Cerita Remaja Jejak Sang Gadis

Dimuat di Majalah Maestro – lupa tanggalnya

BERITA hilangnya Firna bukan hanya mengejutkan kelas 2 IPA 4, tapi juga seisi sekolah. Gemanya pun melampaui tingginya tingkap SMU Kartika. Atya yang banyak ditanya teman-teman yang lain, karena dia duduk sebelahan dengan Firna.

“Aku nggak tau apa-apa,” sahut Atya. Dia juga bingung, karena kemarin sore masih sempat ngobrol dengan Firna di telepon, tapi kok tahu-tahu Firna dikabarkan hilang. Siapa sih yang menyebarkan gosip seperti itu? Siapa tahu karena hari ini Firna memang tidak bisa masuk sekolah.

Tapi ternyata Firna tidak masuk selama tiga hari. Orangtuanya sudah mencari ke sana-kemari, menelepon siapa saja yang mereka anggap kenal dengan Firna, bahkan datang ke sekolahnya. Namun tak ada jawaban yang memuaskan.

           Semakin ramailah teka-teki hilangnya Firna. Bayu yang selama ini dikenal sebagai pacarnya, diinterogasi polisi, karena ortunya Firna sudah melibatkan polisi. Bayu menyumpah-nyumpah kalau dia tidak tahu. Hubungannya dengan Firna pun sudah bubaran sejak setengah bulan yang lalu.

Pada hari keempat, seseorang menelepon Atya, dan mengatakan kalau Firna berada dalam kekuasaannya. Sesaat Atya sempat terpana. Firna dalam kekuasaannya? Apa itu berarti Firna diculik? Tapi, mengapa si Penculik justru menghubunginya, bukan orangtuanya Firna? Apa hubungannya dengan aku? Pikir Atya dan berusaha mengenali suara si penelepon.

“Maaf, saya tidak punya banyak waktu untuk omong kosong seperti ini,” kata Atya akhirnya.

“Saya tahu kamu sahabat dekat Firna, saya juga tahu kamu pasti kehilangan. Percayalah, kamu akan lebih kehilangan lagi bila mengabaikan pesan saya ini.”

“Tapi kenapa saya yang Anda hubungi?”

“Saya ingin kamu menjadi mediator antara saya dengan orangtua Firna.”

Atya merasa kepalanya mau pecah sekarang. Apa-apaan ini? Jadi mediator? Bah! Penculik amatiran rupanya, atau profesional yang berlagak amatiran?

Permintaan si Penculik kemudian, minta disediakan uang lima puluh juta rupiah dalam waktu 1 x 24 jam. Tak boleh ada polisi, karena dia tahu polisi sudah dilibatkan dalam urusan ini. Itu alasan Atya yang dihubungi. Si Penculik berjanji, pukul tujuh malam nanti, dia akan menanyakan apa yang telah dilakukan Atya.

Atya pun pontang-panting. Dia merasa lebih baik mendatangi orangtua Firna, yang terkejut luar biasa mendengar beritanya. Mamanya Firna sudah menjerit dan menangis. Malam itu, jadilah rumah Atya dipenuhi orang-orang yang berkepentingan akan hilangnya Firna. Dua orang polisi berpakaian preman pun berada di sana, menyadap telepon.

Tepat pukul tujuh si Penculik menelepon lagi. Atya mengatakan semuanya sudah disiapkan oleh orangtua Firna. Si Penculik lalu mengatakan, kalau Atya yang harus membawa uang tebusan itu. Besok, pukul 12 tepat. Lokasinya akan diberitahu kemudian.

Mamanya Firna meraung setelah Atya memberitahu. Dia menjerit-jerit, mengapa dia tak diizinkan bicara dengan Firna. Suaminya menenangkan. Dua polisi berpakaian preman itu saling menggeleng, tanda tak menemukan jejak si Penculik.

Atya malah yang berpikir. Ya, kenapa si Penculik tidak mengatakan keadaan Firna saat ini? Jangan-jangan, ini hanya akal-akalan orang iseng saja?

Keesokan paginya, sekitar pukul setengah tujuh pagi, telepon berdering lagi. Dua orang polisi yang menginap di rumah Atya memberi isyarat agar Atya menanyakan keadaan Firna.

“Dia baik-baik saja,” jawab si Penculik. “Biar kamu puas, bicara sendiri dengannya.”

Lalu Atya mendengar suara Firna yang takut-takut, menangis dan nampak sangat kehilangan.

“Tenang, Fir, tenang, semuanya akan baik-baik saja.” Atya menahan gelombang ketegangan di dadanya. Keringat tanpa sadar mengucur di wajahnya.

“Nah, kamu sudah dengar, bukan?” suara si Penculik terdengar lagi, lebih kejam dan tetap tak bisa ditebak suara siapa. Mungkin menutupi mulutnya dengan saputangan atau sejenisnya. “Tepat pukul dua belas tepat siang, di halte tak jauh dari sekolah. Ingat, sedikit saja saya melihat ada orang lain bersama kamu, Firna akan tewas.”

“Tapi saya belum pulang sekolah pukul…”

“Itu urusanmu!”

Kejadian berikutnya, dua polisi itu sibuk menelepon ke sana-sini. Lalu memberi semangat pada Atya yang mengeluh dalam hati, kenapa aku jadi terlibat urusan ini? Dan mau tak mau siangnya dia berlagak sakit perut. Uang tebusan sebesar lima puluh juta rupiah ada di tas sekolahnya. Ketegangannya memucak ketika Atya berdiri di halte yang dimaksud si Penculik. Tak ada sesuatu yang istimewa, halte itu seperti biasa, cukup sepi—sebelum bubaran sekolah. Dan tak seorang pun yang mencurigakan.

Ketegangan Atya bertambah ketika seorang laki-laki bertampang kasar muncul di sana. Apakah laki-laki ini yang akan mengambil uang tebusan? Tapi ketika sebuah bus datang, laki-laki itu segera naik. Hingga pukul dua siang, tak seorang pun yang datang menjumpainya.

Beberapa orang polisi yang menyamar menjadi pemulung, penjual balon dan penjual mie pangsit pun tak berdaya. Mereka sibuk berbicara dengan alat penghubung masing-masing.

Hari itu gagal total.

Tapi pukul empat sore, sang Penculik menelepon Atya kembali, membentak-bentaknya habis-habisan. Dia tahu kalau di sana ada polisi, desis Atya. Penculik itu mengancam, besok Atya harus mengulangi hal yang sama. Bila dilihatnya ada polisi, Firna akan langsung dibunuhnya.

Atya merasa kepalanya kian bertambah pusing. Kenapa harus aku? Kenapa aku yang dilibatkan? Bujukan orangtuanya dan orangtua Firna membuat Atya mengalah. Yah, dia akan membantu hingga Firna kembali. Dengan syarat, polisi tidak ikut campur.

Yang tidak disangka-sangka, ketika keesokan siangnya Atya kembali ke halte itu, dia melihat Bayu berlari ke arahnya. Oh, Bayu tidak melihatnya, terus berlari melintasinya. Hei, ada apa? Kenapa wajah Bayu tegang? Kenapa Bayu pulang lebih cepat? Tidak tahan Atya memanggilnya.

Bayu berhenti. Menatapnya sesaat dengan kegelisahan membesar. “Sori, Tya… aku… aku… ada urusan.”

“Urusan apa?”

“Firna! Firna!”

“Kenapa Firna?”

“Aku tahu dia di mana, aku tahu!”

Atya melonjak. “Kamu tahu Firna di mana?”

“Ya! Tadi pagi, penculik itu meneleponku! Dia… sori, Tya! Aku harus ke sana!”

“Hei, tunggu!!” Atya bergegas mengikuti Bayu. Tasnya yang berisi uang lima puluh juta terasa lebih berat sekarang. Kalau Bayu sudah tahu, buat apa aku menunggu penculik itu di sini? Buat apa kuserahkan uang ini? “Aku ikut!”

Bayu kelihatan ragu, tapi akhirnya mengangguk. Dia menyetop sebuah taksi. Lalu keduanya masuk ke kursi belakang. Wajah Bayu tegang bukan main.

“Bagaimana kau bisa menebak tempat Firna disekap?” tanya Atya yang juga bertambah tegang.

Bayu hanya meliriknya, tidak menjawab. Kegelisahan kian nampak. Taksi yang ber-AC justru membuat Bayu lebih banyak mengeluarkan keringat. Dua menit kemudian, Bayu berkata, “Lebih baik kamu diam saja.”

“Ya, ya, aku akan mengikutimu.”

“Untungnya kamu belum menyerahkan uang lima puluh juta itu, Tya. Hhh! Penculik keparat! Akan kuhajar sampai mampus nanti!”

Atya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Bertambah tegang. Dia seperti melihat sebuah jalan terjal yang mengundang maut. Maut, ya, mungkin dia sedang bermain dengan maut.

Setengah jam kemudian, taksi berhenti di sebuah jalan yang lengang dan sepi. Atya merasa jantungnya seperti pindah ke telinga, karena debarannya kian kuat. Tas sekolah didekapnya erat-erat. Lima puluh juta ada di dalamnya, lima puluh juta, seperti kata Bayu tadi.

Dia mengikuti Bayu yang menyusuri jalan itu, dengan sikap waspada, mencari-cari di deretan rumah-rumah yang nampak sepi di sana. Tiba-tiba Atya mengeluh. Bayu menoleh. “Kenapa?”

“Aku…”

“Kamu kenapa?”

“Pengen pipis.”

Bayu mengeluh. “Ah, kamu mengacaukan saja, Tya. Kamu memang harusnya tidak ikut. Mau pipis di mana?”

“Aku menumpang di salah satu rumah itu dulu ya?”

Bayu mendengus, tapi mengantarkan juga. Untungnya pemilik rumah mengizinkan. Sementara Atya ke dalam, Bayu menunggu di luar. Wajahnya tegang, gelisah, seolah kaki-kakinya menginjak gumpalan duri. Sialnya, Atya cukup lama di dalam. Sekitar lima belas menit. Bayu hanya menggeram gemas ketika Atya muncul lagi.

Rumah yang dicari Bayu pun ditemukan. “Penculik itu dua orang,” katanya. “Tak sengaja, aku mendengar salah seorang menyebutkan alamat rumah ini, entah pada siapa.”

“Kita masuk saja.”

“Kamu berani?”

“Dengan kamu, aku pasti berani.”

Keduanya pun mengendap. Langkah terasa berat. Jantung berdegup semakin kencang. Atya merasa kedua tangannya berkeringat, dingin. Bayu memberi isyarat agar dia menunggu di luar. Bayu masuk melalui jendela yang tidak terkunci. Atya kagum atas keberanian Bayu. Meski sudah bubaran dengan Firna, Bayu masih berusaha mencarinya.

Tiga menit kemudian, terdengar suara gaduh dari dalam. Bunyi barang jatuh terdengar cukup keras diiringi teriakan kesakitan dari Bayu. Atya panik. Apa yang harus kulakukan? Belum dia mengambil keputusan, pintu di depannya terbuka. Seseorang yang wajahnya ditutupi, menariknya paksa lalu menyentaknya hingga ke sudut ruangan. Sikunya terasa sakit. Lebih sakit lagi ketika orang itu mengambil tasnya. Membukanya. Atya yakin, dalam bayangannya, orang itu menyeringai melihat sejumlah uang di sana.

Orang itu bergerak cepat, membuka pintu sebuah kamar. Bayu entah di mana. Mungkin pingsan. Orang itu muncul lagi bersama Firna yang dalam keadaan terikat dan mulut tersumbat. Atya sempat melihat mata Firna yang begitu ketakutan.

“Jangan coba-coba berteriak!” geram orang itu sambil mencengkeram tangan Firna. “Gadis ini akan mampus bila kau berani melakukannya!!”

Lalu dengan hentakan kuat, orang itu menarik Firna keluar dari rumah. Atya memejamkan matanya. Bukan, bukan sebuah kegeraman, tapi sebuah penyesalan. Karena tiba-tiba saja terdengar teriakan dari luar rumah, “Berhenti! Polisiiiii!!”

Pelan-pelan Atya bangkit dan berjalan keluar. Melihat beberapa orang polisi sudah berada di sana. Orang bertopeng itu pun sedang diringkus oleh salah seorang polisi. Sementara Firna berada dalam dekapan mamanya.

“Biar saya yang membukanya,” kata Atya ketika polisi itu hendak mencopot selubung hitam pada wajah si Penculik. “Dan saya yakin, dia adalah Bayu….”

Wajah yang telah terbuka itu melotot geram pada Atya, yang hanya tersenyum sedih. Memang Bayu yang terpampang di matanya. Bayu. Si pelaku penculikan. Mata Bayu seperti menuntut, menuntut kejelasan mengapa bisa seperti ini.

“Aku semula tidak curiga, tapi ketika kamu bilang aku membawa uang lima puluh juta rupiah, aku jadi bertanya-tanya. Dari mana kamu tahu soal itu? Rasanya tak mungkin para penculik itu memberitahukannya pada kamu, kan? Jawaban satu-satunya, kamulah si penculik itu. Itulah yang menyebabkan aku berpura-pura ingin pipis, padahal di rumah itu, aku meminjam telepon dan menghubungi polisi. Maafkan aku, Bayu… semuanya sudah berakhir.”

“Tapi ini ide dia!” teriak Bayu keras. “Dia yang menyuruhku berpura-pura menculiknya, dia yang menyuruhku kita berpura-pura sudah putus! Padahal kami masih berpacaran! Tapi orangtuanya melarang hubungan kami! Menurutnya, bila kami sudah mendapatkan uang, kami bisa pergi jauh dari sini! Dia juga bersalah! Dia… Firnaaaa!”***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: