Cerpen : Memasung Malam

Dimuat di Lampung Post, Minggu 11 Juli 2010

MENUANG arak dari botol penghabisan tak jua membuat Iskandar mau meledak perutnya. Tawanya makin gurih kala tetesan arak yang dihamburkan ke mulutnya berpencaran menetesi dagu dan jatuh memburai di tanah. Lapak kecil yang terletak di pojokan jalan dibahani tepukan penyemangat.

Setelah tetesan terakhir yang bersisa di dagu bagian bawah diusap, lalu dijejalkan ke mulut, tepukan kembali merajai malam kelam. Iskandar bangkit berdiri, menahan huyungan badan. Matanya mulai tak berteman, lingkarannya mengecil dengan sedikit gumpalan di bagian bawah. Kedua tangannya disentakkan ke atas, menantang dingin dan mengirimkan kabar ke pelosok langit. “Hiaaaaaaa!!! Mana uangnya? Mana?!”

Gofar mengambil setumpuk uang dari saku celananya. Amarahnya mulai mendekati ujung. Di kampung ini dia terkenal sebagai peninum arak tanpa mabuk, namanya sudah mengedar ke segenap penjuru angin. Iskandar datang, tahtanya pun tumbang.

“Besok kita beradu minum lagi,” sengitnya sembari melempar uang di meja, menyelinap di antara botol-botol arak dan gelas yang letaknya sudah lintang pukang.

Entah kapan kembalinya anak muda bernama Iskandar yang dikenal sebagai putra tunggal Haji Sobirin itu. Lama tak berkabar kecuali Iskandar melaut ke tanah seberang. Sempat pula membikin Haji Sobirin, yang dikenal sebagai iman masjid Al Furqon itu, terperangah dengan mulut menganga, lalu merangkulnya disertai titikan air mata. Putra semata wayangnya yang menurut kabar lenyap di lautan, datang dengan segar bugar.

Teringat pula kepergian Iskandar yang tak pernah jelas, setelah Munah, gadis yang sejak kecil dilimpahi cinta, tiba-tiba dikawinkan dengan lelaki tua beristri tiga. Menikahnya Munah membuat runtuh akar-akar Iskandar, batangnya tumbang dan seluruh daun berluruhan. Siang malam hanya bisa menangis meratapi kesedihan. Lalu tiba-tiba, sosoknya lenyap bersama angin malam. Tak ada yang tahu, Haji Sobirin pun tak paham. Munah menangis diam-diam, tapi tetap menurut digeret ke ranjang, apalah daya karena dia perempuan.

Sebulan kembali ke tanah harapan, Iskandar telah berpaling hulu dan ladang. Dia sudah berani berbaku hantam dengan marbot masjid yang dianggapnya lalai karena satu Shubuh tak sempat beradzan karena masih terlelap. Berani pula menerjang-nerjang di pasar, meminta uang pada para pedagang. Terlebih gila dia mendatangi rumah Munah, berani meraih tangan mengajak Munah lari dari sana. Munah menolak, menjeritkan kalau dia tak kuasa meninggalkan dua putranya yang masih kecil. Iskandar meradang. Munah ditamparnya, dimakinya dengan sebutan yang menyisakan kemarahan. Lalu beberapa orang berseragam membawanya keluar, melemparnya. Untung suami Munah masih bertabik baik meski kemarahannya tak kuasa dibendung.

Haji Sobirin yang merasa siap terlelap panjang menunggu jemputan Izrail dalam naungan damai, merasa perlu berdoa pada Tuhan agar umur diperpanjang dan dia bisa mengembalikan Iskandar ke jalan asal. Karena suami Munah meski dituturkan penuh kelembutan, menebar paku-paku panas di sekelilingnya. Bila tak memandang wajah tuanya, Iskandar akan lenyap dari muka bumi.

“Kau beradu menenggak arak lagi, Is?” Gelegak darahnya menumpah-numpah ketika melihat Iskandar pulang terhuyung limbung membawa uang banyak di tangan. Sebagai imam masjid, tak ada lagi tempat untuk meletakan muka karena semua sudah tahu perihal Iskandar.

Iskandar tertawa sengau, lalu berdahak mirip suara lembu di kandung kala malam. “Tapi aku bawa uang banyak, Bapak. Lihat, lihat… Dengan uang ini, aku akan membeli Munah, Bapak! Karena ini yang bisa membuat Munah lari dariku!”

“Is! Inikah yang kaupelajari dari tanah seberang setelah kau menghilang? Allah murka dengan hamba-Nya yang tak mengindahkan larangan-Nya.”

“O… begitu… lantas mengapa Dia membiarkan Munah dipelaminani lelaki tua yang harusnya berkalang ajal? Kenapa, Bapak? Kenapa?!”

Selimbung tubuh Iskandar, batin Haji Sobirin limbung pula. Perkiraannya Iskandar pulang tanpa lagi membawa kepedihan lalu. “Karena itulah batasan dari Allah, Nak, rahasia Yang Maha Besar.”

Tangannya mengibas menampar angin, kedua lulutnya bergetar hebat. “Aku tak perlu rahasia, aku ingin terbuka selebar mataku memandang lautan. Aku benci Tuhan, Bapak! Benci!! Aku juga benci lelaki yang menikahi Munah! Tak puaskah dia menunai nafsu dari tiga bini yang telah memberinya banyak anak? Tak sudahkah dia menghirup darah segar dari gadis-gadis seperti Munah yang dipayungi kemegahan padahal hati gadis-gadis itu luka? Gadis lain boleh diambilnya, tapi Munah…” Tubuh itu ambruk, lalu tertatih menangis gerung.

Bibir tua Haji Sobirin bergemik-gemik. Terkulai rasanya semua tulang. Tak tahu dia harus menjawab apa. Ketika tahu Munah dipinang oleh Martua, Haji Sobirin bisa merasa kalau degup bahaya akan bertandang ke rumahnya.

Tepat pula yang dipikirkan.

Iskandar sepulang dari berladang meraung ganas, seribu harimau yang bersemayam di tubuhnya berlompatan. Perhelatan Munah dan Martua menjadi ajang prajurit terluka yang mengamuk. Tarup, hidangan, pelaminan semua lintang pukang. Tiga orang tukang pukul Martua memberi kenangan di pelipis Iskandar, hingga hari ini masih ada bekas itu.

Haji Sobirin menghela napas panjang. Lalu penuh kasih sayang dipegang kedua bahu Iskandar yang bergetar hebat. Coba diangkatnya segenap tenaga. Muntahan arak yang menyembur membasahi dadanya tak dihiraukan. Dipapah Iskandar ke dalam. Direbahkan di ranjang penuh haturan terimakasih pada Tuhan karena anak semata wayang pulang.

Disalinnya baju yang membujur arak, lalu disalin pula baju Iskandar. Diselimuti tubuhnya yang tiba-tiba menggigil. Mungkin arak yang telah bergolak atau karena penat batin yang berkarat. Entahlah. Haji Sobirin menungguinya hingga Shubuh dan memusuhi sepasang matanya kala mengerjap ingin terlelap. Tak mau melewati sedetik yang lewat memandangi Iskandar yang lamat-lamat terbujur tenang. Mungkin pingsan, batinnya. Tapi napasnya teratur seiring doa yang dipanjatkan Haji Sobirin, berharap Iskandar akan berubah.

Tetapi Iskandar semakin menjadi. Tindakannya semakin mengerikan. Warga mulai tak senang padanya, tapi masih memandang Haji Sobirin. Sambil menahan getir yang kian menggaung, Haji Sobirin berulang kali meminta maaf. Dia berjanji akan mengembalikan Iskandar ke jalan yang benar. Dan tak seorang pun yang tahu, kalau hatinya kerap menangis.

                              ***

Gaung adzan Shubuh menyeruak pagi, membangunkan bumi, menjejalkan aroma damai ke seluruh penjuru. Haji Sobirin bangkit mengambil wudhu. Lalu mengenakan kain dan kopiah hajinya yang terbaik, selalu begitu setelah kali menghadap Allah. Sesaat terpanggil untuk melihat Iskandar, tapi dilepaskannya, karena baru kali pertama seumur hidupnya, dia akan tiba di masjid setelah dikumandangkan panggilan Shalat.

Maaf dilantunkan lagi, begitu setiap kali hendak memulai shalat, para jamaah tetap menyambut hangat. Hitam yang ditorehkan Iskandar tak menampak di wajah teduh Haji Sobirin, begitu batin mereka. Manusia hanya menanggung dosa dan pahalanya sendiri. Shaft pun teratur rapih, Haji Sobirin maju ke muka. Memimpin shalat dan berdoa besok tak ada lagi kejadian yang menyusahkannya.

Tiba-tiba suara derap langkah cepat mengudara di latar masjid. Semua menoleh. Terpanggang kejut saat melihat Iskandar masuk bergegas, mengenakan kain sarung dan kopiah bersih. Tubuhnya wangi pula. Entah berapa cepat dia mandi.

Haji Sobirin tersenyum, hentakan bahagia berlagu di dada. Shalat terasa lebih khusyuk’ dari hari-hari sebelumnya, tak lagi terpatri pikiran soal perbuatan Iskandar. Barisan anak panah yang kerap menancap dadanya, yang menggigit gelisah dalam, telah tercabut perlahan dan patah batang sebatang.

“Is khilaf dan minta maaf,” sebaris kata bagai gumpalan salju menyejukkan dada kala jalan bersama menyusuri pagi mengintip siang. “Is sadar, Munah sudah milik orang. Is ingin bertobat.”

Pelukan hangat dicurahkan, barisan doa dalam hati kecil pun didendangkan. Iskandar telah pulang, telah kembali ke jalan awal. Kampung pun jadi tentram, tak ada lagi yang bikin keributan. Gaung nama besar Haji Sobirin naik setingkat lagi, berproses menjadi seorang ayah yang akhirnya mengembalikan anaknya ke jalan kebenaran. Tak lagi ditemui lapak di pojok jalan tempat Iskandar beradu minum arak. Hawa hitam tak lagi bergumpal di kampung itu.

Gofar murka karena kekalahannya tak terbalas, dia mengamuk, mencari-cari Iskandar yang meminta maaf dan mengembalikan uang yang pernah dimenangkannya. Gofar gembira tapi masih meludah. Dua hari kemudian dia ditemukan tewas di terkapar di tepi pantai. Ada yang bilang itu hukuman atas dosa-dosanya, karma atas perilaku yang mengacau orang yang telah bertobat.

Iskandar tersenyum di belakang rumah, di balik semai rumpun tinggi sambil mengasah parang. Malam menggayut pekat. Dia harus mengubah sikap, tak lagi menunjukkan wajah garang. Santun harus diperlihatkan. Bukankah seperti itu sikap orang-orang berwajah seribu, yang luar biasa banyaknya bertaburan? Dia telah banyak belajar dari tanah seberang, tanah-tanah terhormat, mengapa tidak memanfaatkannya.

Lalu dipandangi parang berkilat tajam.

Dengan langkah yakin, dia melangkah menuju rumah Martua… setelah itu, tinggal mencari domba kurus yang akan ditanggungi beban.***

                                                                                               Mutiara Duta, 15 Maret – 2 Juni 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: