Cerpen : ILUSI

Buat Mas Rachmat Budi Muliawan dan Sungging Raga

WANITA yang kira-kira berusia tiga puluh tahun itu  membelalakkan matanya. Ketenangan hatinya kini berganti dengan sebuah tekanan yang menyentak ke tulang sumsum bagian terdalam. Begitu menyengatnya hingga dia berulangkali menelan ludahnya yang terasa sangat pahit.

“Kau tidak salah omong, Pak?!” suaranya agak tersedak dengan mata masih membeliak.

Laki-laki bertampang kukuh, yang duduk di hadapannya sesaat mengangkat kepalanya, tersenyum sekilas, lalu dengan gerakan yang meyakinkan menggelengkan kepalanya. Tetap asyik menghembuskan asap kreteknya.  Mengangkat sedikit  kopiah hitamnya. Kakinya tetap terangkat satu di kursi yang didudukinya dengan santai.

Wanita itu menghela napas panjang, berusaha membuang tekanan yang semakin terasa keras yang tiba-tiba menghantamnya membabibuta. Sekilas dia curiga. Apakah suaminya dalam  keadaan mabuk? Astaghfirullah! Bila suaminya melakukan perbuatan haram itu, dia tidak akan pernah memaafkannya. Tetapi mengapa dia harus mencurigainya? Dan bila melihat sikap serta mencium  bau mulutnya,  dia  bisa dengan segera menyingkirkan dugaan itu.

Di luar, malam semakin tenggelam dalam biasan rembulan. Suara hewan malam berusaha unjuk gigi.

“Pak, eling to, eling kalau ngomong,” ujarnya setelah bersusah payah menahan gelombang di dadanya.

Laki-laki  itu tetap menggelengkan kepalanya, dengan sikap yang sama. Tenang dan sama sekali tidak bergeming.

“Pertanyaanku ini wajar. Aku mengeluarkan apa yang  ada dalam diriku. Semacam dorongan yang memang sukar untuk ditahan. Kau bisa menjawabnya kan, Bu?”

Wanita itu menghela napas masygul. Tekanan itu tak berubah.

Ealah to, Pak… kalau bertanya jangan seperti itu  kenapa? Pertanyaanmu nganeh-nganeh saja.”

“Tidak, Bu. Jawablah. Aku ingin mendengarnya.”

“Aku tidak bisa menjawabnya. Membayangkan kau mati saja  aku tidak sanggup.”

“Bu, pertanyaan yang kuajukan itu kan tidak aneh. Apa  yang akan  kaulakukan bila aku mati. Pertanyaan yang wajar, to? Sama seperti halnya setiap hari kau bertanya, makan apa kita besok? Nah, tak ada bedanya.”

“Tetapi pertanyaanku itu upaya untuk mempertahankan  hidup. Kalau besok kita tidak bisa makan enak, buatku tidak apa-apa. Kalau besok hanya memakan hidangan sederhana, itu sudah lebih dari cukup. Kalaupun besok kita tidak bisa memakan apa-apa, kita bisa berpuasa. Pak… di  zaman sekarang seperti ini, kita harus eling. Bukannya bertanya yang nganeh macam begitu.”

“Kurasa ini tidak. Aku hanya ingin tahu saja.”

“Tetapi bagiku, pertanyaanmu itu  termasuk  aneh.  Bahkan sangat aneh. Pertama, kau belum mati. Kedua, kau sudah  bertanya apa yang akan aku lakukan bila kau mati. Ketiga, pertanyaan edan seperti itu tidak patut untuk dilontarkan.” Wanita itu berusaha menekan rasa kesalnya. Dia berharap suaminya akan segera mematahkan pertanyaan yang dilontarkannya sendiri.

Tapi laki-laki itu tetap seperti batu karang yang tak bergeming dihempas ombak. Suaranya tetap seperti tadi, datar sekaligus menuntut.

“Keberatan pertamamu memang benar, aku belum mati. Kebera­tanmu kedua, bisa kujawab, bila aku mati, aku tidak tahu apa yang akan  kau lakukan.  Keberatan ketiga, itu suatu pertanyaan yang wajar saja.”

“Tetapi bagiku pertanyaanmu itu tidak wajar.” Wanita itu mendesah masygul, menahan gumpalan-gumpalan riak antara keheranan dan kekesalan.

“Kau hanya menjawab saja.”

“Tidak. Aku pusing dengan pertanyaan-pertanyaan anehmu itu. Sudahlah, aku mau tidur.”

Wanita itu masuk ke kamar. Merebahkan tubuhnya.  Matanya, tidak bisa langsung diajak bekerja sama. Pikirannya masih mengge­nang  sisa-sisa  pertanyaan suaminya. Ia mencoba  tidur dan berharap semuanya akan berlalu begitu saja. Ia mencoba menganggap pertanyaan suaminya itu hanya sekadar pertanyaan iseng. Apa yang akan kaulakukan bila aku mati, Bu? Huh! Pertanyaan yang benar-benar aneh.

Besok­nya–seperti biasa–saat ayam jantan berkokok, dia telah bangun. Langsung menuju ke kamar mandi untuk berwudhu. Saat kembali dari kamar mandilah, dia baru menyadari sesuatu.

Suaminya masih duduk di tempatnya semalam. Tetap dengan posisi semula. Hanya yang berubah, puntung rokok sudah semakin bertambah banyak di asbak. Masya Allah, berarti… semalam dia tidak ada di sampingnya?

“Tidak tidur to, Pak?” tanyanya heran.

“Aku masih ingin mendengar jawabanmu itu, Bu.”

“Pak… kau hanya menyiksa diri saja. Kau tidak perlu  memi­kirkan pertanyaan semacam itu. Sebaiknya kau Shubuh dulu. Kita berjemaah seperti biasa.”

“Aku masih memikirkannya.” Laki-laki itu menatap istrinya  dengan mata merah dan tatapan berat. Kepucatan menghiasi wajahnya. Rasa penasaran menggenang, dalam cermin sinar kelabu. “Jawablah perta­nyaanku itu, Bu. Apa yang akan kaulakukan bila aku mati?”

Wanita  itu  menghela napas, lebih  panjang  dari  biasanya. Pelan-pelan dia duduk di hadapan suaminya. Sejenak terdiam seolah memikirkan jawaban yang tepat.

“Aku akan menangis,” akhirnya ucapan itu terlontar juga, diiringi helaan napas berat.

Seperti  mendapat  hadiah undian yang besar,  laki-laki  itu memajukan tubuhnya, matanya lebih terbuka dan penuh sinar. Hiasan penasa­rannya membias.

“Mengapa kau akan menangis, Bu?”

Masya Allah! Masih ada pertanyaan rupanya? “Lho, ya tentu aku menangis.”

“Mengapa?”

“Karena… karena aku sedih–tentu saja.”

“Mengapa kau sedih, Bu?”

“Pak! Hentikan… hentikan pertanyaan yang tak ada gunanya ini!”

“Kau sudah memulai menjawab, berarti karena aku harus menjawab pertanyaan selanjutnya, Bu.”

“Karena… karena kau suamiku dan aku mencintaimu, Pak.”

“Lalu apa yang akan kaulakukan?”

“Tentunya berkabung.”

“Setelah itu?”

“Setelah itu?” Wanita itu menelan ludahnya.

“Ya, setelah itu, apa yang akan kaulakukan?” tanya  suaminya getol.

“Tentunya, aku, ah, Pak… bukankah inti pertanyaanmu sudah aku jawab?”

“Setelah itu, apa yang akan kaulakukan, Bu?” tanya laki-laki itu tak perduli.

Sementara wanita itu mulai lagi merasakan ada sebuah pusaran arus hebat di dadanya, mengombang-ambingkan dirinya. Perasaannya. Jiwanya. Lalu dia merasa terpental di pulau yang sunyi.

“Aku… aku, ah… aku tentunya akan merana. Seorang diri di dunia ini. Kita tidak punya anak. Dan aku juga tidak punya sanak keluarga lagi.”

“Kau tidak menikah lagi?”

Wanita  itu mulai melihat ada harimau ganas di pulau sunyi itu. “Pak!”

“Pertanyaanku wajar, Bu. Kau masih muda, bukan? Belum ter­lambat bagimu untuk menikah lagi. Dan tentunya… mungkin kau bisa hidup lebih senang dari yang sekarang kaujalani….”

“Aku sudah senang hidup bersamamu seperti sekarang, walau kita miskin.”

“Kau akan mendapatkan hal-hal yang tak pernah kaurasakan bila kau menikah lagi.”

“Tetapi aku tidak akan melakukannya. Aku… entahlah, Pak….”

“Kenapa?”

“Pertanyaanmu sulit. Selalu kenapa.”

“Aku hanya bertanya. Kau menikah lagi?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Kata itu lagi yang kaumulai dari setiap pertanyaanmu!”

“Kenapa?” Laki-laki itu tak perduli.

Wanita  itu  merasakan getaran hebat  di  sekujur  tubuhnya. Harimau  itu semakin mendekat. Memperlihatkan beberapa taringnya dan mulai mengaum keras.

“Karena aku tetap mencintaimu, Pak. Tetap setia hingga akhir hayatku kelak.”

“Kenapa?”

“Pak! Hentikan pertanyaan ini!”

“Aku bertanya, kenapa  kau  masih mencintaiku, sementara–tentu saja–aku sudah tiada. Dan kau tentunya hanya menyiksa dirimu saja, Bu, bila kau melakukannya. Kau membutuhkan teman dalam hidupmu nanti bila aku sudah mati. Kau harusnya menikah lagi. Dengan begitu, kau bisa membagi sisa hidupmu bersama laki-laki yang akan kaunikahi kelak.”

“Aku yakin dengan kata-kataku. Aku akan tetap setia kepadamu meskipun kau telah mati.”

“Kau bodoh, Bu! Kau hanya mempertahankan sebuah kesia-sian. Mungkin kau tetap setia. Tetapi kau akan dirongrong oleh kehidu­pan yang keras ini. Kau mungkin tidak tahu, di luar tempat  ting­gal  ini, ada sebuah  kerajaan baru yang telah dibentuk bersama ladang  pencakar  langit yang sedang tumbuh menjulang.  Ini  kata temanku di tempatku bekerja yang gemar membaca. Semula aku  tidak yakin  hal  itu, tetapi setelah kulihat dan kuamati, apa yang dikatakannya itu ternyata benar. Nah, apakah kau bisa bertahan hidup sendiri sementara suatu saat kelak, kau mungkin akan menjadi yang tersingkir?”

“Aku  tidak perduli soal itu. Bagiku, cintaku  padamu  tetap paling hakiki yang kurasakan, bersama dengan keterbatasanku dan keterbatasanmu.  Aku tak perduli dihimpit oleh ladang pencakar langit seperti yang kaukatakan. Hidup  yang kurasakan sekarang ini sudah jauh lebih cukup, asalkan kau bersamaku. Karena semiskin apa pun, kau adalah jodoh yang diberikan Allah untukku. Aku yakin, Allah selalu mengabulkan doa-doaku setiap shalat kalau aku menginginkan seorang suami yang baik untukku….”

“Tetapi aku sudah mati.”

“Makanya, kau jangan mati.”

“Mana bisa begitu. Tidak mungkin. Allah menciptakan  manusia selain untuk hidup, juga untuk mati. Dan aku akan segera menemui kematian yang telah menungguku di persimpangan jalan. Kau tahu kapan dimulainya kematian?”

“Kau pernah mengatakannya padaku dulu.”

“Ya… dimulai dari sebuah kehidupan. Kehidupan itu sebenarnya awal dari kematian….”

Wanita itu menghela napas. Melihat kalau harimau itu mulai menjauh.

“Ganti  aku yang bertanya sekarang. Kenapa kau yakin kalau kau akan segera mati?”

“Aku melihat tandanya.”

“Bagaimana bisa?”

“Orang yang ingin mati itu, suka bersikap aneh tanpa  disa­darinya.  Suka berkata sesuatu yang tanpa sadar menjadi kenangan terakhir.”

“Kau merasakan seperti itu?” Keningnya berkerut.

“Lho, justru aku yang bertanya padamu, Bu. Apakah kau tidak bisa menangkap gelagat dari pertanyaanku?”

“Kau ini terlalu aneh, Pak.”

“Tidak.  Ini  tidak  aneh. Aku sudah  semakin  dekat  dengan Tuhan-ku. Kulihat Dia seolah tersenyum memanggil-manggil namaku. Menghendaki aku agar segera pulang.”

“Ini rumahmu, Pak.”

“Bukan. Pulang dalam arti, ke tempat paling akhir yang telah dijelajahi manusia. Manusia boleh berbangga bila dia telah menda­tangi hampir seluruh kota di seluruh negara. Boleh bangga  dengan budaya dan peradaban yang pada akhirnya terasa semakin menjajah, semakin  menggigiti  setiap jengkal tanah yang akan  kita pijak, menggerogoti setiap daging yang melekat pada tulang kita. Tetapi, kita  tidak pernah tahu ke mana akan kita pulang, kecuali kata bayang-bayang; Sorga dan Neraka. Ingat, dalam sejarah seseorang wanita yang telah dianggap berdosa dan tak mungkin diampuni dosanya, ternyata diampuni dosanya setelah dia memberikan minum seekor anjing yang kehausan. Dan seorang pemuda yang taat beribadah serta diyakini tidak berbuat dosa, akhirnya mati dengan cara menjijikkan karena meminum segelas arak. Makanya, Bu… sulit menentukan, semuanya masih bayang-bayang. Ibaratnya, kita berusaha menepuk cahaya….”

Wanita itu kembali melihat harimau tadi mendekatinya. Napas­nya  sedikit  memburu, tekanan dalam dirinya menitis  di  antara butir-butir darahnya.

“Aku  tak sanggup lagi meneruskan kata-kata ini. Lebih  baik, kita segera shalat Shubuh dulu, Pak.”

“Tunggu, Bu. Sekarang baru pukul setengah lima lewat sepuluh menit.”

“Kita akan lebih baik menyegerakan shalat. Kau sendiri yang mengajarkan padaku,” kata wanita itu mengingatkan.

“Masih ada pertanyaanku lagi. Dan aku  berjanji, akan segera menyudahinya bila pertanyaanku ini kaujawab.”

Wanita itu hanya bisa menganggukkan kepalanya.

“Kenapa kau tidak mau menikah lagi?”

“Pertanyaan  itu lagi!” geramnya dalam hati.  Lalu  katanya, “Karena aku mencintaimu, makanya aku tidak akan menikah lagi!”

“Kenapa?”

“Pak,  kau  hanya membuang-buang waktu saja.  Setiap  perta­nyaanmu sudah kujawab. Keingintahuanmu yang aneh itu telah  kuja­wab. Aku harus mengambil cucian pagi ini!”

“Jawab pertanyaanku tadi.”

“Kau mengulang-ulang terus pertanyaan itu!”

“Jawab, Bu.”

“Apakah  kau tidak punya pertanyaan lain  selain  menanyakan keanehanmu tentang kematian?”

“Itulah pertanyaanku. Sekarang, jawab pertanyaanku barusan.”

“Sebenarnya apa yang kauinginkan, Pak?”

“Hanya ingin mendengar jawabanmu.”

Wanita  itu tidak lagi merasakan suatu tekanan dalam aliran darahnya,  mulai berbelok arah menjadi bongkahan jengkel  yang tidak beraturan.

“Pak,  apakah bila kujawab aku akan menikah lagi  kau  tidak mengemukakan pertanyaan lagi?”

“Aku akan bertanya lagi bila kau menjawab seperti itu.”

Ditelan ludahnya. “Aku tidak menjawab seperti itu.”

“Kenapa?”

“Pak!” suaranya keras, bagai jeritan.

“Jawab pertanyaanku itu.”

“Karena  aku  tetap mencintaimu, walau kau sudah mati! Aku akan terus mengenangmu sebagai seorang suami yang diberikan Allah padaku!  Kau puas itu? Kau puas?!”

Laki-laki itu tersenyum.

“Aku tidak tahu apakah aku puas atau tidak. Yang pasti, aku tahu  apa yang akan kaulakukan bila aku mati. Kita shalat berjemaah, Bu….”

Pukul  setengah  delapan  lewat, laki-laki  itu  pun keluar rumah.  Tidak seperti biasanya dia mengecup kening istrinya  yang hanya terlongoh-longoh saja.

Langkahnya  ringan. Bebannya hilang. Pertanyaan demi  perta­nyaannya  telah dijawab istrinya. Dia senang mendapatkan istri yang begitu mencintainya, yang tetap setia bila dia sudah mati. Dia pun bekerja  lebih  giat  dari biasanya.  Pulang bekerja dibelikan makanan dan  minuman  kaleng untuk  istrinya.  Dia bangga dengan sifat istrinya yang tegar, lembut dan penuh pendirian.

Pukul setengah enam sore, dia tiba di rumah. Dibukanya  pintu rumahnya yang tak terkunci dengan perasaan bahagia. Dia masuk dan berseru, “Bu, aku pulang…! Aku…”

Kata-katanya seketika terhenti, seolah melihat sambaran petir di hadapannya. Dia berhenti melangkah. Menatap  istrinya yang  tengah duduk di kursi, seolah menunggunya, dengan tatapan yang lekat pada kedua matanya. Ada yang aneh pada tatapan istrinya. Ada ketegangan tergambar padat wajah lembut istrinya. Laki-laki itu terdiam, terus memperhatikan dengan tubuh yang—entah mengapa—mendadak bergetar.

Pelan-pelan didengarnya hembusan napas lembut, sangat lembut. Dilihat pula mulut istrinya membuka, disusul suara yang bergetar.

“Pak, apa yang akan kaulakukan bila aku mati?”***

 

2 Responses to “Cerpen : ILUSI”

  1. terimakasih sekali dengan cerpennya yg telah didedikasikan kpdku ini, mas Fahri….Sungguh aku sangat senang dan bahagia telah diberi hadiah oleh seorang cerpenis besar Fahri Asiza… salam.

    • Aku pun sangat bergairah ketika menuliskan cerpen ini, karena spesial buat Mas Rachmat yang sangat kuhormati sebagai kakak yang baik dan sahabat yang penuh dedikasi. Dan beberapa bulan ini, aku sungguh-sungguh kehilangan Mas Rachmat. Kucari di FB gak ada. Ku sms pun failed. Ketika kutelepon, hape mas Rachmat selalu mati. Pernah aku memposting di FB menanyakan keadaan Mas Rachmat pada beberapa kawan, tapi seorang kawan justru memintaku untuk menghapus postingan itu karena katanya, Mas Rachmat sedang ingin beristirahat dan postinganku dikhawatirkan akan menimbulkan gegap gempita. Aku juga menanyakan pada beberapa kawan melalui sms dan telepon, tapi kudapati jawaban (lagi-lagi) Mas Rachmat sedang ingin beristirahat dulu. Aku pernah juga mau meng-email, tapi akhirnya kuputuskan tidak jadi.

      Doaku buat Mas Rachmat, semoga Mas Rachmat selalu sehat, selalu sukses, selalu dalam lindungan Allah SWT dan selalu bahagia.

      salam sayangku selalu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: