Cerpen : Marto Memetik Bulan

Cerpen ini dimuat di antologi SURAT BUAT ABANG, 2005

YANG selalu dipikirkan Marto, hanya bulan. Terutama pada saat malam purnama. Marto bersikeras untuk bisa memetiknya. Dia berpikir, kalau memetik bulan tidak berbeda dengan memetik kelapa.

“Soalnya, kalau saja ada pohon bulan, seperti pohon kelapa, aku pasti dapat memetik bulan,” Marto tiba pada kesimpulannya. Setiap malam, yang ditunggu Marto hanya bulan. Saat senja tiba, Marto sudah duduk di beranda depan rumahnya yang di samping kanan kiri dipenuhi rimbunnya pohon cabe yang ditanamnya. Matanya lurus menatap langit. Bercahaya, penuh harapan yang melambung-lambungkan sukmanya. Yang diperhatikannya hanya bulan. “Satu saat, aku pasti akan memetiknya,” katanya pada angin dengan keyakinan setinggi puncak langit.

Pohon paling tinggi dengan batang menjulang, menurut Marto, hanya pohon kelapa. Dia membenci pohon itu. Sudah delapan tahun dia menunggu pohon kelapa di depan rumahnya semakin meninggi. Tapi pohon itu tetap tidak berubah. Hanya berbuah saja. Terkadang juga membuat sampah. Pelepahnya mengering, tua dan jatuh.

“Pohon kelapa itu bikin celaka!” Marto mengambil kapak. Menebangnya penuh kegeraman menghentak. Menutup akar-akarnya dengan tanah. Dia yakin, bila dibasmi hingga ke akar-akarnya sulit untuk tumbuh lagi.

“Kenapa ditebang?!” Sunti, istrinya, memekik sambil menggendong bayi mereka yang masih disusui.

Marto tersenyum puas. “Pohon ini tidak bisa tinggi lagi!”

“Jelas tidak bisa! Semua makhluk punya batas keterbatasan! Apa pun keterbatasan itu! Termasuk pohon itu!”

“Makanya, pohon keparat ini harus kutebang! Aku tidak bisa menaikinya untuk memetik bulan!”

Sunti seharusnya sudah bisa mengerti alasan Marto menebang pohon kelapa itu. Siang malam, yang dibicarakan Marto hanya bulan. Dia sudah malas bekerja. Ladang terbengkalai. Cabe-cabe di sekeliling rumah pun membusuk. Kambing sisa seekor sudah dijual untuk makan. Ajakan bekerja di kota, tidak digubrisnya.

“Aku ingin memetik bulan! Biar aku puas!”

“Tidak mungkin, Pak! Tidak mungkin!”

“Gila! Siapa bilang tidak mungkin?!” geram Marto dengan wajah yang tiba-tiba membuas. “Di negeri ini tidak ada yang tidak mungkin! Lihat saja, ada tunas-tunas liar yang tumbuh sembarangan, berangasan, bikin rusak pemandangan, tapi bisa tumbuh tinggi! Harusnya dihancurkan hingga akar-akarnya! Lihat pohon kelapa itu! Aku yakin, yakin tak akan pernah bisa tumbuh lagi!”

“Tidak ada yang bisa menyamai tinggi pohon kelapa.”

Marto terdiam. Dadanya berombak. Dilihatnya perahu Nabi Nuh berlayar. Matanya membeliak, sarat dengan segala keinginan menari di udara.

“Kalau begitu… aku harus mencari pohon yang lebih tinggi dari pohon kelapa!” desisnya, suaranya keluar laksana gelegak lahar. “Karena, satu-satunya cara untuk memetik bulan, aku harus punya alat untuk memanjatnya!”

Sunti menarik napas, menyimpannya di dadanya yang bergejolak.

“Tidak ada pohon yang sampai ke langit!”

Marto terdiam lagi. Tiba-tiba, udara pecah oleh tawanya, membuih ke segenap penjuru.

“Aku akan mencari pohon bulan, yang berbuah bulan dan akan kupetik sebuah untukmu, Sunti….”

Tawa Marto terus merayapi persada.

***

Marto terus berjalan. Telapak kakinya telah panas. Matahari menggigit. Menelanjangi seluruh pori-pori tubuhnya, memaksa keluar butiran-butiran air kehidupan. Sudah setahun dia berjalan, tapi belum juga ditemukannya pohon bulan.

“Satu saat pasti akan ketemu,” katanya selalu, menghibur diri, penuh keyakinan dengan tangan dikepal kuat-kuat.

Bila malam tiba, Marto berdiri di jembatan paling tinggi. Dia juga membawa sebuah bambu, agar bisa menjolok bulan. Tapi itu belum sampai. Marto berdiri di atas besi jembatan. Menyeimbangkan tubuhnya. Kepalanya menengadah dengan bambu dijolok-jolokkan. Tetap belum sampai. Dia tidak putus asa. Terus berusaha.

“Pak! Awas jatuh!” seruan terdengar dari sebuah BMW yang melintas. Hanya berseru, dan terus melintas.

Marto tidak perduli. Di matanya ada bulan. Dia sudah merasa menggenggam bulan. Dia harus memetiknya. Dua jam lelaki itu berusaha, tapi tetap gagal. Dia melompat turun. Mengusap keringatnya. Tapi tidak berputus asa.

“Kalau begitu, aku tetap harus mencari pohon bulan. Akan kupanjat pohon itu, agar tiba pada ketinggiannya, lalu kupetik bulan, kukeringkan dan kujadikan pajangan di rumah. Hmm… semua orang pasti akan heran, karena satu-satunya bulan di dunia kumiliki. Pasti seluruh orang dari penjuru dunia akan berbondong-bondong ke rumahku untuk melihat bulan.” Marto tersenyum puas. Tapi sekonyong-konyong dia mendengus. “Tidak! Tak seorang pun akan kuberikan kesempatan untuk melihat bulan! Enak saja, aku yang berusaha mereka yang melihat! Jangan-jangan… bulan yang akan kupetik malah disita! Brengsek! Kurangajar! Aku yang susah payah mereka yang akan menikmati hasilnya!”

Marto melangkah lagi. Otaknya terus berpikir. Gumpalan-gumpalan bara memenuhi kepalanya.

“Hhh! Aku harus cepat! Siapa tahu ternyata banyak yang ingin memetik bulan! Bila aku keduluan, artinya, aku tidak akan punya bulan! Orang-orang tidak akan melihat ke keluargaku yang miskin, yang orang desa dan terbelakang! Tidak! Aku harus cepat mendapatkannya!”

Marto terus berjalan.

Dua tahun berlalu. Marto masih terus berjalan. Bertanya ke sana-sini, di mana ada pohon bulan tumbuh. Memandangi sekitarnya seksama, barangkali saja ada tunas-tunas pohon bulan. Tapi tunas itu sulit ditentukan. Marto merasa, lebih baik mencari pohon bulan saja yang telah tumbuh.

Tiba-tiba Marto tiba pada satu pikiran. Mengapa dia tidak menghubungi polisi saja? Polisi kan serba tahu. Serba tinggi. Marto merasa yakin, kalau orang-orang berseragam itu pasti tahu.

Segera dicarinya polisi. Ketika ditemuinya, dia berkata, “Saya Marto. Dari desa. Sudah dua tahun mencari pohon bulan. Karena, saya ingin memetik bulan. Bapak tahu di mana ada pohon bulan tumbuh?”

Polisi itu mengerutkan keningnya. Memandanginya seksama. Marto yang pertama tersenyum, mendadak menarik senyumannya. Dia curiga. Jangan-jangan, polisi itu punya keinginan yang sama. Dan dia telah memberitahukan sebuah rahasia, kalau untuk memetik bulan, harus mencari pohon bulan.

Ini berbahaya. Langkahnya bisa dihadang di tengah jalan.

Marto buru-buru berkata, “Oh, maaf, Pak… Maaf… Tidak jadi nanya. Saya cuma bercanda. Mana ada pohon bulan ya, Pak? Itu cuma khyalan saya saja. Dasar orang kampung ya, Pak. Mari, Pak… Jangan dipikirkan ya? Mari….”

Marto membawa kakinya menjauh. Menyapu debu dan angin. Gawat, kalau ternyata polisi itu punya keinginan yang sama. Marto ingat, kalau dulu dia pernah banyak bertanya pada siapa saja tentang pohon bulan. Oh! Jangan-jangan, saat ini sudah berbondong-bondong orang mencari pohon bulan. Bisa pula mereka telah mempersiapkan segala peralatan. Berarti, dia harus cepat.

Sepuluh tahun berlalu. Marto belum berhasil menemukan pohon bulan. Dia belum bisa memetik bulan. Tapi tidak mati asa.

Satu siang, Marto berdiri di jalan Sudirman. Matanya nanar memandang kendaraan yang lewat. Orang-orang berjalan. Ada yang terburu-buru. Ada yang santai. Ada yang berbisik. Ada yang tertawa. Ada yang cemberut. Ada yang menyiapkan clurit.

Marto tidak perduli. Matanya lekat pada sebuah gedung tinggi. Dari tempatnya, Marto mengukur. Gedung itu lebih tinggi dari pohon kelapa yang dulu tumbuh di depan rumahnya. Satu-satunya tempat tertinggi yang pernah dilihatnya. Marto yakin, dia akan lebih dekat dengan bulan.

Marto menunggu sampai malam tiba tak sabar pula menunggu bulan muncul. Dadanya berdetak lebih kencang, memacu gairah yang meluap-luap. Saat bulan muncul, matanya memicing. Memperhitungkan jarak. Tidak salah. Dia pasti dapat memetik bulan dari gedung itu. Marto kembali merasakan hangatnya bulan dalam genggamannya. Begitu lembut dan penuh udara kedamaian.

Marto menyelinap. Dengan cara yang di luar akal sehat, Marto berhasil tiba di puncak paling tinggi dari gedung yang dilihatnya. Dari tempatnya sekarang, Marto mendesah masygul. Ternyata masih tidak terjangkau. Dia menjolok lagi dengan bambunya. Hanya menampar-nampar angin.

Marto makin menggiat. Aliran darahnya bertambah cepat. Tarikan napasnya mengiringi setiap tetes keringan yang jatuh. Dia terus berusaha sebisa mungkin. Kali ini dia melompat-lompat. Ujung bambunya belum juga menyentuh bulan.

Marto menggeram. Dia harus bisa. Harus dapat! Dia ingin orang-orang berkunjung ke rumahnya, karena benda ajaib satu-satunya di dunia itu, ada di rumahnya. Menjadi miliknya. Dia berjanji, tidak akan mengutip bayaran apa pun.

Marto mencoba lagi. Gagal lagi. Melompat lagi. Tetap gagal.

Marto kembali merasakan bulan dalam genggamannya. Begitu hangat. Matanya lurus ke atas, memandang bulan yang bersinar. Pelan-pelan, kaki-kakinya yang mulai menua melangkah. Mendekati tepian puncak gedung. Marto berpikir, bila dia melompat dengan kekuatan penuh, dia akan bisa menggapai bulan. Bambunya mungkin akan menyentuh sisi bulan. Sekali sentuh, pasti jatuh.

Marto mundur agak jauh. Menarik napas. Tangannya terus merasa telah menggenggam bulan. Tiba-tiba dia bergerak, berlari menyentak diiringi teriakan keras. Begitu tiba di tepian puncak gedung, kedua kakinya memencal. Marto melayang. Bambunya disentakkan ke atas, berusaha menyentuh sisi bulan.

Marto merasa mengenai bagian bulan. Begitu lembut. Tubuhnya yang memencal tadi meluncur turun. Cepat. Deras. Menerjang udara. Menerjang dingin malam. Terus meluncur. Marto tersenyum. Dia yakin, setibanya di bawah, bulan akan menyusul jatuh.

Gravitasi bumi terus menyedotnya, menarik tubuhnya lebih cepat dan  menerpa aspal. Suara terpaannya keras. Para satpam kaget. Mereka berbondong-bondong mencari asal suara. Menemukan Marto yang bergolek dengan seluruh tulang patah dan kepala pecah berlumuran darah.

Salah seorang memegang urat nadinya. Tidak berdenyut. Beberapa orang memandang ke atas. Mencari asal dari mana lelaki ini jatuh. Salah seorang menghubungi rumah sakit. Marto telah meninggal.

Di rumahnya, sejak kepergian Marto, Sunti telah menanam pohon kelapa. Mulai anaknya masih dalam gendongan hingga bisa berjalan, dia menungguinya siang malam. Dia yakin, pohon kelapa itu akan tumbuh menjulang tinggi. Dan… dia akan berusaha memetik bulan. Akan dikabarinya Marto, akan disusulnya dan dikatakannya… kalau di rumah, bulan sudah disimpannya dalam lemari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: