Novel Science Fiction Efi F. Arifin

Efi, Rekha dan Fiksi Ilmiah*

(bahasan tentang novel science fiction  NSJ 2122 MUMI LEGENDA

karya Efi F. Arifin)

Oleh : Fahri Asiza

*disampaikan pada Launching Mumi Legenda yang diselanggarakan oleh Penerbit DAR! Mizan,  Sabtu 26 Juni 2004, pukul 11.00 di Book Fair, Senayan, Jakarta

Assalamu ‘alaikum wr.wb

Pengantar

Setiap kali membaca sebuah karya (karya apa saja dari penulis siapa saja), saya selalu mengosongkan diri dulu. Dalam arti, bukan sebagai penulis, tapi sebagai seorang penikmat dari sebuah karya tulisan (fiksi) dan sebagai seorang pelajar yang sedang membutuhkan sebuah pembelajaran (pengetahuan).

Ada kecenderungan berbeda ketika saya membaca sebuah novel biasa dengan novel berbau fiksi ilmiah. Perbedaan itu antara lain, ketika hendak membaca sebuah fiksi ilmiah, yang tergambar di otak saya adalah betapa njelimetnya menjelaskan sesuatu yang berbau ilmiah. Terlebih lagi bila setting yang dipakai puluhan bahkan ratusan tahun mendatang dari masa sekarang. Saya langsung membayangkan fantasi dan imajinasi dari si penulis tentang keadaan pada masa yang akan datang. Di mana tentunya, segala sesuatunya jauh berubah. Karena ini berhubungan dengan kata “ilmiah”, saya juga membayangkan segala sesuatunya pasti berhubungan dengan ilmu pengetahuan—meski itu hanya khayalan semata.

Fiksi ilmiah bukannya muncul setelah adanya fakta penemuan ilmiah atau perkembangan, melainkan suatu ramalan akan kemungkinan itu. Batasan inilah yang bisa dijadikan standar pegangan oleh seorang penulis fiksi ilmiah. (L. Ron Hubbard)

Fiksi sendiri secara garis besar dapat diartikan sebagai suatu karya-karya sastra yang isinya dihasilkan oleh imajinasi yang tidak harus berdasarkan fakta. Dan bermacam lainnya dari arti fiksi itu sendiri. Bila yang hendak ditulis berupa fiksi ilmiah, rasanya memang ada sangkut pautnya dengan ilmu-ilmu pengetahuan, yang mencakup misalnya, kedokteran, ekonomi, tekhnologi dan sebagainya.

Contoh kecil tentang fiksi ilmiah, kita bisa simak karya abadi dari Marry Shelly dengan Frankensteinnya. Atau Verne yang memadukan fiksi dengan ilmu-ilmu pengetahuan pada masa yang akan datang. Pada masa sekarang ini, apa yang ditulis oleh Shelly atau Verne bisa jadi bukan lagi sebuah rekaan belaka, tapi sudah merunut pada apa yang dinamakan kenyataan.

Di sinilah fantasi bermain, fantasi yang sangat dahsyat tentunya. Meski pada akhirnya, penulisan fiksi ilmiah memerlukan ketelitian di pihak pengarangnya untuk menjelaskan tentang sebab akibat ilmiah yang muncul dalam ceritanya.

Mumi Legenda

Saat membaca karya Efi F. Arifin ini, saya pun mengosongkan diri dan tetap membayangkan sesuatu yang wah yang bisa saya dapatkan, untuk mengetahui gambaran yang telah dibangun Efi pada tahun 2122. Sentral cerita adalah Rekha Maharani Doner. Seperti yang dikatakan oleh penulisnya sendiri dalam kata pengantar, novel NSJ 2122 ini pada awal-awal pembukaan rasa njelimet.

Saya setuju, memang rasa njelimet dan terkesan sangat lama untuk masuk pada fokus masalah yang dimulai pembicaraan Rekha dengan Will tentang agama dan kepercayaan (terus terang saya sangat bergetar di sini) dan dimulainya penemuan Rekha tak sengaja tentang mumi Miriam yang sudah diawetkan sejak seabad yang lalu (tapi masih tetap hidup) yang sosoknya sudah digambarkan Efi dalam mimpi-mimpi Rekha.

Cerita terus bergulir dan di sinilah baru dimulainya cerita yang nampak mengalir dengan lancar, hingga membentuk rangkaian penasaran. Banyak kejutan-kejutan yang diciptakan Efi dalam rangkaian cerita selanjutnya. Terutama tentang dunia bawah tanah, di mana para kaum muslimin “menyembunyikan” diri di sana dari kekuasan Nations Society for Justice (NSJ). “NSJ lahir sebagai obat kesengsaraan bagi seluruh makhluk yang lelah dengan peradaban. Era ini adalah puncak eksplorasi akal manusia dalam memudahkan kelangsungan hidupnya.” (hal. 16-17). Yang menjadikan seluruh negara di dunia ini hanyalah negara-negara bagian belaka.

Chip yang dapat membawa “keselamatan” bagi para penghuni dunia bawah tanah, berada pada mumi Miriam, yang sebenarnya sudah diambil Rekha, yang pelan-pelan setelah mengetahui perjuangan penghuni dunia bawah tanah, akhirnya turut andil dalam pembebasan agama yang mereka anut, yang selama ini terdiktatori oleh NSJ (untuk jelasnya, silakan baca NSJ 2122 ini secara lengkap).

Cerita yang luar biasa, cerita yang menyentuh dan cerita yang menggelorakan dada. Terutama pada bagian-bagian yang menggambarkan perjuangan yang sudah dilakukan bertahun-tahun lamanya (benar-benar membuat saya bergetar).

Pembahasan

Pada awal-awal cerita, saya merasa jenuh dan lelah. Bukan hanya njlimet seperti yang diakui Efi sendiri, tapi juga merasa heran, mengapa cerita belum masuk juga ke inti ceritanya. Kenapa masih berputar-putar tentang pengenalan para tokoh (yang seharusnya bisa dilakukan sambil lewat) dan masalah yang terjadi di International Lab. Cerita ini akan jauh lebih menarik bila Efi langsung membuat sebuah gebrakan dengan menunjukkan langsung pokok masalah cerita yang ingin ditampilkan.

Gambaran tahun 2122 yang sudah saya bayangkan, ternyata kosong saja. Setting cerita pada tahun 2122 seperti tidak tergambar. Efi hanya menunjukkan airmobile yang seliweran, teleport yang mampu memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain (Efi memberi jarak tempuhnya), dan beberapa penelitian tentang tumbuhan dan hewan yang menurut saya tak ada sangkut pautnya dengan cerita. Ternyata, memang tak ada hubungannya. Kebut-kebutan yang dialami Hans, Angel dan Don (sebagai tawanan) di udara pun tergambar biasa saja, tak ubahnya penggambaran kebut-kebutan di jalan raya.

Tak tergambar pula bagaimana kekejaman NSJ sebenarnya (bisa jadi akan muncul pada sekuel berikutnya. Tak tergambar pula mengapa NSJ bisa menguasai dunia, kecuali menceritakan pertempuran pada tahun-tahun sebelumnya sampai puncaknya 2022.

Yang membuat saya harus membacanya hingga tiga kali, ketika kejutan yang dilakukan Efi tentang siapa Rekha sebenarnya, yang ternyata adalah putri dari Miriam, memang mengejutkan, tapi juga membingungkan saya. Pada usia kandungan Miriam dua bulan, ditransferpindahkan ke rahim Zetta (ibu Rekha). Bagaimana mungkin, Miriam yang sudah diawetkan selama seratus tahun, tetapi Rekha masih berusia 18 tahun. Mungkin ada yang luput dari pengamatan saya, Insya Allah, Efi bisa menjelaskannya nanti.

Sosok Rekha sendiri ternyata tidak memiliki konflik emosional yang jelas, terutama ketika Rekha ditangkap dan dibawa ke dunia bawah tanah. Rekha yang benci karena orang-orang di sana menjelek-jelekkan NSJ yang diagungkannya, begitu mudahnya terpikat kelembutan Eve. Meski digambarkan Efi, perbedaan antara Zetta (ibunya Rekha) yang super sibuk dengan Eve. Emosional ini sama sekali tidak nampak, hanya berupa garis putih saja tanpa warna-warni. Akan lebih asyik bila Rekha ngotot kalau NSJ adalah segala-galanya.

Selain catatan-catatan di atas, ada keberhasilan yang hebat yang dilakukan oleh Efi. Bagaimana fantasinya bisa bergerak sangat cepat dan seliar itu menunjukkan kejutan demi kejutan yang terjadi. Tentang siapa Don sebenarnya. Tentang Lee dan Rekha. Tentang orangtua Rekha. Tentang Miriam itu sendiri.

Di bagian-bagian inilah, menurut saya, baru terbentuk sosok Efi yang sebenarnya. Efi piawai sekali menggoreskan penanya pada bagian ini, yang berbeda pada bagian-bagian awal yang begitu lambat. Sebaiknya, Efi langsung masuk pada bagian-bagian yang memancing keingintahuan pembaca.

Kegigihan para tokoh bawah tanah untuk kembali pada “peradaban” muslim yang taat ditunjukkan Efi dengan kekentalan yang kuat. Hanya yang sedikit membuat saya “kecewa” mengapa Efi membayangkan kekalahan Islam pada menjelang abad ke 22, hingga pada saat itu Efi menggambarkan bagaimana sulitnya Islam berkembang dan bagaimana repotnya para muslimah mengenakan kerudung hingga harus menciptakan cyber-cyber dirinya agar bisa bergerak bebas di dunia luar tanpa dicurigai oleh pihak NSJ. Tapi namanya juga sebuah fiksi, Efi berhak memainkan apa saja yang ada dalam pikirannya, mengolahnya dan mewujudkan setiap gagasan menjadi sebuah ide cerita, sebatas itu masih bisa diterima. Seperti kata Efi dalam kata pengantar bukunya, “Saya hanya ingin mengajak pembaca sedikit bermimpi, bagaimana kalau peristiwa itu benar-benar terjadi…” Dan ini mimpi yang sangat mengerikan.

Lepas dari semua itu, Efi telah berhasil membuktikan dirinya sebagai penulis fiksi ilmiah yang sangat jarang untuk saat ini. Kegemarannya membaca dan menonton film sendirian ini, bisa diaplikasikannya untuk mewujudkan segala ide yang berkeliaran di benaknya. Hingga novel ini tetap merupakan sebuah rangkaian utuh dari sebuah cerita yang enak dibaca. Dan akan menarik sekali bila kemudian Efi mengembangkan ceritanya ini, kalau ternyata bukan hanya di Indonesia saja (di sini negara bagian dari NSJ), yang ada dunia bawah tanah. Tapi juga dikaitkan dengan negara-negara bagian lainnya yang ternyata keindahan Islam masih tetap terjaga dan harus terus menerus dijaga.

Riset dalam fiksi atau fiksi ilmiah

Meskipun fiksi hanya sebuah cerita rekaan atau pun fantasi dari seorang penulis, secara tidak langsung juga mewujudkan sebuah kenyataan yang ada atau pernah ada. Fiksi tetap memainkan peranannya sebatas fiksi belaka, meskipun fakta-fakta nyata kadang juga ikut terlibat, tapi dia tetap dianggap sebagai sebuah hasil karya fiksi.

Riset dalam penulisan sebuah fiksi, menurut anggapan saya, sebuah relatif saja. Ada kalanya riset memang diperlukan, bila yang hendak kita tuliskan berkaitan dengan sesuatu yang memerlukan riset. Tapi ada kalanya riset tidak diperlukan, karena memang yang hendak dituliskan hanyalah khayalan semata.

Misalnya kita hendak mengarang tentang seorang yang pekerjaannya mencari mutiara. Kita harus tahu berapa lama seseorang bisa menahan napas di dalam air. Mutiara yang ditemukannya, apakah sudah dalam bentuk jadi, atau masih perlu diolah. Bila kita tidak mengetahui hal itu, kita perlu membaca buku (dalam arti riset kecil). Atau bila ingin lebih detil sesuai dengan kebutuhan yang hendak kita tulis, tak ada salahnya kita mengamati langsung bagaimana para penyelam mengambil mutiara.

Jadi, perlu tidaknya riset, berkaitan dengan apa yang hendak ditulis.

Begitu pula halnya dalam proses penulisan fiksi ilmiah. Seperti yang saya kemukakan di atas, mengutip ungkapan Hubbard, Fiksi ilmiah bukannya muncul setelah adanya fakta penemuan ilmiah atau perkembangan, melainkan suatu ramalan akan kemungkinan itu. Misalnya pula, pada saat ini sudah ramai tentang dunia cloning. Lalu dalam khayalannya Crichton, menjabarkannya dalam sebuah khalayan dahsyat tentang cloning dinosaurus (baca Jurassic Park 1 dan 2). Di sini, jelas Crichton memerlukan riset untuk menambah pengetahuannya tentang dunia cloning, khususnya dalam hal membaca atau bahan-bahan tulisan. Tapi jelas, dia tak mungkin melakukan pengcloningan DNA dinosaurus, bukan? Novel itu sebenarnya dapat dikategorikan sebagai novel fiksi ilmiah dan ramalan akan kemungkinan itulah yang dituliskan Crichton.

Kategori yang umum, riset dalam penulisan fiksi, menurut saya hanya pada masalah setting dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang jauh lebih spesifikasi. Misalnya, bagaimana seorang penulis hendak menuliskan sebuah cerita yang berkaitan dengan adat istiadat tertentu, atau penulis hendak melukiskan sebuah setting (ex. lokasi tambang emas, kilang minyak, sebuah kota atau negara yang hendak dijadikan sentral cerita dll) yang selama ini belum pernah didatanginya. Hingga, untuk melengkapnya, riset sangat diperlukan.  Tapi ada kalanya, riset dalam masalah setting dan kebiasaan-kebiasaan itu tidak lagi memerlukan riset, karena dari pengalaman dan pengetahuan si penulis sudah cukup menunjang.

Bila ditanyakan berapa tinggi kualitas riset dari para penulis, saya hanya bisa menjawab, tergantung dari penulisnya sendiri.

Catatan penutup

Mumi Legenda, bisa menjadi icon baru dalam penulisan science fiction yang bernapaskan remaja. Bahasa yang enak, simpel, mudah dicerna dan tidak bertele-tele menjadikan Mumi Legenda termasuk cerita yang perlu untuk dibaca. Saya sendiri tidak sabar untuk membaca sekuel berikutnya, terutama bagaimana usaha orang-orang bawah tanah dalam mewujudkan impiannya, terutama, masih adakah rahasia terpendam dari chip atau memori Mumi Miriam? Dan tentunya, ini sangat mendebarkan, juga menggetarkan.

Saya ucapkan, selamat buat Efi F. Arifin.

Wasalamu ‘alaikum wr.wb

————–


4 Responses to “Novel Science Fiction Efi F. Arifin”

  1. Punya dan sudah baca dua novel ini. Sudah lama, dan sekarang lupa ceritanya. Nanti aku coba buka lagi.. hehe..

  2. kira2 novel nsj 2122 ada versi ebook nya gak?
    aku sebelumnya sudah pernah baca (pinjem dari temen), mau beli, susah banget nyarinya.
    ada yang bisa bantu gak? aku ngebet banget pengen baca lagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: