Cerpen : Dilarang Bicara Dengan Orang Penting

Dimuat di Tribun Jabar, Minggu, 1 Agustus 2010

GARA-GARA dianggap menyemburkan serapahan pada mobil mewah yang nyaris menyerempetnya, Jarot dibetot, lalu digeret ke Polsek yang dulu bangunannya hanya sepetak tanah dan kini telah menjadi penuh romantis, tiga lantai dengan halaman yang bisa menampung dua puluh kendaraan roda empat. Setiap lantainya pun ber-AC. Menyenangkan bekerja di sini, desis Jarot ketika tubuhnya didorong masuk ke sebuah ruangan. Kursinya empuk pula. Pantatnya bersemayam adem hingga tak merasakan sentakan tangan kekar yang menekan kedua bahunya mempersilakan duduk.

Dia diinterogasi selama lima jam. Diiringi suara kasar yang menyayat telinga, tapi lagi-lagi (mungkin karena suasana yang sejuk dan pantat yang damai) Jarot tidak terlalu perduli.

“Sampeyan benar-benar kurang ajar! Tidak tahu apa yang di dalam mobil itu orang penting? Dia pejabat tinggi! Jangan bikin malu!” bentak yang berkumis. Suaranya bergetar, jelas tanda kemarahan.

“Iya, Pak. Saya minta maaf karena saya tidak tahu. Boleh minta minum?”

“Kurangajar! Sampeyan ini benar-benar keterlaluan! Memangnya sampeyan pikir ini kantin?! Ini salah satu gedung terhormat, melindungi dan mengayomi! Mau kena pasal?!”

“Ya tidak, Pak. Saya sudah boleh pulang kan?”

“Pulang?!” ludah muncrat di wajah Jarot. “Sampeyan harus diadili! Karena sampeyan sudah kena pasal perbuatan tidak menyenangkan!! Bawa dia masuk!”

Jarot mengerutkan kening. “Lho, ini jadi ini bagian luar toh? Luar biasa ya kantor ini. Bagian luarnya saja sudah sejuk begini, apalagi bagian dalam.”

Mengkelap wajah di depannya, kedua matanya memburai memancarkan kemarahan. “Penjaraaaaa!!!”

                                       ***

Di dalam lindungan aman besi-besi yang berjajar, Jarot ditertawakan sesama napi.

“Makanya, jangan mencaci sembarangan! Sekarang zaman sudah edan, segala sesuatunya pasti ada pasal perbuatan tidak menyenangkan.”

 “Iya, lucu sekali. Mobil itu kan mau menyerempet saya, ya saya ngomonglah. Malah dibawa ke sini. Bingung.”

 “Kenapa bingung?”

 “Orang-orang yang ribut kemarin di Senayan, orang-orang yang nyolong duit rakyat, orang-orang yang saling lempar batu sembunyi tangan, semuanya kan melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan, saling caci maki dan baku hantam, kenapa tidak ditangkap?”

 Sel yang dinding-dindingnya tak pernah meriakan kegembiraan kali ini serasa runtuh oleh tawa berhantam-hantam. Mereka terpingkal-pingkal dengan ucapan Jarot.

 “Lalu, lalu?”

 “Ya tidak ada lalu. Cuma bingung. Buat mereka mungkin menyenangkan, tapi kan buat yang menonton tidak menyenangkan. Membuat orang memalingkan muka menutup wajah itu perbuatan yang tidak menyenangkan, kan?”

 “Tidak usah bingung, karena mereka sesama orang penting. Orang penting boleh baku hantam dan saling maki. Orang penting juga boleh membuat gedung terhormat menjadi pasar komedi putar! Kamu orang penting bukan?”

 “Bukan, saya cuma pedagang telur asin.”

 Kembali tawa menghantam dinding. “Makanya nasibmu asin!”

                                      ***

Dua bulan kemudian, Jarot disidang. Lagi-lagi dia bahagia karena ruangan yang sejuk seperti ini. Tadi naik mobil pula ke sini, kopiah pun dipinjamkan. Rasanya seperti pejabat ketika datang ke acara Maulid. Benar-benar jadi orang besar. Pasti yang duduk di depan itu orang besar. Yang pakai jubah hitam pun orang besar. Amboi, bahagianya berkumpul bersama orang besar. Jarot menatap atap ruangan, menembusi celah-celah genting dan hinggap di langit ke tujuh, memanjatkan doa dan berharap kedua orangtuanya melihat putra mereka bisa bersama orang-orang besar.

Di luar, seseorang yang masih duduk di bagian belakang sebuah mobil mewah berkata pada orang di sebelah, “Ini bisa?”

“Sangat bisa, Pak. Ini waktu yang tepat. Bapak kan lagi disorot masalah mark up dana, dengan bersikap penuh kasih sayang pada rakyat kecil, pasti semua akan lupa. Kita pakai sistem lama, Pak. Berita ditutupi berita.”

Orang itu terdiam sejenak, lalu mengangguk penuh keyakinan. “Buka pintu.”

Sopir membukakan pintu. Orang itu turun, menebar senyum pada puluhan wartawan yang sejak tadi menantinya. Pertanyaan demi pertanyaan datang bertubi-tubi yang dihadapi dengan senyuman milik Arjuna.

“Intinya, saya memaafkan sikap Jarot. Yaaa… mungkin dia hanya terkejut jadi berucap seperti itu. Permisi. Nanti kita lanjutkan.”

Para wartawan belum puas, mereka berusaha mengajukan pertanyaan. Tapi orang-orang bersafari yang turun dari mobil di sebelah mobil mewah tadi menghadang, berkata santun memberi pengertian. “Nanti akan ada jumpa pers, khusus melayani Saudara-sudara.”

Dua jam kemudian, orang itu keluar sambil menggandeng Jarot yang langsung dihamburi para wartawan. Lampu blizt berkeliaran dari segenap arah angin. Momen seperti ini tak boleh luput. Ini jarang terjadi, ada orang penting yang mau menggandeng rakyat miskin. Yang baru naik sedikit saja kadang sudah lupa kelapa pada sabutnya.

“Tak ada sidang,” kata orang itu, “karena saya tidak menuntutnya dan tidak ingin dia di penjara. Orang-orang seperti Saudara Jarot ini harus diayomi, karena mereka juga tulang punggung bangsa negeri ini. Bukan begitu sebaiknya, Saudara Jarot?”

Jarot tidak mengerti, hanya tadi dibisiki dia harus mengangguk dan tersenyum. Lebih tidak mengerti lagi saat menonton televisi, dia ada di televisi, setelah acara musik, Dewa, Radja, dan Insomnia Band. Besoknya pun wajahnya terpampang di surat kabar. Aih, benar-benar sudah menjadi orang penting. Kopiah itu bagus sekali, tapi sayang diminta lagi.

Telur asin pun banyak laku terjual. Untung besar meski belum bisa membeli AC. Orang-orang menganggap bila menikmati telur asin yang dijual Jarot, akan mendapat berkah. Namanya pun berubah, menjadi Jarot Telur Asin. Kalau ada yang bertanya, kenal Jarot, pasti akan dibalik tanya, Jarot telur asin? Dan mereka berbondong-bondong menawarkan diri untuk mengantar, lumayan karena berjalan bersama orang besar.

Orang yang menyelamatkan Jarot dari dinginnya dinding penjara pun selalu datang, setiap kali datang pasti diiringi para wartawan. Jarot menjadi selebritis. Berfoto-foto. Lalu ditawarkan sebuah rumah tipe 21. Lumayanlah ketimbang mengontrak.

“Ada AC-nya?”

Orang itu tertawa lalu mengangguk. “Fasilitasnya lengkap.”

Jarot pindah rumah, tetap berjualan telur asin. Kali ini tidak perlu keliling, karena semakin hari bertambah jumlah orang yang datang. Ada yang bermaksud hanya ingin tahu bagaimana Jarot bisa seberuntung itu, tapi terpaksa pula membeli telur asinnya.

Ketika orang-orang bertanya, cacian apa yang dilontarkan Jarot hingga dia harus digelandang ke Polsek, mendekapi sel hampa dan nyaris disidangkan, Jarot tersenyum, masih tersenyum dia berkata, “Bukan mencaci… saya hanya bilang sama orang di mobil mewah itu, hati-hati. Itu saja.”

Orang-orang terkesiap seolah sentakan kuat meraja tiba-tiba. Hati-hati? Hanya hati-hati Jarot akhirnya bernasib baik?

Selang dua hari kemudian, berbondong-bondong orang-orang menghambur ke jalan dan pada siapa pun selalu berkata, “Hati-hati”. Ada pula yang berlakon sengaja menyerempetkan tubuhnya ke mobil-mobil mewah dan berucap, “Hati-hati.” Siapa tahu ada nasib baik seperti Jarot.

Jarot akhirnya masuk MURI, karena dengan ucapan hati-hati itu dia bisa mengubah nasibnya menjadi terkenal, juga mengubah nasib prilaku semua orang, termasuk orang penting yang nyaris menyerempetnya. Kasusnya telah tertutup, mungkin sengaja dikunci dengan lembaran, atau terkunci dan anak kuncinya hilang dibawa Iprit semalam.

Yang penasaran mendatangi Polsek dan bertanya kenapa Jarot digelandang padahal dia bukan mencaci, tapi bersikap baik.

“Karena orang rendahan seperti dia, berani bicara dengan orang penting! Tapi jangan lupa, karena saya dia jadi orang penting sekarang.”

Sejam kemudian, tempat itu sudah dipenuhi ribuan orang yang minta dijadikan orang penting…***

                                                                                          Mutiara Duta, 11 Maret 2010

2 Responses to “Cerpen : Dilarang Bicara Dengan Orang Penting”

  1. Saleh Says:

    Cerpen bagusnya mas, lucu, menyinggung pemerintah. Bravo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: