Cerpen Tumbuhnya Masjid Kami

Dimuat di majalah Sabili edisi 22 TH.XVII 27 Mei 2010 atau 13 Jumadil Akhir 1431

KAMPUNG di mana saya tinggal yang bila sampeyan datang ke sana tentu tidak akan mudah mencarinya sebelum bertanya kurang lebih dua puluh kali. Secara guyonan juga ada yang mengatakan, kalau presiden di kampung saya ini bukan Susilo Bambang Yudhoyono atau yang lebih dikenal dengan sebutan SBY. Pasalnya, kampung itu memang belum pernah didatangi oleh presiden RI dari yang pertama hingga yang terakhir. Ada juga yang bergurau, bila mencari kampung saya di peta, tak akan pernah ditemukan kecuali peta buta yang biasa digambar anak-anak ketika mencoba melukis beraliran abstrak. Sungguh aneh bukan?

Tapi biarpun belum pernah didatangi oleh Presiden, biarpun tidak ada di peta, penduduk di kampung saya terkenal sebagai orang-orang yang bekerja keras. Memang terpencil tapi masing-masing memiliki penghidupan yang layak dari hasil kerajinan tangan dan membuat makanan kecil. Di ujung jalan saja, Bu Harum sudah mengekspor keripik singkongnya ke negara-negara tetangga. Dia bilang, tidak mau dituduh lagi kalau orang-orang Indonesia dianggap tidak bisa melihat peluang dan hanya menggantung nasib saja. Lalu dengan nada kesal dia juga menambahkan, enak saja orang itu ngomong, memangnya gampang mengurus ini itu.

Selain itu penduduk di kampung saya semuanya arif dan taat beribadah. Masjid selalu saja ramai, terutama bila Shubuh, Maghrib dan Isya. Orang-orang juga tidak segan-segan membangun dan merapikan masjid. Maklum, itu adalah satu-satunya masjid yang ada di kampung saya. Menurut perhitungan saya jumlah surau atau mushalla, ada sekitar enam buah.

Sampai satu ketika, selesai shalat Isya ada usulan untuk memperbanyak jumlah masjid. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, orang-orang langsung menyambut dengan suka cita dan antusias, hingga dalam waktu kurang dari satu bulan saja, sudah terkumpul sejumlah uang. Tanah untuk pembangunan masjid dihibahkan oleh Haji Mudrofah. Pengerjaannya pun dilakukan secara gotong royong. Ketika dana yang terkumpul kurang, semua tak segan-segan menyumbang lagi.

Jadilah sebuah masjid yang lebih bagus dari masjid yang selama ini selalu kami datangi untuk beribadah. Masjid itu dibuka dan diresmikan oleh Kepala Kampung. Tidak ada acara seremonial yang luar biasa, semuanya cukup berkumpul, berdoa dan menikmati hidangan ala kadarnya yang disediakan secara bergotong royong. Masjid itu pun menjadi kebanggaan kami sekarang. Sejak berdiri masjid itu orang-orang yang beribadah semakin banyak. Kalau dulu anak-anak kecil yang selalu paling rajin, sekarang para remajanya pun berkumpul semua.

Melihat keberhasilan itu dan menginginkan mendapat pahala yang jauh lebih banyak, ada yang mengusulkan untuk membuat masjid lagi. Biar syi’ar agama semakin kuat dan maju. Paling tidak, dengan berdirinya masjid baru nanti, kampung kami akan dilirik oleh orang-orang Pemerintahan meski ada yang berpendapat, tidak perlulah orang-orang Pemerintahan tahu soal itu. Biasanya kalau sudah dicampurtangani, malah tidak akan bebas. Pasti akan ada peraturan ini peraturan itu. Belum lagi kalau mendadak keberadaan kampung kami diketahui banyak orang. Tak mustahil lahan-lahan yang subur dan indah akan diserobot oleh orang-orang berduit buat dijadikan mall, plaza, hotel yang akhirnya malah akan menjamur kemaksiatan. Partai-partai yang mau menyumbang pun semua kami tolak, karena kami tidak tahan melihat spanduk besar yang akan terpampang lebar : HASIL SUMBANGAN DARI PARTAI ANU.”

Hasil rapat di masjid yang baru itu pun disepakati. Rupanya kegiatan itu mendorong anak-anak muda harapan bangsa ingin berbuat pula yang mendatangkan pahala. Mereka pun membuat rapat sendiri lalu melaporkan ke Balai Desa kalau mereka juga akan membangun masjid lain di tempat yang tak jauh dari masjid yang akan kami bangun. Usulan itu disambut dengan gembira karena di zaman seperti ini anak-anak muda mulai melupakan agamanya dan sibuk mengejar kenikmatan dunia.

Seperti berlomba-lomba dalam kebaikan, dua masjid itu pun dibangun secara serempak. Kalau para orangtua membangun masjid dari hasil patungan bersama, anak-anak muda itu ternyata punya kiat sendiri yang mengagumkan. Mereka kemudian mendirikan posko-posko di jalan kampung, juga di jalan tak jauh dari kampung. Mereka tak segan-segan berpayung panas dan bermandikan hujan guna mengumpulkan uang dari orang-orang yang baik hati yang mau menyumbang.

Dalam waktu satu tahun, empat buah masjid telah berdiri gagah di tengah-tengah kami. Setiap Shubuh dari kelima masjid itu—satu dengan yang lama—berkumandang panggilan shalat yang menggema menyejukkan. Orang-orang pun mulai memilih sekarang, di masjid yang mana yang akan mereka datangi untuk beribadah. Akhirnya banyak yang memilih mendatangi masjid yang lebih dekat dengan rumahnya.

Lalu datanglah seorang laki-laki tua berusia sekitar 60 tahun. Melihat sosoknya saya yakin dia seorang musafir. Saya kagum juga karena dia bisa tiba di kampung ini yang jarang sekali dikunjungi orang luar. Kehadirannya disambut gembira para penduduk, yang memberikan bantuan, baik itu makanan, pakaian maupun tempat tinggal. Bantuan makanan dan pakaian itu diterima si Musafir yang mengaku bernama Pak Ikhlas, tetapi dia menolak diberikan tempat tinggal. Dia lebih memilih masjid sebagai persinggahannya. Orang-orang juga memberitahukan kalau ada empat buah masjid yang baru saja dibangun, Pak Ikhlas disilakan memilih setelah diberi penjelasan suasana di masjid-masjid itu.

Pak Ikhlas justru memilih masjid yang paling tua yang ada di desa kami. Karena dia tinggal di masjid itu, dia yang kemudian mengumandangkan azan karena yang biasanya azan belum datang. Ternyata Pak Ikhlas orang yang pandai dalam agama. Dia lalu diminta secara bergiliran menjadi imam masjid di kelima masjid yang ada. Dia juga diminta untuk memberikan khutbah Jum’at. Lalu dibuatlah giliran di mana Pak Ikhlas akan menjadi imam atau memberikan ceramah.

Tapi satu ketika orang-orang menjadi marah dan tidak suka dengan ceramah yang diberikan Pak Ikhlas. Inti ceramahnya kira-kira begini : Buat apa membangun masjid sedemikian banyaknya bila masjid akhirnya menjadi kosong dan sepi? Kegiatannya pun menjadi terkotak-kotak hingga orang-orang yang berada di masjid yang satu ingin lebih unggul dari masjid yang lain.

Orang-orang pun memprotes isi ceramah Pak Ikhlas.

“Apa Bapak lupa, membangun rumah ibadah itu mendapat pahala?”

“Apa yang Bapak sampaikan itu melukai hati kami.”

“Bapak tidak tahu berterimakasih.”

“Bapak sudah kami bantu, dari mulai makanan, pakaian sampai kami izinkan Bapak tinggal di masjid.”

Orang-orang semakin keras bicara sambil menuding Pak Ikhlas yang hanya tersenyum saja. Saya lalu berdiri menenangkan mereka. Pak Ikhlas saya amankan di rumah saya sesuai petunjuk Bapak Kepala Kampung. Di rumah, saya baru berani bertanya pada Pak Ikhlas mengapa dia berkata begitu.

Pak Ikhlas mengusap jenggotnya yang sudah memutih, sikapnya tetap tenang dan bersahaja seolah masalah yang menderanya hanya sepercik air yang bila dihapus hilang tanpa bekas. Tutur lembutnya pun terdengar, “Saya hanya menyampaikan sebuah kebenaran, meskipun kebenaran itu terkadang sangat sakit terdengar di telinga.”

“Apa maksud bapak dengan kebenaran itu yang bapak sampaikan?”

“Tak ada yang salah bila orang-orang membangun masjid dengan mengharap pahala yang berlimpah. Masjid memang harus ditumbuhhidupkan di mana-mana. Tapi bila pembangunan di sana-sini, sementara yang tersisa hanya kemegahan semata yang tak berarti, untuk apa dilakukan? Padahal ada yang lebih hakiki dalam hal beribadah dan pembangunan jati diri, yaitu keikhlasan untuk menjalankannya dengan sungguh-sungguh, bukan bermegah-megah.”

Banyak kata-kata yang keluar dari mulut Pak Ikhlas yang nampak bergetar. Istri saya yang ikut mendengar terdiam seribu bahasa, lalu dia berdiri karena mendengar suara ribut-ribut di luar. Dengan wajah ketakutan istri saya mengatakan kalau orang-orang sudah berkumpul di luar dan meminta Pak Ikhlas segera meninggalkan kampung ini.

Kampung yang tak pernah didatangi Presiden, kampung yang tak ada dalam peta, hari itu menjadi ramai dengan berkumpulnya para warga yang menginginkan Pak Ikhlas segera angkat kaki sekarang juga.

Pak Ikhlas pun berlalu dengan merendahkan suaranya ketika meminta maaf dan merasa telah mengganggu ketentraman mereka.

Setahun pun berlalu sepeninggal Pak Ikhlas. Pembangunan masjid kembali dan terus digalakkan hingga di kampung saya yang penghuninya kira-kira hanya 20 kepala keluarga itu, kini memiliki delapan buah masjid, tujuh surau dan sebelas mushalla. Sebuah kenyataan yang sangat membanggakan.

Tapi malam itu juga, saya mengajak anak dan istri saya pindah dari kampung yang telah saya huni semenjak saya remaja.***

Mutiara Duta, 13 Februari – 29 April 2010

2 Responses to “Cerpen Tumbuhnya Masjid Kami”

  1. Assalamu’alaikum,
    Berkunjung…
    Wah… rumah baru ya kak? Sudah ngadain acara masuk rumahnya kak? Hehe…

    Ilustrasi Tumbuhnya Masjid Kami bagus. Foto dari Sabili… ^_^

    • Wa ‘alaikum salam…
      Silakan masuk…
      Iya Z… rumah baru nih, belajar dari Titik Nol sebagai pengajarnya… hehehe…

      Tul sekali! Emang foto sendiri dari Sabili…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: