika)

One Response to “Fahri Asiza : Bertualang Lewat Novelnya”

  1. wah aku terkagum-kagum dengan mas fahri ini. top dech pokoknya..
    sip teruskan bakat anda mas.. moga sukses selalu n jadi penulis inspirator bagi generasi bangsa ini…
    sip penulis adalah salah satu cita-citaku, ku ingin sekali menjdai penulis ya semacam mas fachri inilah menulis tantang arti hidup dalam kehidupan, bagaimana kita bisa menjadi manusia yang memnusiakan manusia.
    sebab sebuah pepatah arab ( pesan Sayyidina ali Ra) : ” jikalau kau tidak menjadi seorang ulama ataupun anak raja ( pangeran maka jadilah penulis”.
    kata-kata inilah yang memotivasiku untuk menjadi penulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: