Cerita Remaja Izinkan Aku Mengetuk Pintu-Mu

Dimuat di Annida – lupa tanggalnya

LAKI-LAKI muda itu mempercepat larinya. Napasnya sudah terasa putus dengan jantung yang berdetak lebih keras. Aliran darahnya kacau, menghantam setiap sendi-sendi dalam tubuhnya. Tapi dia harus berlari, berlari sekencang-kencangnya. Bahkan kalau mungkin, bumi di hadapannya ini tiba-tiba merekah, hingga dia bisa masuk ke dalamnya, menyusup jauh sedalam-dalamnya dan terbebas dari kengerian yang bertubi-tubi muncul di belakangnya.

Teriakan menakutkan semakin memecah keheningan malam. Langkah-langkah berderap, menggebubu, menghantam dinding-dinding malam. Laki-laki muda itu yakin, yang dipegang para pengejarnya bukan hanya potongan kayu atau balok belaka. Tapi juga parang, klewang, clurit bahkan pedang. Dia memejamkan matanya sesaat, seolah membuang kengerian yang siap mencacah tubuhnya.

Larilah! Hanya itu yang terungkap dalam kata hatinya seraya memegang bungkusan yang tadi disambarnya dari sebuah rumah.

Sayangnya, seorang anak yang berdiri di depan jalan rumah itu melihatnya. Memperhatikannya dengan kening berkerut. Laki-laki itu muda itu terhenyak. Dia terdiam seolah kedua kakinya terpantek di halaman rumah itu. Berusaha memperhatikan seksama wajah si anak di antara keremangan malam yang hanya dihiasi lampu natrium saja. Belum lagi dia dapat menangkap jelas wajah si Anak,  alarm otaknya berdering keras, membentaknya untuk segera melarikan diri.

Anak kecil itu kaget. Terpaku. Melotot. Anak itu sama sekali tidak berteriak. Tidak pula mengejar. Tapi si laki-laki muda langsung mengerahkan seluruh tenaganya untuk lolos dari pandangan si Anak. Bodoh, mengapa dia sampai tidak memperhatikannya? Mengapa anak itu tiba-tiba saja nampak dalam pandangannya? Padahal dia sudah sangat berhati-hati.

Lebih cepatlah berlari! Kata hatinya membentak lagi. Ya, dia harus bisa lenyap dari pandangan si Anak. Malangnya, beberapa orang yang melintas di jalan itu curiga melihat gerakannya. Mereka berteriak menyuruhnya berhenti. Berhenti? Sungguh bodoh! Bukan hanya wajah yang lebam yang akan didapatkan, tapi darah juga bisa mengalir!

Laki-laki muda itu mengerahkan segenap kemampuannya berlari. Orang-orang itu curiga. Kontan mereka mengejar, berteriak keras hingga memancing perhatian orang-orang lain untuk bergegapgempita keluar dari rumah.

Laki-laki muda itu terus berlari. Napasnya terengah. Wajahnya berkeringat. Dadanya terasa mau pecah.

Tapi dia memang harus terus berlari dan berlari.

                                                          ***

 “Maman lapar, Kak….”

 “Nuri juga….”

 Laki-laki muda itu menghela napas panjang. Memejamkan matanya sesaat. Setiap kali mendengar ucapan itu, laksana ada sayatan pisau yang memotong-motong harinya. Tidak, dia tak boleh menampakkan wajah pasrah. Laki-laki muda itu tersenyum. “Nanti Kakak belikan makanannya….”

 “Enak, Kak?” tanya Maman. Matanya berbinar.

 “Pasti enak.”

 “Kayak yang di restoran ya, Kak?” si Bungsu Nuri menambahkan, sorot matanya sudah tidak tahan untuk melihat makanan itu. Lidahnya mengusap bibir, seolah makanan itu sudah mulai masuk ke dalam mulutnya.

 “Ya, kayak yang di restoran,” Laki-laki muda itu susah payah menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa dipenuhi duri.

 “Kapan, Kak? Maman sudah lapar sekali.”

 “Nuri juga.”

 “Kalian tunggu di sini ya? Kakak akan membelikan kalian makanan.” Laki-laki muda itu bangkit, meninggalkan gubuk yang terletak di pinggir kali Ciliwung. Sejenak dia termangu di depan gubuk itu. Ditatapnya malam yang terus membentang, mengepakkan sayap-sayapnya dengan menyimpan berjuta misteri yang terkadang tak mampu dipecahkan.

 Apa yang harus kulakukan? Kemana aku harus mencari makanan? Desahnya resah dengan kepiluan yang menyentak kuat.

 Dari dalam gubuk, didengarnya suara Maman, “Nuri… nanti kalau Kak Jalu datang membawa makanan, jangan main rebut begitu saja.”

 “Ih! Kak Maman tuh yang suka kayak begitu!”

 “Kamu yang suka mau serobot!”

 “Iya deh… nanti Nuri akan menunggu giliran dibagi Kak Jalu. Tapi ingat lho Kak, yang sama ya?”

 “Iya! Sudah, kita tunggu saja dulu.”

Di luar gubuk, laki-laki muda itu menggigit bibirnya, mengusap wajahnya. Kegetiran kian menabrak dinding-dinding jiwanya. Apa yang harus kulakukan? Desahnya lagi seraya melangkah meninggalkan areal itu. Di kanan kiri, banyak gubuk-gubuk sejenis yang dibangun secara liar. Bukan sekali dua kali diadakan pembersihan di daerah itu. Tapi seperti kebanyakan orang, dia pun kembali ke sana dengan membawa Maman dan Nuri.

Sambil terus melangkah, laki-laki muda itu menghela napas masygul. Maman dan Nuri? Ah, siapakah mereka sebenarnya? Dia sendiri tidak tahu. Kedua anak itu mungkin kakak beradik, karena saat bertemu dengannya keduanya sedang bersama-sama.

Malam itu, tepat pukul dua dini hari, si laki-laki muda baru saja meninggalkan terminal Pulogadung. Di sanalah dia menjadi calo karcis bagi para penumpang yang hendak keluar kota. Cukup lumayan penghasilannya meski tak seberapa. Dan terkadang tidak mendapatkan apa-apa sama sekali. Karena para penumpang sekarang lebih cerdas, tak pernah mau membeli karcis dari para calo.

Ada uang dua puluh ribu penghasilannya malam itu. Baginya sudah cukup. Dia bisa makan lebih lumayan dari kemarin.

Mendadak saja malam seperti pecah. Dia mendengar teriakan-teriakan keras. Menyeruak, menyentak dan menimbulkan keributan tak jauh dari teminal. Beberapa petugas Kamtib berhamburan dari atas pick-up terbuka. Menangkapi para pengemis, pedagang liar, pengamen yang lintang pukang menyelamatkan diri.

Saat itulah dilihatnya dua anak kecil sedang merintih dalam cengkeraman dua orang petugas. Wajah keduanya kelihatan ketakutan sekali. Terutama yang perempuan, yang menekuk tubuhnya sekecil mungkin. Entah apa yang dipikirkan si laki-laki muda, karena dia sudah bergerak cepat menghampiri mereka.

“Hai! Benar-benar nakal! Kakak sudah bilang, jangan keluyuran malam! Masih juga keluyuran!”

Dua petugas Kamtib memandangnya curiga.

“Maaf, Pak….” kata si laki-laki muda. “Mereka adik saya. Memang nakal. Susah diurusnya.”

Kedua petugas itu saling pandang, sementara kedua anak kecil itu mencoba meronta yang langsung dibentak keras oleh kedua petugas itu.

“Saudara jangan bohong!” seru yang berkumis baplang.

“Tidak, Pak! Mana berani saya berbohong pada orang-orang terhormat seperti Bapak-bapak berdua? Sumpah! Mereka adik saya! Bisakah Bapak-bapak melepaskannya?”

“Mereka akan kami bawa ke panti sosial!”

“Wah, jangan, Pak… Kan masih ada saya….” Laki-laki muda itu gigih, meskipun dia tetap tidak mengerti mengapa dia melakukan tindakan konyol seperti ini. Tapi sungguh, hatinya telah terketuk melihat ketakutan kedua bocah itu. Paling tidak, yang laki-laki berusia tujuh tahun, sedang yang perempuan lima tahun.

Kedua petugas itu saling pandang. Mata mereka masih menyiratkan rasa tak percaya. Tiga menit berlalu. Dua anak itu masih berada dalam cengkeraman mereka, memohon dilepaskan dengan suara merintih-rintih.

Si Baplang akhirnya melepaskan cengkeramannya. “Bawa mereka pulang! Awas, sekali lagi kami lihat mereka masih berkeliaran, jangan salahkan kami yang hanya menjalankan tugas!”

“Iya, Pak! Iya! Hai, kalian sini! Ayo kita pulang!” Si Laki-laki muda buru-buru menggandeng kedua tangan anak itu yang sebenarnya tidak mengerti, tapi lebih senang ikut dengannya ketimbang dibawa ke Panti Sosial.

Jauh dari bapak-bapak petugas Kamtib, setelah meyakinkan kalau situasi aman, di tempat yang agak sepi si Laki-laki muda menyuruh kedua anak itu untuk pulang. Tapi keduanya malah tetap berdiri di hadapannya. Tak ada sorot bingung atau cemas. Yang nampak sorot riang penuh terimakasih.

“Hai! Ayo, pulang! Ibu kalian nanti mencari!”

“Ibu sudah meninggal, Kak!” kata yang laki-laki.

“Bapak kalian?”

“Bapak juga,” sahut yang perempuan.

“Lalu kalian tinggal di mana?”

“Di mana-mana….”

“Apa maksudnya di mana-mana?”

“Ya… bisa di kolong jembatan, di terminal, di emperan toko, di bawah pohon, pokoknya di mana-mana…. Hehehe kan asyik ya, Kak?”

Laki-laki muda itu melotot. Asyik? Lantas bagaimana menangani masalah ini? Dilihatnya ada sebuah kecrekan yang terbuat dari sebatang kayu yang di ujungnya dipaku beberapa buah tutup botol sebuah minuman ringan. Dia mengambil jalan tengah, “Ya, sudah… kalian cari tempat untuk bermalam. Ingat, jangan sampai ketangkap lagi ya?”

Laki-laki muda itu melangkah. Tapi baru dua langkah, dia menoleh. Kedua anak itu mengikutinya!

“Hai! Kalian mau kemana?”

“Kami mau ikut Kakak….”

“Boleh ya, Kak?” sorot mata bocah perempuan itu menembus relung hatinya terdalam.

Laki-laki muda itu mengeluh. “Mau ikut Kakak ke mana? Kakak cuma tinggal di pinggir kali.”

“Tapi itu kan rumah, Kak.”

“Gubuk!”

“Tetap rumah, kan? Pasti asyik! Iya nggak, Nuri?”

“Iya, Kak Maman. Pasti asyik ya? Bisa bobo dengan tenang.”

Semakin mengeluh si laki-laki muda itu. Dia mencoba tak memperdulikan keduanya. Tapi keduanya tetap mengikuti. Diusir pun tetap mengikutinya. Bodo ah! Biar saja mereka tahu kalau kehidupanku kacau balau!

Dan sudah tiga bulan ini Maman dan Nuri berada dalam kehidupan si laki-laki muda. Anehnya, semakin hati, si laki-laki muda bertambah sayang pada keduanya. Ketika dia mendapat pekerjaan sebagai sopir, dimintanya kedua anak itu untuk tidak mengamen lagi. Memang cukup membaik, meskipun tetap tinggal di gubuk pinggir kali. Toh dia berpikir, pekerjaan sebagai calo sudah tidak menguntungkan lagi. Selain banyaknya penangkapan para calo, juga para penumpang sudah enggan membeli karcis catutan.

Yang mengejutkannya, saat dia baru pulang bekerja. Kedua anak itu sedang shalat berjemaah! Weleh, weleh… apa-apaan ini? Ngapain keduanya pakai shalat segala? Kaya tidak, maju pun tidak. Bikin repot saja.

Dan laki-laki muda itu terbengong-bengong, seperti melihat makhluk asing di hadapannya ketika Nuri yang masih mengenakan mukena kusam berkata, “Kak Jalu dong yang jadi imam. Masa Kak Maman melulu. Bosan.”

Jadi imam? Oh! Shalat saja dia tidak pernah! Bagaimana bisa jadi imam? “Biar Maman saja,” jawabnya sambil menyulut rokoknya.

“Kak Jalu, dong.”

“Kak Jalu nggak bisa.”

“Masa shalat nggak bisa? Memangnya Kak Jalu nggak pernah belajar shalat?”

Laki-laki muda itu terdiam. Belajar shalat? Ya, dia pernah belajar shalat. Hanya untuk dipelajari dan dilupakan. Dengan shalat perut tidak menjadi kenyang! Kantong tetap saja tongpes!

“Giliran Kak Jalu nanti saja!”

Ketika keesokan harinya Nuri memintanya lagi dia berkata, “Kan Kak Jalu bilangnya nanti?” Begitu pula hingga sampai tujuh kali.

“Masa nanti melulu, Kak? Sekarang dong!”

Hei! Memangnya mereka itu siapa? Ngapain menodongku seperti itu. “Maman saja.”

“Duh, Kak Jalu ini! Nuri maunya Kak Jalu!”

“Hehehe… benar Kak Jalu, Maman juga mau Kak Jalu yang jadi imam! Mau ya, Kak? Mau ya?”

Si Laki-laki muda menghela napas panjang. Macam-macam saja. Tapi apa sih susahnya menjadi imam? Tinggal berdiri, rukuk, sujud dan selesai! Gampang!

Tapi ketika dia melakukannya, hanya kegamangan yang meraja. Hanya ketakutan yang menjadi-jadi. Terlebih lagi saat Maman berkata, “Kak Jalu… kalau shalat Isya, bacaannya harus dikeraskan. Berbeda dengan shalat Dzuhur dan Ashar.”

Dikeraskan? Apa yang bisa dibacanya? Dia hanya hafal Al-Fatihah saja. Duh! Bikin susah saja! “Iya, iya! Nanti Kak Jalu keraskan!”

Keraskan? Hafal juga tidak! Keanehan yang tak dimengertinya mendadak saja terjadi begitu saja. Diam-diam dibelinya buku-buku pelajaran shalat. Dibacanya, dihafalkannya. Dalam kegamangan dia mulai memperkeras bacaan shalatnya.

Tapi, “Kok langsung salaman?” tegur Nuri. “Berdoa dulu dong, Kak. Kak Maman juga suka berdoa.”

Berdoa? Apa yang bisa dilakukannya? Kapan terakhir kali dia berdoa? Lagi-lagi dibelinya buku-buku doa. Dipelajarinya penuh perhatian dan seksama. Tetap dengan kegamangannya dia mulai berdoa seusai shalat.

Dan kegelisahan itu kian menjadi. Dia dipecat dari pekerjaannya sebagai sopir. Bermula ketika Maman datang ke rumah majikannya. Saat itu dia sedang mencuci mobil seperti biasa. Maman bilang, Nuri sakit. Dia kaget. Belum lagi sempat berpikir, tiba-tiba Baron, anjing herder pemilik rumah itu, lepas dari ikatannya. Langsung memburu Maman yang berteriak ketakutan.

Si laki-laki muda bertindak sigap. Dia menendang herder itu. Lalu menyemprotnya diiringi makian. Baron kabur keluar rumah. Sebuah mobil melintas dan menabraknya hingga mati sebelum kabur entah kemana.

Majikannya murka. Dia dianggap sebagai penyebab kematian Baron. Dia berusaha membela diri karena Baron bisa menggigit Maman. Tapi sang majikan telah mengeluarkan ultimatum. Dia dipecat pagi itu juga!

Maman menyesal. Laki-laki muda itu hanya berkata, “Jiwamu lebih berharga daripada pekerjaan itu. Ayo kita pulang… Nuri harus kita bawa ke dokter.”

Sejak saat itu, dia pun harus bergerilya mencari uang. Sesaat tersirat pula penyesalannya, mengapa dia harus mau direpotkan kedua anak itu. Semakin hari, semakin sulit uang didapatkan. Namun setiap pulang, dia selalu berusaha tersenyum. Tak pernah menunjukkan betapa dia dalam kesulitan.

Dan tadi… kedua anak itu mengeluh lapar meskipun wajah keduanya tetap bersahaja. Di mana dia harus mencari makanan? Sepeser uang pun tak dimilikinya. Uang simpanan sudah habis untuk biaya Nuri ke dokter. Alhamdulillah, Nuri masih bisa sembuh.

Si laki-laki muda itu terus melangkah dengan kegalauan yang membekap seluruh perasaannya. Dia tidak mau kedua anak yatim piatu itu kelaparan. Dirinya boleh kelaparan, tapi tidak keduanya yang telah dianggap bagian dari hidupnya.

Dalam keresahan itu, niat buruknya timbul. Dia tetap ingin membahagiakan mereka. Melintaslah dia di sebuah jalan. Matanya tertumbuk pada sepasang sepatu yang ada di depan sebuah rumah. Kelihatan sepatu mahal. Langsung dijual di loak Pulogadung pasti bisa mendapatkan uang.

Nuraninya pun terbentur dinding hitam. Dia melompati pagar. Mengendap lalu menyambar sepatu itu dan memasukkannya ke sebuah kantong plastik kresek yang ditemukannya. Tapi anak kecil tadi… brengsek! Mengapa ada juga yang melihatnya? Ah, sudahlah. Dia harus tetap berlari menyelamatkan diri! Berlari sekuat tenaga demi menyenangkan kedua anak itu.

                                                          ***

Para pengejarnya nampak pasrah meskipun sumpah serapah mereka terdengar keras. Satu per satu mereka meninggalkan tempat itu. Si laki-laki muda mendesah lega dengan dada yang serasa mau pecah. Diatur napasnya. Ditunggunya sampai dia benar-benar merasa aman. Setelah itu dia keluar dari belakang kandang ayam. Bau tubuhnya sudah bercampur dengan kotoran ayam. Dia tidak perduli. Dia sudah bebas sekarang.

Sepatu itu terjual tiga puluh ribu rupiah. Dengan penuh kebahagiaan dia mendatangi sebuah rumah makan Padang yang masih buka. Dibelikannya tiga buah nasi bungkus dengan lauk yang memikat selera.

Dia tidak perduli bagaimana besok harus mencari uang. Yang penting, malam ini Maman dan Nuri bisa makan.

“Kak Jalu pulang!” serunya setiba di gubuk. Wajahnya dipasang ceria, menyembunyikan kalau dia hampir mati tadi. “Nah, ini ada tiga nasi bungkus! Masing-masing mendapat satu ya? Ayo… kita segera… eh! Kalian kenapa?”

Laki-laki muda itu kaget. Matanya tak percaya melihat Maman dan Nuri yang berdiri tegak di hadapannya. Di sisi kaki-kaki mereka, ada sebuah buntalan yang berisi pakaian.

Keningnya berkerut. “Kenapa dengan pakaian kalian?” tanyanya tak mengerti. “Kalian mau kemana?”

“Kami mau pergi dari sini, Kak….” sahut Maman menundukkan kepalanya.

“Lho, lho? Kenapa jadi begini? Kalian mau pergi ke mana? Ingat, ini rumah kalian! Eh, salah… gubuk kalian!” Dia mencoba bergurau meski hatinya digurati berbagai pertanyaan. “Ayo, ini ada nasi untuk kalian! Kalian lapar kan?”

“Kami sudah tidak lapar lagi….” Maman tetap menunduk.

“Kalian kenapa sih? Kalian tidak senang tinggal di sini?”

“Sangat senang, Kak.”

“Lantas kenapa? Ayo, ini nasi bungkusnya. Masing-masing satu.”

“Sebelum Ibu meninggal menyusul Bapak, Ibu pernah bilang… bila kami lapar, kami tidak boleh mengemis, kami tidak boleh meminta-minta dan kami tidak boleh mencuri. Kami harus bekerja meskipun hanya menjadi pengamen.”

“Bagus sekali.”

“Makanya, kami tidak mau memakan makanan dari hasil mencuri….”

Laki-laki muda itu terkesiap. Ada sesuatu yang menyergap otaknya. Dipandanginya Maman dan Nuri yang masih tetap menunduk. Dan mendadak saja kedua kakinya gemetar, seolah tulang-tulang dalam tubuhnya perlahan-lahan merosot dan membebaskan diri dari kungkungannya.

“Kamu… Maman… Masya Allah!”

Maman mengangkat kepalanya. “Maman melihat Kak Jalu mencuri sepatu… Maman yakin, makanan itu Kak Jalu beli dari uang menjual sepatu yang Kak Jalu curi….”

Laki-laki muda itu kian bergetar. Ya, Allah! Berarti benar. Anak kecil itu… oh, Maman?! Bungkusan yang dipegangnya jatuh di lantai gubuk yang terbuat dari papan dan tumpukan kardus.

Nuri maju selangkah, menggenggam tangannya. Wajah lugunya terpampdang di matanya. “Maafkan kami ya, Kak… Kami berjanji tidak akan merepotkan Kakak. Mulai besok, kami akan mengamen lagi. Kakak jangan marah ya, soalnya… kami tidak mau Kakak menjadi pencuri. Kakak kan sudah mulai shalat, mengaji dan berdoa. Nuri dan Kak Maman sangat menyayangi Kak Jalu. Makanya kami sedih dan lebih baik pergi dari sini kalau Kak Jalu masih mencuri.”

Sepasang mata laki-laki muda itu berkaca-kaca. Ditatapnya Maman dan Nuri bergantian. Ada cahaya kecil yang terpancar dari wajah kedua bocah itu.

“Ka-kalian… tetap tinggal bersama Kak Jalu?” tanyanya tersendat.

Maman dan Nuri serentak mengangguk. “Asal… Kakak jangan mencuri lagi….” sahut Nuri.

Cahaya kecil itu kian membesar, merengkuhi seluruh gubuk. Entah dari mana datangnya, dalam penglihatannya ada sebuah pintu bening yang siap untuk diketuk. Pintu yang berpendar oleh cahaya indah, seperti memanggil-manggilnya untuk datang.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: