Pertanggungjawaban Novel : Teror Di Bawah Hujan

Bismillahirrahmanirrahim…

Assalamu ‘alaikum

Saya ini termasuk penulis yang terkadang tidak memerlukan tetek bengek (bagian dari penceritaan) dari apa yang ingin saya tulis. Ketika saya ingin menulis, ya saya menulis. Meski begitu, saya tetap berusaha menjembatani tulisan-tulisan saya dengan memberikan nuansa yang agak berbeda, baik dari segi setting, waktu maupun para tokoh. 

Khusus para tokoh, saya seringkali membiarkan tokoh-tokoh saya lepas begitu saja. Saya juga tidak mencoba mengatur mereka. Jadi, sepertinya saya biarkan saja mereka mau berbuat apa saja dan mengalir begitu saja meski semua berada di bawah kendali saya sebagai dalangnya. Tapi tetap saya tidak ingin mengintervensi cara berpikir maupun bagaimana mereka bersikap. Memang agak susah dijelaskan, tapi itulah yang saya lakukan. Saya biarkan mereka sebebas-bebasnya. 

Tentang Teror di Bawah Hujan, saya mencoba memutarbalikkan keadaan (meski mungkin saya bisa salah dalam hal ini). Biasanya yang terjadi, dalam beberapa cerita yang pernah saya baca, pada saat tertentu, para tokoh berada dalam “jalur yang salah”, lalu tanpa ada penjelasan, alasan, maupun pertanggungjawaban, tiba-tiba saja si tokoh sudah berada dalam “jalur yang benar”. Dan ini membuat saya berpikir, kenapa kerap seperti ini? Kenapa selalu begini lagi dan begini lagi?

Dengan berat hati saya mencoba membuat sebuah pembalikkan (sekali lagi, mungkin cara saya salah dalam hal ini). Bagaimana bila digambarkan tentang orang berpacaran meski hanya sebatas berduaan saja, tidak pakai tetek bengek orang berpacaran? Dan saya juga tidak mencoba mencontohkan yang lebih ekstrim. Misalnya : saya gambarkan tokoh-tokoh saya melakukan sesuatu yang “mengerikan”.

Dan biasanya, dalam cerita-cerita yang pernah saya baca, memang ada penulis yang melakukan penggambaran seperti itu. Misalnya : tentang perselingkuhan rumah tangga, lalu berbaikan, dan bertobat. Tapi saya tetap melihat, masih adanya pola yang sama, yang terkadang lepas dari segala prosesnya. 

Lalu tibalah keberanian itu muncul. Saya membuat adegan berpacaran. Semata-mata ini saya contohkan dengan maksud, pada bagian akhir cerita akan saya sampaikan sedikit “pesan”, itulah akibatnya bila berpacaran. Terkadang kita bisa terbelenggu pada keinginan sesaat untuk mempertahankan pasangan kita agar jangan diambil orang lain dan rela melakukan apa saja.

Inilah maksud saya yang sebenarnya. Saya tidak mencoba menyampaikan pesan moral begitu cepat, tapi saya lakukan dengan sebuah proses. Dan saya jadikan itu sebagai contoh (sekali lagi, saya tetap menjaga untuk tidak mencontohkan ke hal-hal yang lebih “mengerikan”). 

Dalam TdBH, yang saya kedepankan adalah unsur psikologis para tokoh saya, tetap dengan membiarkan mereka bergerak bebas sebebas-bebasnya. Saya hentakkan mereka dalam satu kesatuan kengerian, di mana secara psikologis, ada unsur pasrah, mempertahankan dan rela berbuat apa saja. 

Saya ini “tukang dagang”, saya selalu melihat selera pasar. Ketika menulis pun saya mencoba membaca dan membidik selera pasar (meski bisa jadi saya salah dalam membidiknya). Saya juga selalu mencoba mencari celah, relung atau ceruk yang belum digarap, atau yang baru sedikit sekali digarap. Ketika melihat ada “posisi kosong” saya buatlah sebuah suspens horor yang lebih banyak membaca dan menjerat sisi psikologis manusia. 

Dalam setiap menulis, saya tidak punya pretensi apa-apa. Saya juga tidak ingin terkesan pintar, saya juga tidak mau menggurui. Yang saya berikan, saya hanya ingin menghibur dengan memberikan sedikit pencerahan (andaikata memang itu bisa masuk dan diterima). Hal lain, terkadang saya tidak pernah memikirkan tokoh-tokoh saya. Semuanya tercipta begitu saja. 

Ada yang perlu saya ceritakan sedikit.

Terkadang ketika saya menulis, saya seperti melihat sebuah film di depan saya yang bergerak begitu cepat. Hingga saking cepatnya, saya terkadang tidak bisa menangkapnya. Tapi, rasa bawah sadar saya langsung menangkap, bagian mana yang bisa saya garap dan bagian mana yang saya tinggalkan.

Anggaplah saya ini seorang sutradara. Misalnya : dalam menggambarkan sosok tokoh yang lugu, sang sutradara mungkin akan mengambil frame dalam kamera secara long-shot, dengan colour yang bervariasi. Atau juga angle dari sudut ke bawah ke atas. Sementara untuk seorang yang berwatak panasan, mungkin seorang sutradara akan mengambil gambar secara close up, dengan colour yang diminimalisir. Hingga sekali melihat, penonton akan segera dapat menebak watak-watak dari para tokoh, meski belum digambarkan secara utuh. 

Inilah yang saya lakukan terhadap tokoh-tokoh saya. Mereka bisa berdiri tanpa perlu saya jelaskan tentang watak mereka, jadi mereka hidup dalam sudut pandang orang pertama. Pada bagian-bagian tertentu bisa jadi saya menjelaskannya, tapi dalam sudut pandang orang ketiga. Hal inilah yang begitu kuat saya terapkan pada Teror di Bawah Hujan dengan menggarapnya secara filmis, sama halnya ketika saya membuat novel serial HUD. Saya tidak memakai konflik konvensional di antara para tokoh, tapi saya memakai konflik yang langsung memukul para pembacanya. 

Inilah sekadar pertanggungjawaban saya terhadap novel Teror di Bawah Hujan.

Maaf, bila ada kata-kata dan penyampain yang salah.

Salam,

Fahri Asiza 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: