Teror Hujan, Teror Kata-Kata

Oleh Gola Gong

(Tulisan sederhana sebagai bahan diskusi di Rumah Dunia, 15 Mei 2004, jam 13.30. saat launching “Jembatan Hitam: Teror di Bawah Hujan” terbitan Senayan Abadi)

Ini adalah novel kedelapan belas (menurut pengakuan Fahri lewat email), yang dibuatnya hanya dalam waktu 3 hari setelah ide itu didapat. Berbahagialah Fahri, karena istrinya bisa menyumbangkan ide, walau hanya sebatas judul saja. Menurut pengakuannya, dia bercerita pada istrinya bahwa “Senayan Abadi” (SA) meminta naskah (novel). “Saya mau yang suspens horor, tapi bukan klenik. Lebih pada memainkan unsur psikologisnya saja. Saya tanya sama istri, punya ide apa? Istri saya bilang, judulnya ‘Teror di Bawah Hujan’ saja. Ya, sudah. Mengalir saja…. Tau-tau, ya jadilah seperti novel ini…,” tulisnya di e-mail.

PASAR

Sebelum membaca novel ini saya terus mengingat-ingat, bahwa Fahri menulisnya dengan memikirkan dan membaca selera pasar. Yang pertama, dia peruntukan novel ini untuk pembaca remaja. Yang kedua, ada ceruk yang belum digarap, yakni suspens horor (yang bukan klenik). “Penulis-penulis Forum Lingkar Pena belum menggarap tema ini,” begitu pengakuannya.

Saya jadi teringat tulisan di kata pengantar novel “Karmila” karya Marga T. edisi ulang tahun ke-30 Gramedia, “Suatu karya sering kali ditulis tanpa khusus diarahkan agar menjadi hal penting, apalagi hal besar. Masyarakatlah yang akhirnya menentukan arti suatu karya, bukan pengarang, bukan penerbit, dan bukan pula ahli-ahli sastra.” Terbukti “Karmila” sejak pertama diterbitkan tahun 1973 sudah mengalami cetak ulang ke-21 kali!

Agak bertolak belakang dengan Fahri, yang memang sudah mengarahkan akan ke mana novelnya ini diperuntukan. Kalau dalam industri TV, positioning itu sangatlah penting. Hanya saja aspek pembaca mesti diperhatikan. Ali Muakhir, Menejer Redaksi dan Produksi DAR!MIZAN mengabarkan, bahwa novel serial “Syakila” karya Fahri direspon positif oleh pasar (remaja). “Semua sudah cetak ulang. Mei ini buku ketujuhnya; Topeng, akan terbit!” Ternyata memang masyarakatlah (pembaca) yang menentukan karya Fahri bisa diterima atau tidak.

Lalu saya baca novel ini dengan mengkosongkan seluruh isi otak saya dan perasaan saya. Saya harus bisa jadi pembaca awam, karena akan repot jadinya kalau saya memposisikan diri sebagai pengarang pula. Syukur-syukur bisa jadi “ABG” (anak baru gede). Kalau Fahri menuliskannya dalam waktu 3 hari, ternyata saya membacanya setengah hari saja, yaitu di sela-sela jam kantor. Hanya 48 halaman spasi ketat.

DALANG

Saya membacanya langsung dari manuskrip aslinya. Kesan pertama yang saya dapat, novel ini berbeda dengan tema-tema yang biasanya digarap oleh para penulis FLP; rahmatan lil alamin (membawa pembacanya ke pencerahan). Saya yakin, kalau manuskrip novel ini diberikan ke Asy Syaamil atau Lingkar Pena Publishing House, mungkin tidak akan bisa lolos, karena ada adegan pacaran (bukan muhrim), bahkan di tempat yang sepi pula. Tapi rupanya Senayan Abadi (SA) memberi kelonggaran pada soal tema dan bahkan adegan-adegan di plotnya (yang pacaran, yang berduaan di tempat gelap). Mungkin SA bisa memberikan penjelasan dalam diskusi ini.

Hal lainnya, novel ini seperti novel populer terjemahan yang memang diperuntukan untuk pembaca remaja. Tokoh-tokohnya dengan nama khas “negeri seberang” menjadikan para pembaca remaja dekat dengan dunia keeseharian sekarang, yang memang trendnya ke luar negeri minded. Sebagai dalang, Fahri tak menganggap penting budaya lokal (local colour), padahal secara geografis “Pekanbaru” ditulisnya (sekali saja).

Fahri memang berhasil membebaskan dirinya sebagai “makhluk intelektual” (dia dosen, pengusaha, dan S2 dibidang sumber daya manusia) saat menulis novel ini. Tak tampak keinginannya memasukkan daftar pustaka (setahu saya koleksi bukunya 10.000 judul lebih) untuk para tokoh di novelnya saat ada peluang memasukkan hal-hal yang berbau disiplin ilmu psikologi. Atau dia ingin tampak kelihatan pintar di mata pembacanya. Tak ada kesan itu. Dia hanya bertindak sebagai dalang saja; para tokohnya adalah “wayang” atau “boneka”, yang bisa sebebas mungkin dia letakan di plot yang dia bangun.

Bercerita lewat alur bergerak yang memang dibikinnya mengalir. Semuanya lugas dan tanpa tedeng aling-aling. Tak ada keinginannya untuk bermetaphora atau tampak puitis. Dan bagi saya, pemakaian kata-katanya menteror pembaca di usia ABG. Baca saja kalimat pembuka di novel ini:

              Martono berseru sekali lagi, lebih keras dari sebelumnya, “Ayo, pindahkan batu-batu itu! Satu, dua… tigaaaaa!!! Bismillahir-       rahmanirrahiiiiiimmm!!!”

              Lima orang buruh kasar berusaha mengangkat sebuah batu besar. Otot-otot tangan mereka menonjol keluar. Batu itu sangat berat. Tenaga lima orang pun hanya mampu menggesernya sejauh dua meter (manuskrip, 20 Januari, 20 tahun yang lalu)

Sekali lagi, untuk pembaca ABG Diawali dengan bab pembuka: Januari 20 Tahun yang Lalu, kita sudah diteror dengan kata-kata saat peristiwa di lokasi pembuatan jembatan. Baca saja beberapa kalimat di bawah ini:

              Martono mengusap keringatnya yang bercampur air hujan dengan punggung tangan kanan. Dia menggigil. Jas hujannya sudah sangat basah. Gelegar petir mengganggu konsentrasinya. Sambaran kilat sesekali menerangi tempat itu. Sungguh, sebuah pemandangan yang cukup menggetarkan sekaligus mengerikan.

Ada kejadian di mana para pekerja melihat sepasang mata merah menyala tanpa kepala dan tubuh. Semua pekerjanya memilih berhenti. Martono – sang mandor, berang bukan kepalang. Dia menganggap para pekerjanya malas, sehingga proyek jembatannya terbengkalai. Tapi, dia sendiri akhirnya mlihat sepasang mata itu dan tercebur masuk ke sungai bersama tiga pekerjanya….

Peristiwa tragis itu menjadi latar belakang cerita dan lokasi pembuatan jembatan itu jadi setting penting di novel ini. Terbukti 20 tahun kemudian, pada masa sekarang, di bulan Maret (saya pikir pencantuman nama bulan “Maret” pada masa sekarang dan “Januari” 20 tahun yang lalu tak begitu penting ditulis) peristiwa itu jadi “momok” bagi Marsa, Emilia, Herda, dan Gerry. Bahkan cenderung jadi mitos bagi warga di sekitar itu, karena jembatan itu tinggal kerangga dan mereka menyebutnya sebagai “jembatan hitam” (jadi judul serial novel ini). Fahri menuliskannya di Bab 1 (manuskrip):

                  Jembatan itu telah menelan korban!

                  Dari cerita yang pernah didengarnya, empat orang pekerja tewas meluncur dari kerangka jembatan itu. Dan sejak kejadian itu, tak ada lagi niatan untuk meneruskan jembatan sepanjang dua puluh meter yang melewati sungai di bawahnya. Entah kenapa. Yang terdengar kemudian bermacam cerita aneh dan mengerikan.

Hujan juga jadi setting waktu yang sering dia pakai. Dia memang menteror para tokohnuya (sekaligus pembacanya) dengan hujan. Itu sesuai dengan judulnya: Teror di Bawah Hujan.

FILMIS

Fahri berusaha lepas-bebas, tak melakukan intervensi apa-apa pada para tokohnya. “Saya mengalir saja,” kata Fahri. Ya, dia memang menulis ibarat air bah, mengalir dan lepas-bebas. Dibiarkannya pembaca mempunyai imajinasinya sendiri tentang para tokoh, bahkan setting lokasi dan waktunya tidak digambarkan secara jelas.

Sebetulnya ini sangat filmis. Dalam pandangan saya sebagai penulis skenario, yang saya bisa rekam di otak; adalah sebuah perumahan, sekolah, mall, dan jembatan hitam yang tinggal kerangka dimana semua orang pasti harus melintasinya jika ingin memperpendek waktu saat bepergian. Dan plot atau konflik yang Fahri sodorkan akan menarik jika nanti dipindahkan ke sinetron. Sutradara pasti akan tertantang untuk memvisualkan lokasinya dan dari segi dialog, penulis skenario tinggal memindahkannya ke skenario. 

Ini memang bukan tanpa kelemahan. Saking mengalirnya, Fahri jadi tak mempedulikan detil-detil dari setting lokasinya. Bahkan suasananya pun. Tak perlu dia berpuitis-putis. Semuanya lugas. Jika dia ingin menggambarkan kondisi kamar si tokoh, dia cukup menuliskannya seperti ini: Papi masuk ke kamarnya. Di sana ada kamar mandi (bab 2, di manuskrip hlm 12). Simpel saja. Tak perlu deskripsi yang detil. Tapi itu tadi, Fahri – sepertinya – menyiapkan bahan baku untuk para pembuat sinetron.

Atau menggambarkan hujan lebat: Marsha mengayuh sepedanya lagi, meninggalkan jembatan hitam di belakangnya. Dia tiba di rumah tepat saat hujan turun dengan derasnya (manuskrip, bab 1). Cukup begitu saja “hujan turun dengan derasnya”. Tak apa, sah-sah saja. Sebagai penutup, novel ini bisa dijadikan kado untuk adik dari orang yang kalian sayangi. Atau bagi para penulis pemula atau bagi para calon penulis, novel ini bisa dijadikan motivasi, bahwa untuk jadi penulis memang harus menulis dan belajarlah pada Fahri, bagaimana caranya membebaskan diri kita saat menulis. Supaya tak ada beban apa-apa. Sebagai penulis, Fahri sudah berhasil sebagai “tukang cerita”.

Tapi, saya tak akan menceritakan endingnya. Nanti tak menarik lagi. Baca saja. Tapi, saya menebak, Fahri ini terlalu banyak nonton film Steven Spielberg dengan “Amazing Stories”-nya atau sebagaimanalayaknya film-film suspens horor Hollywood. Apakah itu? Awas, hati-hati, ada hujan meteror kita! (gola gong)

One Response to “Teror Hujan, Teror Kata-Kata”

  1. Subhanallah, novel selesai dalam 3 hari, luar biasa ya mas Fahri, wah.. saya mesti memperbaiki diri lagi…, apalagi mas Taufiqurahman Al Azizy nganjurin saya latihan menulis minimal 20 halaman dalam sehari, rasanya berat juga, hehehe, saya doakan semoga mas Fahri selalu mendapat pencerahan untuk terus berkarya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: